Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)
Tampilkan postingan dengan label Biografi ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2022

TEUNGKU CHIK DI AWE GEUTAH


Di Desa Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, ada rumah adat asli Atjeh yang masih berdiri kokoh walau usianya sudah ratusan tahun lamanya. Namun, dibalik itu banyak yang tidak mengetahui riwayat tentang pendirinya, Teungku Chik Awe Geutah, seorang ulama yang sangat berperan dalam mengembangkan agama Islam di Atjeh.
Sayangnya jasa-jasa Teungku Awe Geutah seperti terlupakan. Belum ada sejarawan yang menulis riwayat tentang ulama Sufi itu. Kebanyakan mereka hanya datang untuk melihat pesona Rumoh Atjeh yang masih terpelihara keasliannya sampai kini. Tanpa ada yang mau peduli untuk mengabadikannya untuk kita kenang sepanjang masa. Sehingga dikhawatirkan sejarah tentang tokoh ulama besar Atjeh tersebut akan punah ditelan masa.
Pihak keluarga Teungku Chik Awe Geutah sendiri sudah banyak yang tidak mengetahui lagi secara mendetail tentang riwayat ulama yang dikenal keramat itu. Makanya untuk menulis kisah tentang Teungku Chik Awe Geutah sangat sulit. Sebab, tidak ada literatur atau referensi sebagai pedoman untuk menguatkan kebenaran penulisan sejarahnya itu.
Untunglah ada seorang peminat sejarah, khususnya tentang riwayat Teungku Chik Awe Geutah, yang masih tersisa di sana. Namanya Teungku Syamaun Cut alias Cut Teumeureuhom. Sebenarnya dia bukan bukan keturunan Teungku Chik Awe Geutah. Tapi kakeknya dulu pernah tinggal bersama anggota keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah.
Dari cerita-cerita kakeknya itulah dia banyak mengetahui sejarah Teungku Chik Awe Geutah. Malah buruh kilang padi itu punya dokumentasi khusus, dan mengetahui silsilah Teungku Chik Awe Geutah sampai tujuh keturunan hingga saat ini. Nah, tulisan ini berdasarkan penuturannya kepada saya beberapa waktu lalu di bawah rumah Atjeh tersebut. Keterangan laki-laki berusia 70 tahun itu, juga dibenarkan beberapa anggota keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah yang mendampingi kami ketika itu.
Dikisahkan Cut Teumeuruhom, Teungku Chik Awe Geutah bernama asli Abdul Rahim bin Muhammad Saleh. Dia seorang ulama Sufi, yang berasal dari Kan’an, Iraq. Kemudian merantau dan menetap di Desa Awe Geutah, sampai dia meninggal di sana. Namun tidak diketahui persisnya tahun berapa dia pertama kali menginjakkan kaki di desa pedalaman Kecamatan Peusangan Siblah Krueng itu. Di batu nisannya pun tidak tertera tahun meninggal ulama besar tersebut.
Perjalanannya mencari Awe Geutah sebagai tempat menetap, sekaligus mengembangkan agama Islam yang aman dan damai, punya kisah tersendiri. Syahdan sekitar abad ke 13 yang lampau, Abdul Rahim bin Muhammad Saleh sekeluarga, serta tiga pria saudara kandungnya, dan sejumlah pengikutnya melakukan hijrah.
Mereka meninggalkan tanah kelahirannya.Sebab, waktu itu ada pertentangan antar pemeluk agama Islam di sana, meyangkut perbedaan khilafiyah. Untuk menghindari perselisihan yang bisa berakibat perpecahan antar pemeluk agama Islam itulah Abdul Rahim bersama keluarga dan para pengikutnya berinisiatif melakukan hijrah ke tempat lain.
Pencarian untuk mendapatkan negeri yang aman dan tenteram itu, membuat mereka harus menyingggahi beberapa tempat. Pertama Abdul Rahim beserta rombongan mendarat di kepulauan Nicobar dan Andaman di Samudera Hindia. Kemudian singgah di pulau Weh. Lalu ke pulau Sumatera, yang waktu itu mereka menyebutnya pulau Ruja. Di pulau tersebut mereka menetap beberapa saat di Gampong Lamkabeu, Atjeh Besar.
Merasa belum menemukan tempat yang cocok sebagai tempat menetap, lalu mereka melanjutkan lagi pelayaran. Namun seorang saudara kandung Abdul Rahim tidak mau lagi melanjutkan perjalanan. Namanya tidak diketahui persis. Dia saat itu sudah memantapkan pilihan hatinya untuk bertahan di sana. Konon kabarnya dia kemudian menetap di Tanoh Abee. Di sana dia membangun tempat pengajian. Kelak dia lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Tanoh Abee.
Sedangkan pengikut rombongan Abdul Rahim kemudian melanjutkan pengembaraannya. Rombongan tersebut akhirnya mendarat di Kuala Jangka (Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen-red). Sebab, mereka melihatdi situ banyak pelayar yang singgah. Di sana mereka mendapati beberapa toke dari India yang melakukan transaksi penjualan pinang di Kuala Jangka. Salah satunya bernama Cende. Dia mengaku kepada Abdul Rahim, sudah sering pulang-pergi ke Kuala Jangka. Waktu itu Kuala Jangka sudah menjadi pelabuhan yang maju, dan disinggahi para pedagang dari berbagai negara.
Rombongan Abdul Rahim kemudian menetap di Asan Bideun (Sekarang Desa Asan Bideun, Kecamatan Jangka-red). Mereka tinggal beberapa waktu dan mendirikan balai pengajian untuk mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada penduduk di sana. Suatu hari Abdul Rahim melihat beberapa perempuan setempat, termasuk istrinya, yang kemudian dikenal dengan nama Teungku Itam, pulang mencuci di sungai dengan berkemben (memakai kain yang menampakkan bagian dada atas). Melihat pemandangan yang tidak biasanya itu, Abdul Rahim punya firasat lain. Dia berkesimpulan, Asan Bideun bukanlah tempat yang cocok sebagai tempat mereka menetap. Negeri itu sudah laklim.
Lalu mereka sepakat pindah ke tempat lain. Kali ini rombongan terpecahb lagi, mereka terbagi tiga kelompok. Satu kelompok yang dipimpin adiknya Abdul Rahim menuju Paya Rabo dan menetap di sana (Sekarang Desa Paya rabo masuk wilayah Kecamatan Sawang, Kabupaten Atjeh Utara). Kelompok yang dipimpin adiknya yang lain pergi dan menetap di Pulo Iboh (Sekarang masuk wilayah Kecamatan Jangka).
Sedangkan satu kelompok lagi yang dipimpin Abdul Rahim sendiri hijrah ke Keudee Asan (Sekarang masuk wilayah Kecamatan Peusangan Selatan). Di sana rombongan tersebut sempat menetap beberapa waktu, dan mengadakan pengajian bagi penduduk setempat.
Namun setelah sekian lama menetap di Keudee Asan, dia merasa tempat itu belum cocok untuk dijadikan tempat menetap yang benar-benar sesuai keinginannya. Untuk itulah Abdul Rahim melaksanakan shalat istikharah empat malam berturut-turut, untuk memohon petunjuk dari Allah, dan harus naik ke atas bukit menghadap empat arah penjuru mata angin.
Malam pertama setelah Abdul Rahim melaksanakan shalat istikharah tengah malam, dia naik ke sebuah bukit yang cukup tinggi, namanya Gle Sibru (Sekarang masuk wilayah Desa Cibrek, Kecamatan Peusangan Selatan). Di atas bukit itu Abdul Rahim berdiri menghadap ke arah selatan. Agak lama juga dia menatap ke sana, namun tidak tampak apa-apa. Yang terlihat hanya pucuk labu. Konon kabarnya, pucuk labu yang dilihat Abdul Rahim itu adalah Desa Geulanggang Labu, Kecamatan Peusangan Selatan sekarang.
Malam kedua, setelah shalat istikharah, Abdul Rahim naik lagi ke atas bukit tersebut. Kali ini dia menghadap ke arah barat, tapi dia tidak melihat apapun. Malam berikutnya dia juga melakukan hal yang sama, dengan menghadap ke arah utara. Hasilnya tetap nihil, tidak mendapatkan petunjuk apa-apa.
Baru pada malam keempat Abdul Rahim mendapatkan hasilnya. Ketika dia menghadap ke arah timur, pandangan matanya terlihat sesuatu. Seberkas cahaya putih bersih dia lihat menyembul di sana. Abdul Rahim berkeyakinan, di daerah sembulan kilauan cahaya itulah tempat yang aman dan damai sebagai tempat tinggal yang permanen.
Maka keesokan harinya mereka langsung berangkat menuju ke daerah asal cahaya tadi. Singkat cerita, sesuai petunjuk Abdul Rahim yang memimpin perjalanan, tibalah mereka di sebuah tempat yang diyakininya sebagai daerah asal cahaya itu.
Saat itu, di sana masih berhutan belantara. Kemudian hutan-hutan itu mereka tebang dan bersihkan untuk dijadikan perkampungan. Suatu hari sambil melepas lelah, setelah capek bergotong-royong, Abdul Rahim menanyakan pada rekan-rekannya, apa nama yang cocok ditabalkan untuk tempat pemukiman baru itu. Ada beberapa nama yang diusulkan mereka, tapi dirasakan tidak ada yang cocok.
Seorang di antara mereka, sambil duduk-duduk membersihkan getah rotan yang lengket di tangannya, mengusulkan sebuah nama. “Untuk apa capek-capek memikirkan nama. Bagaimana kalau kita namai saja Awe Geutah?” tanya orang itu. Usulan itu pun diterima Abdul Rahim dan rekan-rekan mereka yang lain. Nah, sejak saat itulah tempat pemukiman baru mereka itu dinamakan Awe Geutah.
Share:

Rabu, 24 Maret 2021

Kisah Syeh Abdul Qadir Jailani dengan Dua Ulama

 

Di waktu menimba ilmu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berteman dengan dua orang yang bisa dibilang cukup cerdas dan pandai yaitu Ibnu Saqa dan Ibnu Abi `Asrun. 


Pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang wali berpangkat wali al-ghouts, rumah wali tersebut cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan pelosok banget. 

Tapi, keinginan mereka untuk bertemu sang wali tidak terhalang walau jarak yang demikian jauh dan sudah barang tentu kunjungan mereka tak lepas dari maksud dan tujuan. 


Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat masing-masing. Dengan polosnya Ibnu Abi `Usrun memulai pertanyaan kepada Ibnu Saqa. “Hei Saqa, kamu mau ngapain bertemu wali itu?”  “Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya, ha.. ha.. Aku ini kan orang cerdas, jadi, sudah sepatutnya menguji kedalaman ilmu seorang wali,” jawabnya.  Tak menunggu lama Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya. 


Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk menjawabnya,” tuturnya.


Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu dari seorang wali. Mungkin karena Syekh Abdul Qadir Al-iJailani tidak segera mengutarakan niatnya, akhirnya mereka berdua bertanya. “Qadir, kamu mau mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?”  “Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya.  Lalu mereka pun bertanya lagi. 


“Lho, terus kamu ini mau apa? Hanya mau mengikuti kami?”  “Saya itu gak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja dan mengharap berkah darinya. Itu saja cukup kok, karena orang seperti ini biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jelas Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dari dialog mereka, kita sudah bisa melihat sifat dan sikap mereka terhadap kekasih Allah SWT.


Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain. Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya. Sesampainya di kediaman wali al-ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya. 


Tapi, sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya. Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya.  “Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Saqa?”  “Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa.  Tak banyak bicara, wali itu pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapannya. 


Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali itu  meng-kasyaf (membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya.  “Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.” 


Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata. “Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.” 


Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang pergilah anakku!” 


Selang beberapa hari dari kejadian aneh itu, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani.


Dalam perjalanan menuju ulama Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa pikir panjang akhirnya dia menemui ayahnya dan menyampakan bahwa dia sungguh mencintainya dan siap berkorban apa pun.  


Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama Nasrani.  


Sedangkan Ibnu Abi `Asrun, diberi jabatan oleh raja di negerinya untuk mengurusi harta wakaf dan sedekah dan jabatan itu datang terus menerus dari seluruh penjuru kota tersebut. Kemudian dia sadar bahwa ini merupakan doa dari wali al-ghouts.  


Sementara Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendapatkan maqam tertinggi dari Allah SWT berkat sikap rendah dirinya kepada seorang wali dan beliau diangkat menjadi raja dari seluruh para wali di muka bumi.  Pada saat mengajar muridnya, dia pun berkata seperti apa yang dikatakan wali al-ghouts, “kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para wali,” dan perkataannya didengar oleh seluruh wali di penjuru dunia, lalu mereka berikrar “sami`na wa atha`na.” 


Ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak.


Sebagaimana perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.     


Dikutip dari Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah (Yaman: Dar al-Ilmi wa ad-Da`wah, 2018) karya Habib Ali Hasan Baharun merupakan bunga rampai dari perkataan-perkataan gurunya, yaitu Habib Zain bin Ibrahim bin Smith. 


Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali, habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam perjalanannya memperoleh gelar sulthanul auliya (raja dari seluruh para wali). 


Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Jl. KHR. Syamsul Arifin, Sukorejo, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Email: hilmikamila241@gmail.com


Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/110340/asal-mula-gelar--raja-para-wali--untuk-syekh-abdul-qadir-al-jailani

Share:

Jumat, 12 Maret 2021

Benarkah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari Mantan Ulama Mu’tazilah?

Selama ini terdapat sebuah pertanyaan besar di hati umat Islam khususnya penganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah, “Benarkah Imam Abu Hasan al-Asy’ari selaku pembesar mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah pernah menjadi bagian dari golongan ulama Mu’tazilah?”   


Dalam hal ini, Dr Jamal Farouq ad-Daqqad selaku dekan fakultas dakwah Universitas al-Azhar yang juga salah satu ulama negara Mesir yang getol membela paham Aswaja menolak hal ini. Dalam salah satu kajian Aswaja yang digelar di kota Kairo, Jamal Farouq menyatakan keraguannya atas beberapa sumber sejarah yang menyatakan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi ulama sekte Mu'tazilah selama 40 tahun.


 Dr. Jamal Farouq ad-Daqqaq menyebutkan secara logika akal ada tiga pertanyaan besar untuk melemahkan tuduhan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi pembesar ulama sekte Mu'tazilah, yaitu:   


Pertama, seandainya kita membenarkan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi ulama yang mengajarkan paham Mu'tazilah selama 40 tahun di kota Bashrah bersama ayah tiri beliau yang bernama Syekh Ali al-Juba’i, maka di sini kita harus bertanya “Siapakah ulama Mu'tazilah yang pernah belajar ajaran Mu'tazilah di bawah asuhan Imam Abu Hasan al-Asy’ari?”   


Sejarah menyebutkan bahwa kota Bashrah adalah salah satu pusat kajian keilmuan umat Islam di masa lalu. Sehingga, sangat aneh bila tidak ada satu pun ulama sekte Mu'tazilah di kota Bashrah yang menyebut Imam Abu Hasan al-Asy’ari sebagai guru mereka dalam memahami paham Mu'tazilah. 


Setidaknya, seandainya Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi guru besar sekte Mu'tazilah niscaya akan ada beberapa ulama Mu'tazilah yang mengakui Imam Abu Hasan al-Asy’ari sebagai guru sekte Mu'tazilah dalam karya tulis mereka. Bahkan, sangat mungkin para ulama Mu'tazilah memuji Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam karya-karya mereka sebagai guru besar sekte Mu'tazilah.   Pada kenyataannya, tidak ada satu pun ulama Mu'tazilah yang menyatakan pernah belajar ajaran Mu'tazilah kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari.   


Kedua, seandainya kita membenarkan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi ulama yang membela paham Mu'tazilah, maka di sini kita harus bertanya, “Adakah buah pemikiran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam paham Mu'tazilah yang diabadikan dalam khazanah pemikiran sekte Mu'tazilah?”   


 Sejarah menyebutkan bahwa setiap pemikiran para ulama besar di masa lalu pasti terekam dalam karya tulis. Setidaknya setiap pemikiran seorang ulama besar akan dinukil oleh murid-muridnya ataupun sejawatnya dalam karya tulis mereka. Di sisi lain, sangat mungkin seorang ulama akan mengabadikan pemikirannya dalam wujud karya tulis dan hal ini tentu dapat dilacak oleh sejarah. 


Sebagaimana kita tahu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah menuliskan pendapat lama beliau (qaul qadim) dalam kitab ar-Risalah. Dan meskipun pendapat lama ini beliau tinggalkan tetap saja sejarah dapat melacak pendapat lama yang beliau tinggalkan karena ada sumber tulisan murid-murid imam Syafi’i yang merekam hal tersebut.   


Pada kenyataannya, Imam Abu Hasan al-Asy’ari tidak memiliki satupun buah pemikiran dalam sekte Mu'tazilah yang terekam sejarah. Sehingga, sungguh aneh seandainya Imam Abu Hasan al-Asy’ari diyakini pernah menjadi pembesar ulama Mu'tazilah tanpa satu pun buah karya pemikiran ataupun pendapat yang dinukil oleh para ulama Mu'tazilah yang sezaman dengan beliau.   


Ketiga, seandainya Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi pembesar ulama Mu'tazilah niscaya rekam jejak beliau akan tercatat dalam kitab kumpulan biografi ulama Mu'tazilah. Kita tahu bahwa dalam kitab kumpulan biografi seperti kitab Thabaqat al-Mu’tazilah karya Ahmad bin Yahya bin al-Murtadhq di sana banyak tercatat biografi para ulama Mu'tazilah di masa lalu. 


 Kita melihat tokoh yang sezaman dengan Imam Abu Hasan al-Asy’ari seperti Ibnu Rawandi (w. 936 M), mantan ulama Mu'tazilah yang beralih menjadi ateis sekalipun juga tercatat pemikiran dan rekam hidupnya dalam kitab-kitab ulama Mu'tazilah. Maka sungguh aneh bila Imam Abu Hasan al-Asy’ari, seorang tokoh Aswaja yang disebutkan pernah menjadi ulama besar sekte Mu'tazilah tidak pernah sekali pun terekam dalam kitab-kitab kumpulan biografi ulama Mu'tazilah.   


Walhasil, Dr Jamal Farouq ad-Daqqad menegaskan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari adalah salah satu ulama Aswaja yang murni dan tidak sedikit pun tercemari oleh pemikiran Mu'tazilah. Hal ini dibuktikan dengan masa kecil Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang diasuh langsung oleh Syekh Zakaria as-Saji, seorang ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah.   


Adanya Imam Abu Hasan al-Asy’ari bersinggungan dengan pemikiran sekte Mu'tazilah adalah karena Imam Abu Hasan al-Asy’ari tumbuh bersama Syekh Ali al-Juba’i, seorang ulama Mu'tazilah yang menikahi ibunya setelah wafat ayah beliau. Akan tetapi hal ini tidak sedikit pun mengubah kecondongan beliau terhadap paham Ahlussunnah wal Jama’ah.   Hal ini terbukti dengan beberapa kali Imam Abu Hasan al-Asy’ari mendebat pemikiran Syekh Ali al-Juba’i selaku ayah tiri beliau sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Asakir dalam kitab Tabyiin Kadziib al-Muftari:   


ولا شك أن دين أبي الحسن رحمه الله متين وتبرأه من مذهب المعتزلة ظاهر مبين ومناظرته لشيخه الجبائي مشهورة واستظهاراته عليه فيالجدل مذكورة  


 “Dan tidak diragukan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari memiliki agama yang kuat. Terlepasnya beliau dari paham Mu'tazilah sudah sangat jelas. 

Perdebatannya dengan gurunya yaitu Syekh Ali al-Juba’i sangat masyhur. Serta penolakannya terhadap pemikiran Syekh Ali al-Juba’i dalam banyak perdebatan disebut dalam sejarah” 

(Ibnu Asakir, Tabyiin Kadziib al-Muftari, Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1999, h.381)  

 

Di sisi lain, Syekh Ibnu Asakir juga memberikan penegasan bahwa latar belakang kehidupan Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang pernah hidup bersama Syekh Ali al-Juba’i justru menjadi bekal beliau dalam mematahkan seluruh argumentasi sekte Mu'tazilah di kemudian hari.     


Muhammad Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo 


Sumber: https://islam.nu.or.id

Share:

Kamis, 14 Juni 2018

Syaikh Doktor Shuhaib Al Saqqar (Mantan Wahabi)



Engkau…yang terindah, Yang pernah ada di hidupku, Dan kau yang terbaik
Yang selama ini kumiliki, Sungguh hadirnya dirimu, Ku fahami hidupku, Lengkaplah sudah.

Begitulah kira2 “kata hati” dari Syaikh Doktor Shuhaib AlSaqqar -hafidlohullohu Ta’aala-.. Beliau adalah seorang MANTAN WAHABI, sejak SD sampai SMA belajar di SAUDI dan eksis sebagai WAHABI.

Setelah itu, beliau melanjutkan studiy formalnya ke Universitas Baghdad, di sana beliau menempuh jenjang Lc sampai lulus Doktor.

Yang unik dari kisah beliau,, ketika belajar di Universitas Baghdad, beliau sebagai seorang WAHABI TULEN BERSEMANGAT sekali membantah Ahlussunnah Asya’iroh, dan berniat untuk menulis tesis dan disertasi yang membungkam pemikiran asya’iroh, mungkin waktu itu beliau kurang memahami siapa dan bagaimana itu asya’iroh, sehingga benarlah kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”.

Namun, setelah sekian lama beliau konsentrasi menelusuri pemikiran asy’ari, bukannya beliau semakin membenci Asy’ari, malah benih2 kecintaan beliau terhadap asya’iroh pun muncul.  Sejak saat itu, akhirnya disertasi yang awalnya ingin membantah Asya’ri malah menjadi senjata ampuh menumpas WAHABI.

Disertasi beliau itu berjudul “At-Tajsim Fil Fikril Islami”, dan merupakan buah fikir terbaik Syaikh Shuhaib, kehadirannya membuat beliau tahu mana akidah yang benar dan mana yang salah, juga sebagai bukti bahwa beliau TELAH TOBAT DARI WAHABI.
Share:

Siapa Syekh Abd al-Shamad al-Falimbani?


Siapa Syekh Abd al-Shamad al-Falimbani?

Al-Falimbani adalah seorang ulama mujahid. Lahir sekitar tahun 1116 H/1704 M di Palembang. Perjalanan intelektualnya berawal di Kedah dan Patani, lalu berlanjut di Saudi Arabia. Di sana al-Falimbani bergabung dengan komunitas Nusantara seperti Muhammad Arsyad al-Banjari, Abd al-Wahhab al-Bugisi, Abd al-Rahman al-Batawi, dan Daud al-Fatani.

Al-Falimbani dan kawan-kawannya berguru pada ulama-ulama besar di tanah suci. Diantara guru-gurunya yang paling utama adalah Muhammad ibn Abd al-Karim al-Sammani, Muhammad ibn Sulayman al-Kurdi, dan Abd al-Mun’im al-Damanhuri. Di bawah bimbingan guru-guru yang hebat ini, tidak aneh jika kemudian al-Falimbani menjadi salah satu ulama yang paling berpengaruh pada abad XVIII M.

Hal itu dibuktikan dengan dua karyanya yang paling utama, Hidayat al-Salikin dan Sayr al-Salikin yang banyak beredar dan memiliki pengaruh luas di Nusantara. Sosok al-Falimbani sebagai ulama Mujahid bisa dilihat dari karya-karyanya yang selalu membangkitkan semangat jihad untuk melawan orang-orang Eropa, khususnya Belanda. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, Edisi Perenial, (Jakarta:Kencana, 2013), hlm. 316-327).

Selain dua karya monumental, otoritas keilmuan al-Falimbani bisa dilihat dari isnad-isnad keilmuan yang dimilikinya. Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani yang dikenal dengan gelar Musnid al-Dunya (pemegang sanad dunia), banyak menyebut nama al-Falimbani dalam sanad fiqh dan tasawufnya. (Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, edisi revisi, (Yogyakarta:Gading Publishing, 2012), hlm. 378-379)

Al-Falimbani menghabiskan umurnya dengan menghidupkan tradisi ilmu. Dia telah mewakafkan dirinya untuk umat Islam. Sampai akhirnya kembali ke Rahmatullah setelah merampungkan karyanya yang terakhir dan monumental, Sayr al-Salikin. (Azra, Jaringan Ulama, hlm. 320).
Share:

Rabu, 13 Desember 2017

Kasyaf (Penglihatan Ghaib) Imam Syafi'i


Menjelang kewafatan Imam Syafi'i, datanglah empat murid beliau yang paling menonjol. Mereka adalah Imam Buwaithi, Imam Muzani, Ibnu Abul Hakam dan Imam Robi. Saat itu Imam Syafi'i memandang mereka dalam-dalam dan berkata, "Engkau wahai Abu Ya'qub (kunyah Imam Buwaithi), dirimu akan meninggal dalam belenggu besi. Adapun engkau wahai Muzani, dirimu akan mengalami sebuah peristiwa besar di Mesir dimana engkau akan menjadi orang yang terpandai di zaman itu.

Lalu engkau wahai Muhammad (nama asli Ibnu Abul Hakam), dirimu akan kembali ke madzhab ayahmu. Sedangkan engkau wahai Robi, dirimu akan menjadi muridku yang paling bermanfaat bagiku dalam menyebarkan kitab." Imam Syafi'i juga mewasiatkan bahwa sepeninggalnya, yang menjadi khalifah beliau adalah Imam Buwaithi.

Di masa kekhalifahan Wastiqbillah dari Abbasyiah yang berfaham Mu'tazilah, Imam Buwaithi dipanggil penguasa dan dipaksa mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk, namun dengan tegas beliau menolak. Beliau akhirnya dipenjara hingga menemui ajalnya disana, persis seperti yang diramalkan Imam Syafi'i.

Setelah Imam Buwaithi wafat, majulah Imam Muzani sebagai khalifah Imam Syafi'i. Di bawah kepemimpinan beliau, Madzhab Syafi'i berkembang pesat (ini yang dimaksud Imam Syafi'i sebagai peristiwa besar). Beliau lalu diangkat sebagai pimpinan para ulama di Mesir, seperti yang diisyaratkan Imam Syafi'i bahwa beliau akan menjadi orang terpandai di Mesir.

Adapun Ibnu Abul Hakam, pada awalnya beliau bermadzhab Maliki sebagaimana ayahnya, namun pindah ke Syafi'i setelah Imam Syafi'i datang ke Mesir, dan setelah wafat Imam Syafi'i, beliau kembali lagi ke madzhab Maliki sebab terlibat perseteruan dengan murid-murid Imam Syafi'i yang lain, dimana beliau ingin menjadi khalifah Imam Syafi'i padahal Imam Syafi'i telah menunjuk Imam Buwaithi. Peristiwa ini sebagaimana juga ramalan Imam Syafi'i.

Terakhir Imam Ar-Robi bin Sulaiman Al-Murodi, beliaulah yang menyalin sekaligus menyebarkan kitab induk Al-Umm milik Imam Syafi'i hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia sampai hari ini, sebagaimana yang diisyaratkan Imam Syafi'i. Dalam satu waktu, di halaman rumah beliau pernah terparkir 700 kendaraan untuk mengangkut orang-orang yang sedang belajar kitab Imam Syafi'i.

Referensi :
- Kitab Manaqib Asy-Syafi'i karya Imam Baihaqi 
- Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i karya KH. Sirajuddin Abbas
Share:

Selasa, 07 November 2017

CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A



‎و كان رضي الله عنه ينهى من رآه مفرقا بين كفيه عند رفعهما للدعاء و يأمر بجمعهما و إلصاق كل منهما بالآخر كأنه يتناول شيئا يخاف عليه أن يسقط من بين كفيه و ينزل العطاء الإلهي المعنوي.
‎(مجموع الكلام للحبيب عيدروس بن عمر الحبشي ص ٤٣٧)

Al-Habib Al-Imam Idrus bin Umar Al-Habsyi melarang seseorang yang dilihat beliau saat berdoa dia memisahkan kedua telapak tangannya saat diangkat untuk berdo'a dan beliau memerintahkan untuk mendempetkan kedua telapak tangan dan menempelkannya satu sama lain sehingga seakan-akan dia menadah sesuatu dan takut sesuatu tersebut jatuh dari kedua telapak tangan, dan jatuh pula demikian pemberian Allah yang maknawi.

Dari kitab : Majmu' kalam Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi Hal. 437.

‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh...

Aamiiiiiin
Share:

Minggu, 05 November 2017

Karya dan Pemikiran Syekh Ibnu 'Atha'illah



Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.

Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktik sufisme. Sementara Ibnu Atha'illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at.

Ibnu Atha'illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

Ia dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah pendirinya Abul Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abul Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha'illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah Tarekat Syadziliyah tetap terpelihara.

Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarikat saja. Buku-buku Ibnu Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab Al-Hikam.

Kitab Al-Hikam ini merupakan karya utama Ibnu Atha’illah, yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara.

Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya

Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.

Adapun pemikiran-pemikiran tarikat tersebut adalah: Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan, dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi.

"Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya," kata Ibnu Atha'illah.

Kedua, tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), serta pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat.

Ketiga, zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain daripada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. "Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahwu) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi," ujarnya.

Keempat, tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang salik, kata Atha'illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta.

Kelima, berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik.

Keenam, tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Syekh Atha'illah, tasawuf memiliki empat aspek penting yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh.

Ketujuh, dalam kaitannya dengan ma’rifat Al-Syadzili, ia berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan; mawahib, yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut; dan makasib, yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, dzikir, wudhu, puasa, sahalat sunnah dan amal shalih lainnya.
Share:

Kecerdasan Imam Syafi'i

Di bawah ini adalah beberapa riwayat yang menunjukkan kecerdasan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah yang sangat di sanjung oleh para ulama yang lainnya.

Dari Ubaid bin Muhammad bin Khalaf Al-Bazzar, dia berkata, “Ketika Abu Tsaur ditanya tentang siapa yang lebih pandai antara Imam Asy-Syafi’i dan Muhammad bin Al-Hasan, maka ia menjawab bahwa Imam Asy-Syafi’i lebih pandai dari pada Muhammad, Abu Yusuf, Abu Hanifah, Hammad, Ibrahim, Al-Qamah dan Al-Aswad.

Ahmad bin Yahya memberitahukan bahwa Al-Humaidi berkata, “Aku telah mendengar dari Sayyid Al-Fuqaha’, yaitu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.”

Sedang Ar-Rabi’ berkata, “Aku pernah mendengar Al-Humaidi dari Muslim bin Khalid, ia berkata kepada Imam Asy-Syafi’i, ‘Wahai Abu Abdillah, berfatwalah. Aku bersumpah demi Allah, sesungguhnya kamu sekarang sudah berhak mengeluarkan fatwa.’ Padahal Imam Asy-Syafi’i pada saat itu baru berusia lima belas tahun.”

Dari Harmalah bin Yahya, ia berkata, “Aku telah mendengar Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang seorang suami yang berkata kepada isterinya yang pada saat itu dimulutnya terdapat sebiji kurma, ‘Jika kamu makan korma itu, maka kamu aku talak (cerai), dan apabila kamu memuntahkannya, maka kamu juga aku talak (cerai),’ maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Makan separuh dan muntahkanlah separuhnya.’”

Al-Muzni berkata, “Ketika Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang burung unta yang menelan mutiara milik orang lain, maka dia menjawab, ‘Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya. Kalau pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu, maka sembelih dan keluarkan mutiara itu dari perutnya, lalu dia harus menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan sudah disembelih.’”

Ma’mar bin Syu’aib berkata, “Aku mendengar Amirul Mukminin Al-Makmun bertanya kepada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa illat-nya Allah menciptakan lalat?’”

Mendengar pertanyaan itu, Imam Asy-Syafi’i terdiam sesaat, lalu dia menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, lalat itu diciptakan untuk menghinakan para raja.’
Dengan seketika, Al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, ‘Wahai Muhammad, aku telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.’ Sehingga Imam Asy-Syafi’i membalasnya dengan berkata, ‘Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.’”
Kemudian Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.’”

Ibrahim bin Abi Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih, maka dia menjawab, ‘Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang paling cerdas di antara mereka semua.’”

Ar-Rabi’ berkata, “Pada suatu hari ketika aku sedang bersama Imam Asy-Syafi’i, seseorang datang dan bertanya, ‘Wahai guru, apa pendapatmu tentang orang yang sedang bersumpah, ‘Apabila dalam sakuku terdapat ‘banyak uang dirham’ lebih dari tiga dirham, maka budakku merdeka. ‘Sedangkan dalam saku orang yang bersumpah tesebut hanya terdapat uang sebanyak empat dirham saja. Apakah orang itu harus memerdekakan budaknya?’ maka dia menjawab, ‘Ia tidak wajib memerdekakan budaknya.’”

Ketika penanya minta penjelasan lebih lanjut, maka Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Orang tersebut telah mengecualikan sumpahnya dengan ‘banyak dirham’, sedangkan empat dirham itu mempunyai kelebihan satu dari tiga dirham yang disumpahkan. Satu dirham bukanlah ‘banyak dirham’ sebagaimana yang dimaksudkan dalam sumpahnya.’

Mendengar penjelasan ini, maka penanya kemudian berkata, ‘Aku beriman kepada Zat yang telah memberikan ilmu melalui lisanmu.’”

Sumber: Dinukil dari kitab Min A’lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid

Share:

SEMANGAT ABUYA MUDA WALY

Abuya Prof. Dr. Muhibbuddin Waly berkata:
Mengenai ayahku dalam arti beliau mengamalkan ilmunya dengan mengajar adalah luar biasa. Aku katakan luar biasa, adalah melihat waktu waktu beliau yang penuh terisi selain waktu waktu ibadah. Pagi hari jam 6.00 beliau mengajar semua santri, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Lahiriahnya adalah untuk sekedar mengambil berkat ilmu pengetahuan pada beliau selaku guru besar, tetapi pada hakikatnya beliau menganjurkan pada semua kita supaya pada malam harinya harus membaca banyak, memahami dan mendalami apa yang akan dibaca esok paginya. Semuanya itu, terbuka pintu bagi para santri yang menanyakan segala sesuatu kepada kepada beliau pada matan atau lafaz yang beliau baca. Umpamanya kalau beliau membaca Al Fiah satu bait, tetapi kita harus membaca semua syarah Al Fiah dan kitab kitab nahu pada malamnya untuk mendebat beliau pada apa yang beliau baca. Ini adalah suatu cara ayahku membuka otak para santri untuk tidak hanya mengikut saja apa yang telah disampaikan oleh guru, tetapi tidak boleh terlepas dari ilmiahnya ilmu pengetahuan. Jam 9.00 pagi setelah beliau dhuha dan sarapan pagi beliau mengajar lagi sampai zuhur. Pada jam 2.00 siangnya setelah zuhur dan makan siang beliau mengajar lagi pada tingkat tinggi, dimana mahasiswa terdiri daripada seluruh guru dan kitab yang dibaca seperti Tuhfah dan Jam'ul Jawami' hingga sampai asar. Sesudah asar sementara menunggu magrib ayahku juga menyediakan waktu bagi siapa yang berminat menimba pengetahuan dari beliau. Barulah pada malam hari selain Selasa Malam, beliau habiskan waktunya sampai jam 11.00 malam bahkan lebih dengan ibadah ibadah pribadi beliau kepada Allah SWT.

Ada satu kejadian yang tidak dapat aku melupakannya. Pada waktu beliau sudah mulai sakit sakit, beliau memerintahkan bahwa pengajian untuk dras dari beliau tidak boleh berhenti, meskipun beliau sakit. Memang sakit benar, karena itu maka aku sampaikan kepada teman teman supaya kami hanya mendengar saja kuliah beliau, tidak boleh bertanya dan mendebat beliau karena beliau sakit. Rupanya karena kita semuanya diam, maka beliau marah, kenapa kita tidak bertanya kepada beliau dan kenapa kita mendebat beliau. Rupanya pertanyaan dan debat dari mahasiswa senior kepada beliau adalah obat paling penting bagi beliau. Sehat beliau pada waktu mengajar tetapi beberapa saat setelah selesai mengajar, beliau jatuh sakit lagi.

Apabila kepada kami ini selaku murid murid beliau senantiasa larang untuk mengikut saja atau taqlid saja kepada apa yang ditulis oleh para alim ulama atau yang telah disampaikan mereka. Apalagi bagi diri beliau sendiri terhadap para ulama yang kitabnya beliau baca. Apabila beliau mengajarkan kitab Tuhfatul Muhtaj, karangan Ibnu Hajar al-Haitami, maka beliau tidak sependapat dengan ulama yang menghasyiahkannya, diantaranya Abu Qasim al-'Ubbadi dan Syarwani. Pendapat ayahku itu sering ditulis pada pinggir pinggir kitab itu. Itulah sebabnya pada waktu aku, sebelum ke Cairo melanjutkan ilmu pengetahuanku di Universiti al-Azhar, beliau berwasiat: apabila kau bertemu dengan ulama yang tawadhu', yang salih dan tidak banyak macam-macam, jangan debat dia tetapi ciumlah tangannya dan mintalah doanya. Tetapi apabila kau bertemu dengan ulama yang gagah disebabkan ilmunya apalagi kalau dia merasa bangga dengan banyak ilmunya, maka debatlah dia sampai tuntas sehingga kau dapat bertambah ilmu dengan menimba daripadanya.

Inilah yang aku praktekkan, karena itu sebelum ke Cairo tangan Habib Ali Kwitang aku cium dan aku minta doanya, karena aku melihat Habib Ali Kwitang seorang hamba Allah yang salih, yang apabila beliau ingat kepada Rasulullah SAW beliau menangis dan terharu karena mahabbah kepada Nabi. Tetapi setelah aku berada di Cairo, yaitu pada akhirnya sebelum aku mengambil Doktor di Universitas Al Azhar, aku berbeda pendapat dengan Prof. Syeikh Muhammad Abu Zahrah. Hampir saja aku tidak lulus di al Azhar, karena aku menolak pendapatnya. Tetapi akhirnya oleh Fakultas Syariah dan Hukum Al Azhar mengambil jalan tengah  yaitu Syeikh Muhammad Abu Zahrah yang sedianya sebagai salah seorang panel penguji diganti dengan seorang ulama besar lainnya yang pernah menjadi kandidat Syeikh Al Azhar yaitu Prof. Muhammad Ali Saais. Demikianlah jasa jasa dari pada pengembangan ilmu pengetahuan agama yang dikembangkan ayahku melalui pesantren Darussalam yang beliau pimpin, sehingga membawa pembaharuan ilmu pengetahuan pada pesantren pesantren di seluruh Aceh (AYAH KAMI, MAULANA SYEIKH HAJI MUHAMMAD WALY AL- KHALIDY, hlm. 108-110).

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya untuk para ulama dan memudahkan kita semua untuk mengikuti jalan jalan hidup mereka. Amiin...
Share:

Sabtu, 04 November 2017

Al-Qaffaal adalah seorang ulama hebat di madzhab as-Syafi`i 



Syekh al-Qaffaal adalah seorang ulama hebat di madzhab as-Syafi`i menuntut ilmu di usianya yang ke-40 tahun...

disebutkan oleh al-Imam Yaqut al-Hamawy: Beliau orang paling hebat di masanya dalam bidang fiqh dan keilmuan, di datangi banyak orang untuk menuntut ilmu, berkah beliau kelihatan jelas, salah satu rukun madzhab asy-Syafi`i, banyak mengeluarkan ulama..

asalnya tukang buat kunci (gembok)... sudah buat yang terhebat di masanya tapi tidak membuat beliau terkenal kemana-mana..

lalu cerita ke beberapa teman dekat.. salah satu mereka berkata: orang itu dikenal dengan ilmu, bukannya dengan gembok.

lalu beliau ingin menuntut ilmu, dan pergi ke seorang syekh dan menceritakan keinginannya untuk menuntut ilmu... oleh sang guru di suruh menghafal beberapa baris dari kitab al-Muzani...

akhirnya beliau naik ke atap rumah setelah isya mengulang-ulang baris-baris tersebut sampai shubuh... lalu ketiduran.. pas bangun ternyata semua hafalan sudah hilang... "lalu apa yang akan ku katakan ke Syekh?!" kemudian keluar rumah ... di luar ketemu seorang perempuan, salah satu tetengga yang berkata padanya: "wahai Abu Bakr, kamu tuh bikin kami tidak bisa tidur semalaman dengan ucapanmu "..." (si perempuan menyebutkan apa yg disebutkan al-Qaffaal sepanjang malam) dan menjadi ingat beliau dengan apa yang dihafalkan...

lalu beliau pergi ke Syekh dan menceritakan apa yang telah terjadi.. Sang guru berkata: "Kamu jangan terpengaruh dengan hal tersebut, kalau kamu rajin menghafal dan menyibukkan diri dalam belajar itu akan menjadi kebiasaan".

Maka beliau rajin belajar sehingga terjadilah apa yang terjadi...

hidup 80 tahun, 40 tahun sebagai orang jahil, 40 tahun sebagai orang alim. 

Ceritanya: saking bodohnya beliau saat awal belajar: tidak bisa membedakan antara fathah atau dhammah pada dhamir "ta" «هذا كتاب اختصرته» di baca ikhtashartuhu atau ikhtashartahu...

Beliau meninggal tahun 417H, dikenal dengan sebutan "Syekh
al-Khurasaniyyin" atau Syekh ahli Khurasan.


Share:

Senin, 15 Mei 2017

Imam Nawawi Rahimahullah



Suatu hari, al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkunjung ke Mesir.. 

Beliau ingin menziarahi maqam al-Imam asy-Syafi`i rahimahullah, tapi beliau malu untuk masuk...

al-Imam an-Nawawi merupakan rukn al-madzhab (fondasi madzhab), bertakwa, bersih, memilih untuk tidak menikah demi ilmu.. menulis 12 jam perharinya, tidak tidur berbaring selama 2 tahun.

Beliau datang dari Syam... memandang kubbah al-Imam asy-Syafi`i dari kejauhan*,... Beliau membaca al-Fatihah, berdo`a & menangis dan berlalu pergi... 

Ada yang menanyai beliau: "Kenapa Anda tidak masuk untuk menziarahi Beliau?"

al-Imam an-Nawawi menjawab: "Seandainya Beliau hidup, ku tidak mampu kecuali berdiri di sini".

Siapa yang berkata begitu? 

Seorang rukn al-madzhab, imam ad-dunia, penyusun kitab Riyadh ash-Shalihin yang diakui sunni & syi`ah, penyusun kitab al-Arba`in an-Nawawiyyah.. Seseorang yang bertakwa, bersih.. apabila disebut; rahmat Allah dilimpahkan...

Ibn as-Subki rahimahullah mendengar kedatangan al-Imam an-Nawawi... Beliau pun mencarri tapi tidak ketemu.. Ada yang memberitahukan bahwa al-Imam an-Nawawi sudah pergi..

Ibnu Subki pun menyusul sampai ke Damaskus 2 hari setelah al-Imam an-Nawawi meninggal..

Ibn as-Subki berkata: "Ku ingin bertemu dengan al-Imam an-Nawawi".

Orang-orang berkata: "Beliau sudah pergi ke Nawa & meninggal di sana".

Ibn as-Subki bertanya: "Di mana tempat beliau mengerjakan shalat di Daar al-Hadiid?... 

Orang-orang menjawab: "Di sini".

Ibnu as-Subki pun duduk dan meletakkan pipinya di sana.

Taqiyyuddin as-Subki yang disebut oleh Ibn Huddaaj sebagai "seseorang yang sampai derajat ijtihad" telah meletakkan pipi kanan ke tempat di mana kaki al-Imam an-Nawai berdiri... lalu meletakkan pipi kiri beliau sambil berkata:

 وفي دار الحديد لطيف معنى * أطوف في أرجائها وأوي
أود لو أمس بِحُرِّ وجهي * مكاناً مسه قدم النواوي

Di daar al-Hadiid ada makna yang penuh kelumbutan... ku berkeliling di sekitarnya dan singgah
Ku mendambakan jika ku bisa menyentuh dengan wajahku tempat yang telah disentuh kaki an-Nawawi.

Maqam al-Imam an-Nawawi terkenal, tumbuh tepat dari bagian dada beliau sebuah pohon besar yang menaungi maqam, ... tidak ada maqam siapapun di dunia ini yang tumbuh darinya pohon kecuali maqam al-Imam an-Nawawi.

Di sekitar maqam, tumbuh berbagai tumbuhan yang berbau harum**.

Inilah maqam beliau di kampung halaman beliau, Nawa... Ibn al-Wardi berkata di sana:
لقيت خيراً يا نوى ** وحرست من ألم النوى 
فلقد نشأ بك زاهد ** في العلم أخلص ما نوى 
وعلى عداه فضله ** فضل الحبوب على النوى

 * Syekh Ali pernah mengatakan dari tempat "kobri Sayyidah Aisyah" sekarang. 
mungkin sekitar setengah kilometer.

** Pada Januari 2015... kawasan maqam itu dibom... Hasbunallah wani`ma al-Wakil.

____

Diambil dari dars Syekh Ali Jum`ah hafizhahullah...

postingan 15 mei 2014: 


ذات مرة أراد الإمام النووي أن يدخل على مقام الإمام الشافعي واستحى أن يدخل, الإمام النووي ركن المذهب التقي النقي الذي أثر العذوبة والعلم على الزواج لم يتزوج كان يكتب في اليوم اثنى عشر ساعة, لم ينم على جنبه سنتين, جاء من الشام ونظر إلى قبة الإمام الشافعي وقرأ الفاتحة ودعا وبكى وانصرف، فقيل له لن تدخل لزيارته؟ فقال لو كان حياً ما استطعت إلا أن أقف هنا, من الذى يقول ذلك؟ ركن المذهب ، إمام الدنيا ،الذى ألف كتاب رياض الصالحين ، هذا أجمعت عليه السنة والشيعة ، صاحب الأربعين النووية, هذا التقي النقي الذي إذا ما ذُكر تنزلت الرحمات, 

ابن السبكي سمع إن الإمام النووي هنا في مصر دور عليه فلم يجده، قالوا له لقد ذهب ،فأخذ بالذهاب وراءه حتى وصل دمشق كان الإمام النووي مات قبلها بيومين, قال أريد رؤية الإمام النووي قالوا له لقد ذهب إلى نوى ومات هناك ، وقبره في نوى مشهور مشهود نبتت به شجرة, نبتت من صدره شجرة تظلل قبره، ليس هناك قبر طلع منه شجرة في العالم إلا الإمام النووي قلبه أنبت ثمرة, ما زالت موجودة روضة غناء مزروعة حوله بالرياحين هذا قبر الإمام النووي رضي الله تعالى عنه وأرضاه في بلده نوى ، وقد أنشد ابن الوردي فيه يرثيه:
لقيت خيراً يا نوى ** وحرست من ألم النوى 
فلقد نشأ بك زاهد ** في العلم أخلص ما نوى 
وعلى عداه فضله ** فضل الحبوب على النوى
ذهب ابن السبكي خلف الإمام النووى ودخل عليهم فوجده قد مات فقال أين كان يصلى في دارالحديد ؟ فقالوا هنا، فجلس يمرغ خده ؟ هذا تقي الدين السبكي الذي قال فيه ابن هُدَّاج "وصل إلى مرتبة الإجتهاد", قعد يحط خده اليمين كده على القدم الذي كان فيه النووي وخده الشمال كده وهو يقول:
وفي دار الحديد لطيف معنى * أطوف في أرجائها وأوي
أود لو أمس بِحُرِّ وجهي * مكاناً مسه قدم النواوي
Share:

Kategori Artikel