Selasa, 14 Juni 2022
TEUNGKU CHIK DI AWE GEUTAH
Rabu, 24 Maret 2021
Kisah Syeh Abdul Qadir Jailani dengan Dua Ulama

Di waktu menimba ilmu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berteman dengan dua orang yang bisa dibilang cukup cerdas dan pandai yaitu Ibnu Saqa dan Ibnu Abi `Asrun.
Pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang wali berpangkat wali al-ghouts, rumah wali tersebut cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan pelosok banget.
Tapi, keinginan mereka untuk bertemu sang wali tidak terhalang walau jarak yang demikian jauh dan sudah barang tentu kunjungan mereka tak lepas dari maksud dan tujuan.
Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat masing-masing. Dengan polosnya Ibnu Abi `Usrun memulai pertanyaan kepada Ibnu Saqa. “Hei Saqa, kamu mau ngapain bertemu wali itu?” “Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya, ha.. ha.. Aku ini kan orang cerdas, jadi, sudah sepatutnya menguji kedalaman ilmu seorang wali,” jawabnya. Tak menunggu lama Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya.
Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk menjawabnya,” tuturnya.
Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu dari seorang wali. Mungkin karena Syekh Abdul Qadir Al-iJailani tidak segera mengutarakan niatnya, akhirnya mereka berdua bertanya. “Qadir, kamu mau mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?” “Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya. Lalu mereka pun bertanya lagi.
“Lho, terus kamu ini mau apa? Hanya mau mengikuti kami?” “Saya itu gak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja dan mengharap berkah darinya. Itu saja cukup kok, karena orang seperti ini biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jelas Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dari dialog mereka, kita sudah bisa melihat sifat dan sikap mereka terhadap kekasih Allah SWT.
Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain. Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya. Sesampainya di kediaman wali al-ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya.
Tapi, sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya. Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya. “Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Saqa?” “Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa. Tak banyak bicara, wali itu pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapannya.
Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali itu meng-kasyaf (membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya. “Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.”
Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata. “Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.”
Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang pergilah anakku!”
Selang beberapa hari dari kejadian aneh itu, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani.
Dalam perjalanan menuju ulama Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa pikir panjang akhirnya dia menemui ayahnya dan menyampakan bahwa dia sungguh mencintainya dan siap berkorban apa pun.
Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama Nasrani.
Sedangkan Ibnu Abi `Asrun, diberi jabatan oleh raja di negerinya untuk mengurusi harta wakaf dan sedekah dan jabatan itu datang terus menerus dari seluruh penjuru kota tersebut. Kemudian dia sadar bahwa ini merupakan doa dari wali al-ghouts.
Sementara Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendapatkan maqam tertinggi dari Allah SWT berkat sikap rendah dirinya kepada seorang wali dan beliau diangkat menjadi raja dari seluruh para wali di muka bumi. Pada saat mengajar muridnya, dia pun berkata seperti apa yang dikatakan wali al-ghouts, “kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para wali,” dan perkataannya didengar oleh seluruh wali di penjuru dunia, lalu mereka berikrar “sami`na wa atha`na.”
Ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak.
Sebagaimana perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.
Dikutip dari Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah (Yaman: Dar al-Ilmi wa ad-Da`wah, 2018) karya Habib Ali Hasan Baharun merupakan bunga rampai dari perkataan-perkataan gurunya, yaitu Habib Zain bin Ibrahim bin Smith.
Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali, habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam perjalanannya memperoleh gelar sulthanul auliya (raja dari seluruh para wali).
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Jl. KHR. Syamsul Arifin, Sukorejo, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Email: hilmikamila241@gmail.com
Jumat, 12 Maret 2021
Benarkah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari Mantan Ulama Mu’tazilah?
Selama ini terdapat sebuah pertanyaan besar di hati umat Islam khususnya penganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah, “Benarkah Imam Abu Hasan al-Asy’ari selaku pembesar mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah pernah menjadi bagian dari golongan ulama Mu’tazilah?”
Dalam hal ini, Dr Jamal Farouq ad-Daqqad selaku dekan fakultas dakwah Universitas al-Azhar yang juga salah satu ulama negara Mesir yang getol membela paham Aswaja menolak hal ini. Dalam salah satu kajian Aswaja yang digelar di kota Kairo, Jamal Farouq menyatakan keraguannya atas beberapa sumber sejarah yang menyatakan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi ulama sekte Mu'tazilah selama 40 tahun.
Dr. Jamal Farouq ad-Daqqaq menyebutkan secara logika akal ada tiga pertanyaan besar untuk melemahkan tuduhan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi pembesar ulama sekte Mu'tazilah, yaitu:
Pertama, seandainya kita membenarkan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi ulama yang mengajarkan paham Mu'tazilah selama 40 tahun di kota Bashrah bersama ayah tiri beliau yang bernama Syekh Ali al-Juba’i, maka di sini kita harus bertanya “Siapakah ulama Mu'tazilah yang pernah belajar ajaran Mu'tazilah di bawah asuhan Imam Abu Hasan al-Asy’ari?”
Sejarah menyebutkan bahwa kota Bashrah adalah salah satu pusat kajian keilmuan umat Islam di masa lalu. Sehingga, sangat aneh bila tidak ada satu pun ulama sekte Mu'tazilah di kota Bashrah yang menyebut Imam Abu Hasan al-Asy’ari sebagai guru mereka dalam memahami paham Mu'tazilah.
Setidaknya, seandainya Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi guru besar sekte Mu'tazilah niscaya akan ada beberapa ulama Mu'tazilah yang mengakui Imam Abu Hasan al-Asy’ari sebagai guru sekte Mu'tazilah dalam karya tulis mereka. Bahkan, sangat mungkin para ulama Mu'tazilah memuji Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam karya-karya mereka sebagai guru besar sekte Mu'tazilah. Pada kenyataannya, tidak ada satu pun ulama Mu'tazilah yang menyatakan pernah belajar ajaran Mu'tazilah kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari.
Kedua, seandainya kita membenarkan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi ulama yang membela paham Mu'tazilah, maka di sini kita harus bertanya, “Adakah buah pemikiran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam paham Mu'tazilah yang diabadikan dalam khazanah pemikiran sekte Mu'tazilah?”
Sejarah menyebutkan bahwa setiap pemikiran para ulama besar di masa lalu pasti terekam dalam karya tulis. Setidaknya setiap pemikiran seorang ulama besar akan dinukil oleh murid-muridnya ataupun sejawatnya dalam karya tulis mereka. Di sisi lain, sangat mungkin seorang ulama akan mengabadikan pemikirannya dalam wujud karya tulis dan hal ini tentu dapat dilacak oleh sejarah.
Sebagaimana kita tahu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah menuliskan pendapat lama beliau (qaul qadim) dalam kitab ar-Risalah. Dan meskipun pendapat lama ini beliau tinggalkan tetap saja sejarah dapat melacak pendapat lama yang beliau tinggalkan karena ada sumber tulisan murid-murid imam Syafi’i yang merekam hal tersebut.
Pada kenyataannya, Imam Abu Hasan al-Asy’ari tidak memiliki satupun buah pemikiran dalam sekte Mu'tazilah yang terekam sejarah. Sehingga, sungguh aneh seandainya Imam Abu Hasan al-Asy’ari diyakini pernah menjadi pembesar ulama Mu'tazilah tanpa satu pun buah karya pemikiran ataupun pendapat yang dinukil oleh para ulama Mu'tazilah yang sezaman dengan beliau.
Ketiga, seandainya Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menjadi pembesar ulama Mu'tazilah niscaya rekam jejak beliau akan tercatat dalam kitab kumpulan biografi ulama Mu'tazilah. Kita tahu bahwa dalam kitab kumpulan biografi seperti kitab Thabaqat al-Mu’tazilah karya Ahmad bin Yahya bin al-Murtadhq di sana banyak tercatat biografi para ulama Mu'tazilah di masa lalu.
Kita melihat tokoh yang sezaman dengan Imam Abu Hasan al-Asy’ari seperti Ibnu Rawandi (w. 936 M), mantan ulama Mu'tazilah yang beralih menjadi ateis sekalipun juga tercatat pemikiran dan rekam hidupnya dalam kitab-kitab ulama Mu'tazilah. Maka sungguh aneh bila Imam Abu Hasan al-Asy’ari, seorang tokoh Aswaja yang disebutkan pernah menjadi ulama besar sekte Mu'tazilah tidak pernah sekali pun terekam dalam kitab-kitab kumpulan biografi ulama Mu'tazilah.
Walhasil, Dr Jamal Farouq ad-Daqqad menegaskan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari adalah salah satu ulama Aswaja yang murni dan tidak sedikit pun tercemari oleh pemikiran Mu'tazilah. Hal ini dibuktikan dengan masa kecil Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang diasuh langsung oleh Syekh Zakaria as-Saji, seorang ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah.
Adanya Imam Abu Hasan al-Asy’ari bersinggungan dengan pemikiran sekte Mu'tazilah adalah karena Imam Abu Hasan al-Asy’ari tumbuh bersama Syekh Ali al-Juba’i, seorang ulama Mu'tazilah yang menikahi ibunya setelah wafat ayah beliau. Akan tetapi hal ini tidak sedikit pun mengubah kecondongan beliau terhadap paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini terbukti dengan beberapa kali Imam Abu Hasan al-Asy’ari mendebat pemikiran Syekh Ali al-Juba’i selaku ayah tiri beliau sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Asakir dalam kitab Tabyiin Kadziib al-Muftari:
ولا شك أن دين أبي الحسن رحمه الله متين وتبرأه من مذهب المعتزلة ظاهر مبين ومناظرته لشيخه الجبائي مشهورة واستظهاراته عليه فيالجدل مذكورة
“Dan tidak diragukan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari memiliki agama yang kuat. Terlepasnya beliau dari paham Mu'tazilah sudah sangat jelas.
Perdebatannya dengan gurunya yaitu Syekh Ali al-Juba’i sangat masyhur. Serta penolakannya terhadap pemikiran Syekh Ali al-Juba’i dalam banyak perdebatan disebut dalam sejarah”
(Ibnu Asakir, Tabyiin Kadziib al-Muftari, Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1999, h.381)
Di sisi lain, Syekh Ibnu Asakir juga memberikan penegasan bahwa latar belakang kehidupan Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang pernah hidup bersama Syekh Ali al-Juba’i justru menjadi bekal beliau dalam mematahkan seluruh argumentasi sekte Mu'tazilah di kemudian hari.
Muhammad Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo
Sumber: https://islam.nu.or.id
Kamis, 14 Juni 2018
Syaikh Doktor Shuhaib Al Saqqar (Mantan Wahabi)
Siapa Syekh Abd al-Shamad al-Falimbani?
Rabu, 13 Desember 2017
Kasyaf (Penglihatan Ghaib) Imam Syafi'i
Selasa, 07 November 2017
CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A
Minggu, 05 November 2017
Karya dan Pemikiran Syekh Ibnu 'Atha'illah
Kecerdasan Imam Syafi'i
SEMANGAT ABUYA MUDA WALY










