Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
Tampilkan postingan dengan label Kalam Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalam Kitab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Maret 2021

Kisah Syeh Abdul Qadir Jailani dengan Dua Ulama

 

Di waktu menimba ilmu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berteman dengan dua orang yang bisa dibilang cukup cerdas dan pandai yaitu Ibnu Saqa dan Ibnu Abi `Asrun. 


Pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang wali berpangkat wali al-ghouts, rumah wali tersebut cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan pelosok banget. 

Tapi, keinginan mereka untuk bertemu sang wali tidak terhalang walau jarak yang demikian jauh dan sudah barang tentu kunjungan mereka tak lepas dari maksud dan tujuan. 


Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat masing-masing. Dengan polosnya Ibnu Abi `Usrun memulai pertanyaan kepada Ibnu Saqa. “Hei Saqa, kamu mau ngapain bertemu wali itu?”  “Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya, ha.. ha.. Aku ini kan orang cerdas, jadi, sudah sepatutnya menguji kedalaman ilmu seorang wali,” jawabnya.  Tak menunggu lama Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya. 


Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk menjawabnya,” tuturnya.


Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu dari seorang wali. Mungkin karena Syekh Abdul Qadir Al-iJailani tidak segera mengutarakan niatnya, akhirnya mereka berdua bertanya. “Qadir, kamu mau mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?”  “Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya.  Lalu mereka pun bertanya lagi. 


“Lho, terus kamu ini mau apa? Hanya mau mengikuti kami?”  “Saya itu gak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja dan mengharap berkah darinya. Itu saja cukup kok, karena orang seperti ini biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jelas Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dari dialog mereka, kita sudah bisa melihat sifat dan sikap mereka terhadap kekasih Allah SWT.


Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain. Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya. Sesampainya di kediaman wali al-ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya. 


Tapi, sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya. Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya.  “Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Saqa?”  “Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa.  Tak banyak bicara, wali itu pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapannya. 


Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali itu  meng-kasyaf (membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya.  “Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.” 


Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata. “Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.” 


Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang pergilah anakku!” 


Selang beberapa hari dari kejadian aneh itu, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani.


Dalam perjalanan menuju ulama Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa pikir panjang akhirnya dia menemui ayahnya dan menyampakan bahwa dia sungguh mencintainya dan siap berkorban apa pun.  


Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama Nasrani.  


Sedangkan Ibnu Abi `Asrun, diberi jabatan oleh raja di negerinya untuk mengurusi harta wakaf dan sedekah dan jabatan itu datang terus menerus dari seluruh penjuru kota tersebut. Kemudian dia sadar bahwa ini merupakan doa dari wali al-ghouts.  


Sementara Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendapatkan maqam tertinggi dari Allah SWT berkat sikap rendah dirinya kepada seorang wali dan beliau diangkat menjadi raja dari seluruh para wali di muka bumi.  Pada saat mengajar muridnya, dia pun berkata seperti apa yang dikatakan wali al-ghouts, “kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para wali,” dan perkataannya didengar oleh seluruh wali di penjuru dunia, lalu mereka berikrar “sami`na wa atha`na.” 


Ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak.


Sebagaimana perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.     


Dikutip dari Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah (Yaman: Dar al-Ilmi wa ad-Da`wah, 2018) karya Habib Ali Hasan Baharun merupakan bunga rampai dari perkataan-perkataan gurunya, yaitu Habib Zain bin Ibrahim bin Smith. 


Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali, habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam perjalanannya memperoleh gelar sulthanul auliya (raja dari seluruh para wali). 


Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Jl. KHR. Syamsul Arifin, Sukorejo, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Email: hilmikamila241@gmail.com


Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/110340/asal-mula-gelar--raja-para-wali--untuk-syekh-abdul-qadir-al-jailani

Share:

Jumat, 19 Maret 2021

Kejadian Penting Dibulan Sya’ban




Sayyid Muhammad dalam kitab Madza fi Sya’ban menjelaskan, pada bulan Sya’ban terjadi beberapa peristiwa penting. 


1- Di antara peristiwa tersebut ialah peralihan arah kiblat umat muslim yang semula menghadap ke Baitul Maqdis berubah ke arah Ka’bah.


Apa sebab arah kiblat diganti? Mari kita simak penjelasan Al-Razi dalam Tafsir Al-Kabir atau yang dikenal dengan Mafatih al-Ghaib. 


Nabi Muhammad berpandangan bahwa Baitul Maqdis merupakan kiblat orang-orang Yahudi. Nabi pun meminta malaikat Jibril untuk menyampaikan maksudnya kepada Allah swt agar arah kiblat diganti ke arah Ka’bah saja. 


“Wahai Jibril, aku lebih senang jika Allah memalingkanku dari kiblat orang Yahudi. Aku tidak menyukai arah kiblat mereka,” pinta Rasulullah. Jibril menjawab, “Aku pun hamba sepertimu. Akan saya mintakan hal itu untukmu.”


Sembari menunggu hasil negoisasi Jibril, Rasulullah menengadahkan wajahnya ke arah langit, menanti Jibril membawa jawaban setelah menemui Rabb-nya. Jibril kemudian turun dengan membawa wahyu yang memerintahkan agar arah kiblat diganti ke arah Ka’bah. Permintaan Nabi Muhammad saw dikabulkan. Wahyu itu adalah ayat berikut


 قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَأُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ


Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. 

Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

(Al Baqarah 2:144) 


Mengapa Rasulullah saw tidak menyukai jika arah kiblat orang Muslim sama dengan orang Yahudi?


Syekh Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib melanjutkan


الأولأن اليهود كانوا يقولونإنه يخالفنا ثم إنه يتبع قبلتنا ولولا نحن لم يدر أين يستقبل ، فعند ذلك كره أن يتوجه إلى قبلتهم .  

الثانيأن الكعبة كانت قبلة إبراهيم .  

الثالثأنه عليه السلام كان يقدر أن يصير ذلك سبباً لاستمالة العرب ولدخولهم في الإسلام .  

الرابعأنه عليه السلام أحب أن يحصل هذا الشرف للمسجد الذي في بلدته ومنشئه لا في مسجد آخر


Pertama, dulu orang-orang Yahudi berkata, “Muhammad sebelumnya berbeda (arah kiblat) dengan kita, lalu ia mengikuti kami. Andai saja tidak ada kami, pasti ia tidak tahu akan menghadap ke arah kiblat yang mana.” 


Kedua, Ka’bah merupakan kiblat bagi Nabi Ibrahim. 


Ketiga, menurut Rasulullah, jika arah kiblat ke arah Ka’bah, hal ini bisa menyentuh hati orang-orang Arab. Sehingga mereka mau masuk Islam. 


Keempat, kiblat Rasulullah saw menginginkan kemuliaan untuk masjid yang ada di kota beliau, kota kelahiran baginda.

 (Litah Tafsir al-Kabir, juz 4, hlm 121) 


Secara detail, pergantian kiblat terjadi pada hari Selasa di pertengahan bulan Sya’ban. 


Abu Hatim al-Basti mengatakan, 


صلى المسلمون إلى بيت المقدس سبعة عشر شهرة وثلاثة أيام سواء، وذلك أن قدومه المدينة كان يوم الاثنين لاثنتي عشرة ليلة خلت من شهرربيع الأول، وأمره الله عز وجل باستقبال الكعبة يوم الثلاثاء للنصف من شعبان 


Orang muslim pernah shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan tiga hari. Hal ini berdasarkan perhitungan Rasulullah saw tiba di Madinah pada Senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul awwal. Kemudian Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk menggati arah kiblat ke Ka’bah pada hari Selasa pertengahan bulan Sya’ban.” (lihat Madza fi Sya’ban, hlm. 10)


Hikmah Pergantian Arah Kiblat Setiap apa yang Allah ubah (naskh) pasti memiliki hikmah di baliknya. Termasuk diubahnya arah kiblat yang semula menghadap Baitul Maqdis di Palestina, berubah ke arah Ka’bah di Kota Mekah. Lantas, apa hikmahnya? 


Menurut para mufassirin (ulama pakar tafsir), mengatakan bahwa hikmah perubahan arah kiblat diantaranya adalah sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman. Siapa orang yang betul-betul beriman dan sebaliknya. 


Bagi mereka yang betul-betul beriman, instruksi ini langsung mereka patuhi. Tanpa komentar atau pun kritikan. Tapi, bagi mereka yang imannya masih lemah, akan meragukan dan mengira Nabi saw tidak konsisten dengan pendiriannya. Mereka juga sedikit keberatan begitu kiblat diubah.   


Pasalnya, sudah sekian lama menghadap Baitul Maqdis, rasanya berat meninggalkan sesuatu yang sudah terbiasa. Istilah anak zaman now-nya ‘gagal move on’. 


Terkait hal ini,Allah swt berfirman, 


وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ 


 “Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.” 

(QS. Al-Baqarah [2]: 143)


2- Bulan Diangkatnya Amal Perbuatan Seorang Hamba


Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT. 


Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” 

Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.” 


Penyerahan amal yang dimaksud dalam hal ini adalah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. 


Walaupun, menurut Sayyid Muhammad Alawi, ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan. 


Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu. 



3. Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah SAW Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56. 


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


 Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi,

Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” 


Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan. 


Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib-nya, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah



4- Malam Nisfu syakban


Ada beberapa hadits tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban.

 Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: 


إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَارواه أبو دود 


Maknanya: “Jika tiba malam Nishfu Sya’ban, maka shalatlah (sunnah) pada malam harinya (malam lima belas) dan berpuasalah (sunnah) pada siang harinya (hari kelima belas)” (HR. Ibnu Majah) 


Meskipun hadits ini berstatus dla’if, akan tetapi para ulama menyatakan bahwa hadits dla’if boleh diamalkan pada anjuran melakukan keutamaan amal perbuatan dan hadits itu masuk dalam keumuman dalil syara’ yang dapat dipedomani. 

Apalagi Imam Ibnu Hibban menyatakan kesahihan sebagian hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Di antara hadits yang beliau nilai sahih adalah: 

يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍرَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ والطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ 


Maknanya: “Allah merahmati para hamba-Nya di malam Nishfu Sya’ban, maka Ia mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik dan seorang muslim yang ada permusuhan, kedengkian dan kebencian terhadap muslim lain karena urusan duniawi” 

(HR. Ibnu Hibban, At-Thabarani dan Al-Baihaqi)

Share:

Jumat, 15 Juni 2018

DALIL BAGI MUQALLID



كَانَ دَلِيلُ الْمُقَلِّدِ هُوَ قَوْلُ الْمُجْتَهِدِ لَا النُّصُوصُ إذْ اسْتِخْرَاجُ الْأَحْكَامِ مِنْهَا لَيْسَ إلَّا مَنْصِبَ الْمُجْتَهِدِ 
وَقَدْ قَالُوا إذَا تَعَارَضَ النَّصُّ وَقَوْلُ الْفُقَهَاءِ يُؤْخَذُ بِقَوْلِ الْفُقَهَاءِ إذْ يُحْتَمَلُ كَوْنُ النَّصِّ اجْتِهَادِيًّا وَلَهُ مُعَارِضٌ قَوِيٌّ وَتَأْوِيلٌ وَتَخْصِيصٌ وَنَاسِخٌ وَغَيْرُهَا مِمَّا يَخْتَصُّ بِمَعْرِفَتِهِ الْمُجْتَهِدُ البريقة المحمودية جزء أول صـ 86 - 87

Dalil bagi muqallid (orang yang mengikuti pendapat mujtahid) adalah perkataan Mujtahid ,bukan Nash (Alquran dan Hadits). Karena perbuatan Istimbath(mengeluarkan) segala hukum dari Segala Nash adalah orang yang sampai pada posisi Mujtahid.

Dan sungguh berkata para Ulama ; Apabila bertentangan Nash dengan Qaul Fuqaha,niscaya diambilkan rujukan Qaul Fuqaha. Karena Nash Itu ada ihtimal(kemungkinannya) secara Ijtihadi. Dan bagi Nash tersebut ada beberapa pertentangan yang kuat,takwil , takhsis,nasikh, dan selainnya ,yang mana hal ini hanya diketahui oleh para Mujtahid.

Sumber : Kitab Bariqah Mahmudiyah juz 1 hal. 86-87
Share:

Kamis, 14 Juni 2018

Hakikat Hari Raya

 وليس العيد لمن لبس الجديد بل طاعاته تزيد ، ولا لمن تجمل بالملبوس والمركوب بل لمن غفرت له الذنوب

Hari raya bukanlah milik orang yg pakai baju baru tapi bagi orang yg tambah ta'atnya begitu juga bukan milik orang yg bagus pakaian dan kendaraannya akan tetapi bagi orang yg diampuni dosa2nya.



(Kitab Bugyatul Musytarsyidin )
Share:

Rabu, 13 Desember 2017

Ilmu Dan Amal

Alangkah bnyak org yg berilmu...
tp tdk beramal..
Bnyk yg tahu suatu perbuatan maksiat..ttpi blm meninggalkannya...
Sufyan al-Tsauri ditanya, "Mencari ilmu lebih engkau sukai wahai Abu Abdillah, atau justru mengamalkannya?" Beliau menjawab: "Ilmu itu dicari untuk diamalkan. Janganlah engkau tinggalkan mencari ilmu karena alasan mengamalkannya. Jangan pula engkau tinggalkan pengamalan ilmu karena alasan mencari ilmu."

Somoga kita termasuk dlm org yg berilmu wal amal....

(Al-Hafizh Abu Nu'aim, Hilyah al- Auliya', juz 7 hlm 12).
Share:

Rabu, 08 November 2017

Ikhtiyarat Imam Nawawi



Imam Nawawi adalah salah seorang ulama besar dalam Madzhab Syafi'i. Kehebatan beliau dalam meneliti Madzhab Syafi'i diakui oleh para ulama, sehingga beliau dijuluki sebagai Muhaqqiq (pemegang otoritas) Madzhab. Artinya, apa yang beliau sahkan sebagai Madzhab, maka itulah Madzhab yang sebenarnya.

Namun demikian, beliau memiliki beberapa pendapat pribadi yang berseberangan dengan Madzhab. Pendapat-pendapat pribadi tersebut dikenal dengan istilah "ikhtiyarot" yang artinya pilihan.

Berikut ini beberapa ikhtiyarot beliau:

1. Wajib berwudhu karena mengkonsumsi daging unta. Pendapat ini juga selaras dengan madzhab Imam Ahmad.

2. Tidak makruh bersiwak di siang hari bulan Ramadhan secara mutlak. Pendapat ini selaras dengan pendapat Al Muzani (murid Imam Syafi'i) dan juga pendapat mayoritas ulama.

3. Perhitungan masa mengusap Khuf dimulai sejak mengusap pertama kali setelah batal wudhunya. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Daud Az Zhohiri.

4. Orang yang melepas Khufnya atau masa aktif mengusap Khufnya berakhir, padahal wudhunya masih belum batal, maka tidak ada kewajiban membasuh apapun, baik kedua kakinya maupun selain itu. Artinya, wudhunya masih sah dan dia boleh shalat dengannya selama belum batal. Jadi, statusnya sama dengan ketika dia belum melepas Khufnya. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Sulaiman bin Harb dan dipilih oleh Ibnul Mundzir.

5. Boleh menjamak shalat karena sakit.

6. Haram berjimak dengan istri yang sedang haid, tapi tidak apa-apa bersenang-senang dengan bagian tubuh istri antara pusar sampai lutut.

7. Boleh memanjangkan iktidal dengan membaca dzikir selain rukun.

8. Haram melihat bocah kecil yang tampan.

Masih banyak lagi pendapat-pendapat pilihan beliau yang berseberangan dengan Madzhab. Meskipun demikian, bukan berarti beliau telah keluar dari komunitas Madzhab Syafi'i dengan pilihan pribadi tersebut. Beliau tetap menjadi anggota "Very Important Person" (VIP) dalam Madzhab Syafi'i. Karena jumlah pendapat-pendapat pribadi yang beliau pilih itu masih sangat sedikit dibandingkan dengan pendapat-pendapat beliau yang sesuai dengan Madzhab. Beliau juga bukan satu-satunya ulama Madzhab Syafi'i yang memiliki "ikhtiyarot" semacam itu. Selain beliau ada juga ulama lain yang memiliki ikhtiyarot pribadi misalnya Al Qaffal Asy Syasyi, Al Qodhi Al Husain, Al Baghowi, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain. Mereka semua tetap menjadi anggota VIP juga sebagaimana An Nawawi.

Adapun alasan beliau memilih pendapat-pendapat tersebut adalah karena kekuatan dalil yang menurut beliau mengharuskan meninggalkan Madzhab dan mengikuti dalil. Atau karena pilihan tersebut demi kemudahan umat dan orang-orang awam, khususnya ketika Madzhab menetapkan pendapat yang berat dan menyulitkan padahal dalilnya tidak shahih.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish showab.

Rujukan: "Al Madkhol Ila Madzhabil Imam Asy Syafi'i", Fahd Abdullah Al Hubaisyi, 47-48.
Share:

Mengaku Mujtahid

Akhir zaman ini banyak Orang-orang yang belum Mumpuni ilmu Agama Islam sudah berani Menghukumi suatu masalah berdasarkan pemikiran mereka sendiri yang mereka dapatkan dari terjemahan satu-dua Hadits Nabi tanpa memandang Kaidah-kaidah yang telah ditetapkan Oleh para Ulama terdahulu. 



Padahal keilmuan Orang-orang pada Zaman Akhir(kurun setelah Imam Empat Madzhab) sangat jauh dibanding para ulama terdahulu, orang-orang sekarang banyak yang tidak fair dalam menggunakan hadits, semangat dalam berfatwa hanya dengan beberapa hadits tapi mengabaikan Hadits-hadits lain yang jauh lebih harus dipertimbangkan, Hafal satu dua Hadits saja sudah Berikrar Menjadi Ustadz dan berani meng bid’ah-bid’ahkan suatu golongan Mayoritas, padahal Kalau kita lihat sejarah Para Ulama Salaf, mereka Hafal ratusan ribu Hadits akan tetapi mereka tetap bermadzhab dan menhukumi masalah berdasarkan ijtihad Imam Madzhab.

Jauh-jauh Hari para Ulama sudah memperingatkan kepada Umat untuk Berhati-hati dalam menyampaikan agama Islam, salah satunya yang disampaikan dalam Kitab Bughyatul Musytarsyidin Berikut Ini:

ـ (مسألة: ك): شخص طلب العلم، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه، وكان ذا فهم وذكاء، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم، ولم يلتزم مذهباً، بل عدل إلى الاجتهاد، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة، وكيف أخذ هو ما يخالفها؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي: الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين: أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي: مستقل، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد ـ اهـ بغية المسترشدين ص ٦ المرجع الأكبر




‘’Ada orang orang yang pandai dan cerdas, banyak mempelajari kitab kitab karangan ulama salaf, baik itu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqih, kemudian menghukumi suatu masalah dengan pendapatnya sendiri, maka orang yang seperti ini adalah orang yang sesat dan menyesatkan yang justru menjauhkan dari pokok agama yang benar dan jalan Pemimpin para Rasul yaitu Nabi Muhammad Saw.

Mereka menolak kitab kitab ulama salaf yang yang notabene adalah ahli ilmu, mereka menyuarakan tentang tidak wajibnya bermadzhab dan mengarahkan kepada pemahaman agama dari hasil ijtihadnya sendiri, mereka mengaku beristinbath(menggali Hukum) langsung kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman sendiri, sedang mereka tidak memenuhi kriteria syarat syarat berijtihad yang sudah masyhur bagi ahli ilmu, mereka mewajibkan masyarakat untuk mengikuti hasil ijtihad mereka 
Maka untuk orang orang yang seperti diatas (yang mengaku ngaku berijtihad langsung / menggali hukum langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah) wajib atas mereka bertaubat dan kembali kepada jalan kebenaran (sesuai pemahaman mayoritas ulama salaf) dan masyarakat wajb menolak ajakan mereka yang bathil.

Apabila kitab-kitab karangan para ulama salaf dikesampingkan (tidak dipakai), maka dengan apa seseorang memahami agama ini yang selanjutnya dipakai untuk pedoman hidup ?
Padahal dia tidak bertemu langsung dengan Nabiyyuna Muhaamad  SAW, juga tidak bertemu dengan para Sahabat Nabi ,
Bila kebetulan dia mempunyai sesuatu kitab karangan ulama salaf lalu dia mempelajarinya sendiri, lalu dalam proses memahami kitab tersebut dia salah pemahaman , maka kepada siapa dia akan minta petunjuk untuk membenarkan pemahamannya ? Silakan jelaskan kepada kami !

Sesungguhnya kitab kitab karya para Imam Agung empat Madzhab dan para ulama yang taqlid (mengikuti) kepada mereka, Sumbernya adalah Al-Qur'an dan Sunnah,
Bagaimana proses ijtihadnya sehingga menyelisihi pendapat pendapat mereka ?
Kenapa mereka mereka yang saat ini mengaku berijtihad langsung dan kembali kepada Al-Qur'an da Sunnah menghasilkan pendapat dan pemikiran yang sangat jauh dari para Imam Madzhab  yang empat diatas ?

Berkata Al-Imam Asy-Syaikhoni dan pendahulu mereka Al-Imam Al-Fakhrur Rozi : Orang-orang  zaman sekarang ini ibarat perkumpulan banyak orang hanya saja tidak ada mujtahid di dalamnya.

Syaikh Ibnu Hajar menuqil fatwa dari sebagian para Ahli Ushuluddin: Sesungguhnya setelah kurun masa Imam Syafi'i tidak ditemukan lagi seorangpun yang mencapai derajat mujtahid mustaqil (Mujtahid yang menggali langsung Al-Qur'an da Sunnah).

Contoh terdekat , Imam As-Suyuthi yang dikenal luas ilmunya dan mengusai berbagai fan ilmu, beliau berijtihad dengan nisbi (mengikuti pendapat dari Imam Syafi'i), bukan seorang mujtahid mustaqil, kenapa beliau tidak berani ? padahal kitab kitab karangan beliau sangat banyak , tidak kurang dari 500 (lima ratus) kitab .

Sesunguhnya orang orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya seorang mujtahid mustaqil dan menganggap hasil ijtihad mereka benar , hal itu tidak diperbolehkan, walaupun mereka memastikan bahwa mereka adalah seorang mujtahid mustaqil, seperti layaknya mujtahid zaman dahulu’’.


Share:

Selasa, 07 November 2017

CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A



‎و كان رضي الله عنه ينهى من رآه مفرقا بين كفيه عند رفعهما للدعاء و يأمر بجمعهما و إلصاق كل منهما بالآخر كأنه يتناول شيئا يخاف عليه أن يسقط من بين كفيه و ينزل العطاء الإلهي المعنوي.
‎(مجموع الكلام للحبيب عيدروس بن عمر الحبشي ص ٤٣٧)

Al-Habib Al-Imam Idrus bin Umar Al-Habsyi melarang seseorang yang dilihat beliau saat berdoa dia memisahkan kedua telapak tangannya saat diangkat untuk berdo'a dan beliau memerintahkan untuk mendempetkan kedua telapak tangan dan menempelkannya satu sama lain sehingga seakan-akan dia menadah sesuatu dan takut sesuatu tersebut jatuh dari kedua telapak tangan, dan jatuh pula demikian pemberian Allah yang maknawi.

Dari kitab : Majmu' kalam Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi Hal. 437.

‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh...

Aamiiiiiin
Share:

Pentingnya Menyandarkan Kalam Kepada Pengucapnya



Berkata al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah:

■ “Dikatakan; Sesungguhnya termasuk daripada barakahnya ilmu adalah menyandarkan sesuatu (dari faedah ilmiyyah) kepada pengucapnya.” [Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlih, 2/922]

❱ Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

■ “Maka barangsiapa hendak menukil satu ucapan dari suatu kelompok (orang), hendaknya dia menyebutkan nama pengucapnya dan penukilnya. Jika tidak demikian, maka setiap orang sanggup untuk berdusta.” [Minhaju Sunnah, 2/518]

❱ Berkata Ibnul Mubarak rahimahullah:

■ “Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena adanya sanad, niscaya setiap orang akan berbicara (dalam agama) apa yang dia mau.” [Al-Majruhin, 1/181]

❱ Berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullah:

■ “Dan termasuk dari nasehat adalah menyandarkan faedah yang berbobot kepada pengucapnya.
(✔️) Barang siapa berbuat demikian, niscaya teberkahi usaha dan kondisi (diri)nya.
(✘) Dan barang siapa yang menyamarkannya dan menyamarkan pada apa yang dia ambil dari ucapan selainnya (agar terkesan) sebagai ucapannya, maka sudah sepantasnya untuk tidak terambil manfaat dari ilmunya dan tidak pula teberkahi dalam kondisi (diri)nya.” [Bustanul 'Arifin, 29]


[ ● ] لماذا نطالب الناس بذكر المصدر؟

[ التثبت من الأدلة وذكر المصدر ونسب الكلام إلى قائله ]

❱ قال الإمام ابن عبد البر رحمه الله:

■ { يقال إن من بركة العلم أن تضيفَ الشيء إلى قائله. } [الجامع، ٢/٩٢٢]

❱ قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

■ { فمن اراد ان ينقل مقالة عن طائفة فليسم القائل والناقل ، وإلا فكل أحد يقدر على الكذب. } [منهاج السنة، 518/2]

❱ قال ابن المبارك رحمه الله:

■ { الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال مَنْ شاء ما شاء. } [المجروحين، 1/181]

❱ قال الإمام النووي رحمه الله:

■ { ومن النّصيحة أن تضاف الفائدة الّتي تستغرب إلى قائلها، فمن فعل ذلك بورك له في علمه وحاله، ومن أوهم ذلك وأوهم فيما يأخذُ من كلام غيره أنه له، فهو جدير أن لا يُنْتفَع بعلمه، ولا يباركُ له في حاله. } [بستان العارفين، ص 29]

Share:

Adab Memperbaiki Kesalahan Kitab

Ibnu Shalah berkata:
Sebaiknya, bagi pembaca ketika menemukan kekuarangan (seperti titik) dan kesalahan dalam lafad pada kitab yanh dibaca, jangan diperbaiki atau dibenarkan di temat lafad itu. Ditakutkan, ternyata yang dianggap kurang atau salah malah sebaliknya. Akan tetapi, kalau ingin memperbaiki silahkan diletakkan di pinggiran halaman kertas tersebut dengan cara menambahkan kalimat ‘shad’ dan ‘hak’ diatas lafad yang ditulis. Kalimat perbaikannya bisa dari diri sendiri, atau menukil dari kitab lain.

Hal ini dimaksudkan agar kita tetap membiarkan orang lain membacanya dengan naskah dan teks aslinya. Tidak memutus jalan orang lain, tidak merubah pendapat orang lain, dan supaya tidak seolah-olah kita menyetir orang lain dalam memahami ilmu atau informasi tersebut.

-Syekh Ali Jum’ah

Share:

Beda Matan ,Syarah dan Hasyiyah



#الفرق_بين_المتن_والشرح_والحاشية_والتعليق

قبل ذكر بعض الحواشي على الشروح الأربعة لكتاب منهاج الطالبين أحببت قبل ذلك أن أوضح الفرق بين المتن والشرح والحاشية، حتى يكون الطالب على دراية وعلم، وبعد ذلك اشرع في ذكر بعض الحواشي في منشور مستقل يأتي تباعاً )إن شاء الله)...
#المتن:
وهو أصل الكتاب الذي وضعه المصنف (كمنهاج الطالبين للإمام النووي) ويكون مختصراً في الغالب، مع عبارات ذات معاني غزيرة...

#الشرح:
ويكون متأخر زمناً عن المتن، ويصنفه المصنف لتوضيح العبارات وبيان القيود، ودعم المتن بالدليل، والإستدراك والاعتراض (في بعض الأحيان) وفيه عدة طرق:
1_ أخذ قطعة من المتن ووضعها في الأعلى، ويشرح تحتها...
2_ دمج المتن في الشرح، بحيث يكون الكلام كأنه جملة واحد فلا فصل بينه...
3_ تناول الموضوع جملة واحدة، وهو الذي يسمى بالشرح الموضوعي، فمثلاً يأخذ فصل فرائض الوضوء ويتكلم عنها بالتفصيل دون تقيده بالأصل(المتن)...
ويمكن أن يستغني عن المتن عند القراءة؛ لأنه متضمن في الشرح غالباً...

#الحاشية: 
وتكون متأخرة عن الشرح من حيث الزمن، وتوضع للإستدراك على الشرح، أوزيادة في توضيحه، أو بيان شيء من القيود، أو ازالة لبس، أو يأتي بفائدة لها علاقة بعيدة...الخ، فتسمى مجازاً (بشرح الشرح) ولكن الحقيقة ليست كذلك...
وتجعل في الغالب على جهة جانب الصفحات أو أسفلها 
(ولذلك سميت حاشية) لأن الكتاب يحشا بها...
وفي الغالب لا تتناول جميع عبارات الشارح، ولكن يأخذ من الشرح ما يحتاج إلى بيانه أو التعقيب عليه، وقد يتناول في بعض الأحيان شيء من المتن، لذلك لا يمكن في الغالب أن تقرأ الحاشية دون الرجوع إلى الكتاب...

#التقريرات:
وتكون متأخرة زمناً عن الحاشية، ويصنفها المصنف في الاعتراض على الحاشية أو إزالة لبس أو استدراك عليها، وقد يتجاوز الحاشية إلى الشرح أو إلى عبارة المتن (في بعض الأحوال) ويمكن أن يطلق عليها مجازاً (شرح شرح شرح)...
#ملاحظة: في الغالب لا تنشر الحواشي والتقريرات إلا بعد موت مصنفها، لأنه يكتبها على اطراف الكتاب، لنفع نفسه، فيتلقفها طلابه أو من يحضى بها من بعده فينشرها...
والله المستعان...ش
Share:

Senin, 06 November 2017

Habib Di Anjong



Kisah pertemuan Waliyullah Teungku di Anjong (Habib Abubakar bin Husein Bilfaqih) BERJUMPA LANGSUNG dengan Rasulullah SAW di mesjid Madinah Al-Munawwarah.

Karena beliau sempurna mengamalkan kitab Bidayatul Hidayah, disebutkan dalam kitab Manhajus Sawi karangan Al-'Alamah Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith, pada halaman 259-260 sebagai berikut:

بداية الهداية، للإمام الغزالي :
قال الحبيب علي بن محمد الحبشي نفع الله به : بداية الهداية كتاب عظيم جمع العلم الظاهر والباطن، وهي بداية توصل الى النهاية، وقد اوصلت كثيرا بالعمل بها من الناس الى الإجتماع بالنبي صل الله عليه وسلم يقظة، وكان سلفنا يتعاهدون على العمل بما في "البداية"  والثلاثة الذين أقاموا بالمدينة المنورة وتعاهدوا على العمل بما في "البداية" : الحبيب عبد الرحمن بن مصطفى العيدروس والحبيب شيخ بن محمد الجفري، والحبيب أبو بكر بن حسين بلفقيه، ووفوا بالعهد حتى اجتمعوا بالنبي صل الله عليه وسلم يقظة، قال سيدنا القطب عبد الله بن علوي الحداد نفع الله به.


Tgk di Anjong sebenarnya ulama sekaligus wali, marga beliau bilfaqih krn keluarga bilfaqih sangat menguasai ilmu fiqih.
beliau mnjadi wali setelah bertemu langsung dgn nabi saw. 

sanad beliau jg tercatat didalam kitab syekh yasin alfadani, ulama yg bergelar musnid dunya.

Jadi Tgk di Anjong (hb abubakar bilfaqih) berguru kpd Allamatud dunya habib Abdurrahman bin abdullah bilfaqih, hb abdurrahman bilfaqih berguru kpd imam haddad sohibur ratib, dan terus sampai ke Rasulullah Saw.

dan teman Tgk di Anjong yg di Malabar india habib syekh aljufri berguru kpd hb Hasan bin Abdullah bin Alwi alhaddad.



salah satu karomah beliau waliyullah tgk di anjong, beliau merubah pasir menjadi perak, dan perak2 itu dikasih kpd sultan Aceh untuk bayar hutang kerajaan aceh.
Share:

Kategori Artikel