Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Minggu, 05 November 2017

Kecerdasan Imam Syafi'i

Di bawah ini adalah beberapa riwayat yang menunjukkan kecerdasan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah yang sangat di sanjung oleh para ulama yang lainnya.

Dari Ubaid bin Muhammad bin Khalaf Al-Bazzar, dia berkata, “Ketika Abu Tsaur ditanya tentang siapa yang lebih pandai antara Imam Asy-Syafi’i dan Muhammad bin Al-Hasan, maka ia menjawab bahwa Imam Asy-Syafi’i lebih pandai dari pada Muhammad, Abu Yusuf, Abu Hanifah, Hammad, Ibrahim, Al-Qamah dan Al-Aswad.

Ahmad bin Yahya memberitahukan bahwa Al-Humaidi berkata, “Aku telah mendengar dari Sayyid Al-Fuqaha’, yaitu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.”

Sedang Ar-Rabi’ berkata, “Aku pernah mendengar Al-Humaidi dari Muslim bin Khalid, ia berkata kepada Imam Asy-Syafi’i, ‘Wahai Abu Abdillah, berfatwalah. Aku bersumpah demi Allah, sesungguhnya kamu sekarang sudah berhak mengeluarkan fatwa.’ Padahal Imam Asy-Syafi’i pada saat itu baru berusia lima belas tahun.”

Dari Harmalah bin Yahya, ia berkata, “Aku telah mendengar Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang seorang suami yang berkata kepada isterinya yang pada saat itu dimulutnya terdapat sebiji kurma, ‘Jika kamu makan korma itu, maka kamu aku talak (cerai), dan apabila kamu memuntahkannya, maka kamu juga aku talak (cerai),’ maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Makan separuh dan muntahkanlah separuhnya.’”

Al-Muzni berkata, “Ketika Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang burung unta yang menelan mutiara milik orang lain, maka dia menjawab, ‘Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya. Kalau pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu, maka sembelih dan keluarkan mutiara itu dari perutnya, lalu dia harus menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan sudah disembelih.’”

Ma’mar bin Syu’aib berkata, “Aku mendengar Amirul Mukminin Al-Makmun bertanya kepada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa illat-nya Allah menciptakan lalat?’”

Mendengar pertanyaan itu, Imam Asy-Syafi’i terdiam sesaat, lalu dia menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, lalat itu diciptakan untuk menghinakan para raja.’
Dengan seketika, Al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, ‘Wahai Muhammad, aku telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.’ Sehingga Imam Asy-Syafi’i membalasnya dengan berkata, ‘Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.’”
Kemudian Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.’”

Ibrahim bin Abi Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih, maka dia menjawab, ‘Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang paling cerdas di antara mereka semua.’”

Ar-Rabi’ berkata, “Pada suatu hari ketika aku sedang bersama Imam Asy-Syafi’i, seseorang datang dan bertanya, ‘Wahai guru, apa pendapatmu tentang orang yang sedang bersumpah, ‘Apabila dalam sakuku terdapat ‘banyak uang dirham’ lebih dari tiga dirham, maka budakku merdeka. ‘Sedangkan dalam saku orang yang bersumpah tesebut hanya terdapat uang sebanyak empat dirham saja. Apakah orang itu harus memerdekakan budaknya?’ maka dia menjawab, ‘Ia tidak wajib memerdekakan budaknya.’”

Ketika penanya minta penjelasan lebih lanjut, maka Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Orang tersebut telah mengecualikan sumpahnya dengan ‘banyak dirham’, sedangkan empat dirham itu mempunyai kelebihan satu dari tiga dirham yang disumpahkan. Satu dirham bukanlah ‘banyak dirham’ sebagaimana yang dimaksudkan dalam sumpahnya.’

Mendengar penjelasan ini, maka penanya kemudian berkata, ‘Aku beriman kepada Zat yang telah memberikan ilmu melalui lisanmu.’”

Sumber: Dinukil dari kitab Min A’lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid

Share:

BINATANG BUAS TAK DOYAN DAGING AHLUL BAYT / DZURRIYAH ROSULULLOH SAW

Alkisah, di masa Daulah Abbasiyah, tepatnya ketika Kholifah Al Mutawakkil menjabat sebagai kepala negara, seorang wanita bernama Zainab, mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah cucu Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ia menyebut dirinya adalah putri dari pasangan; Ali bin Abi Tholib dan Fathimah Rodhiyallohu ‘anhuma. 

Bagaimana mungkin ia masih hidup ketika itu? Berarti ia hidup selama dua ratus tahun lebih, karena rentang masa antara zaman nubuwah dan Daulah Abbasiyah, berkisar dua abad lamanya. 

Meskipun pengakuannya ini tidak masuk akal, tetapi di tengah masyarakat, Zainab merupakan orang yang cukup berpengaruh. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan ia mampu mengeksploitasi harta pengikutnya. Maka Kholifah Al Mutawakkil pun mengeluarkan perintah untuk mengundangnya ke istana. 

“Kamu ini seorang gadis dan Rosululloh telah wafat ratusan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? ” kholifah mencecar Zainab.

Kemudian Zainab berkata, “Sesungguhnya Rosululloh megusap kepalaku dan berdoa kepada Alloh untuk mengembalikan masa mudaku setiap empat puluh tahun sekali.” 

Masih belum yakin dengan jawaban yang tidak masuk akal ini, Kholifah Al Mutawakkil mengumpulkam Masyayikh (para tetua) keturunan Ali bin Abi Tholib, putra-putra Al-‘Abbas, segenap warga Quraisy, dan memberitahu mereka perkara Zainab yang sangat kontroversial. Dan kemudian mereka pun menyebutkan sebuah riwayat bahwa Zainab telah wafat. 

“Apa yang kamu katakan untuk menjawab pernyataan mereka?” kholifah kembali bertanya penuh selidik kepada Zainab.

“Itu riwayat palsu dan keji. Karena sesungguhnya, privasiku terjaga dari pengetahuan orang-orang. Bahkan mereka tidak tahu tentang kehidupan dan kematianku.” Zainab mematahkan tuduhan itu dengan penuh percaya diri.

Kemudian Kholifah bertanya kepada jama’ah yang dia kumpulkan, “Adakah kalian memiliki bukti yang dapat mengungkap tipu daya wanita ini selain riwayat yang kalian sampaikan?” Sayangnya mereka menjawab, “Tidak.” 

Namun beberapa saat kemudian, sebagian mereka menawarkan satu solusi untuk memecahkan masalah ini dengan mendatangkan Ali bin Muhammad bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib, yang mempunyai laqob (nama panggilan) “Al-Haadi.”

Setelah disampaikan kepadanya apa yang sedang terjadi, Al Hadi pun menegaskan bahwa Zainab putri Ali sudah lama meninggal dengan menyebutkan tahun, bulan, dan hari kematiannya. Tetapi bukan jawaban seperti ini yang diinginkan Sang kholifah. Beliau bahkan berjanji tidak akan melepaskan Zainab sebelum membungkamnya dengan hujjah yang kuat.

“Jika benar dia adalah anak Fathimah”, akhirnya Ali Al Hadi kembali bersuara, berusaha mengungkap tipu daya Zainab dengan mengajukan sebuah tantangan, 

▶“Sesungguhnya jasad keturunan Fathimah tidak akan dimangsa oleh hewan-hewan buas. Maka datangkanlah hewan buas kepadanya. Dan lemparkan ia di tengah kerumunan hewan buas itu.”◀

“Tidak!” teriak Zainab yang raut wajahnya tetiba berubah ketakutan. “Ini hanyalah cara agar dia bisa membunuhku! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya.” katanya berusaha membela diri.

Dengan tenang, Ali Al Hadi berkata, “Ya. Aku berani membuktikannya.” Dan beberapa saat kemudian, ia dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Perlahan-lahan, enam ekor singa yang ada di dalam kandang itu, mendekati Ali satu per satu. Dengan lembut, tangan Ali membelai kepala singa-singa yang mendekatinya. Binatang-binatang buas itu, di hadapan Ali Al Hadi, menjadi jinak dan penurut. 

Begitu melihat Ali keluar dari kandang dengan selamat, dan dilihatnya dengan mata kepala sendiri sebuah pemandangan yang langka, Zainab pun hanya terdiam seribu bahasa. Dan, akhirnya, ia akui kebohongan yang selama ini ia desuskan, tipu daya yang selama ini dia mainkan. Masyarakat yang mengetahui kejadian ini, menjulukinya dengan sebutan, “Zainab Al Kadzaabah.”

🌎Referensi:

📒 Al Mafakhir karya An Naisaburi. 
📚 Lisan Al Mizan karya Ibnu Hajar Al ‘Asqollani. Dan 
📖 Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi.
Share:

Syair Sayyidina Ali

قصيده لأمير المؤمنين علي بن ابي 
وفيها العبرة والعجائب

Syair Amirul mu'minin Aly bin Abi Tholib di dalamnya terdapat pelajaran dan keajaiban"



ذهب الشباب فما له من عودة
و أتى المشيب فأين منه المهرب
Telah pergi masa muda dan takkan kembali, sekarang datang tua adakah tempat tuk lari darinya? 

دع عنك ما قد فات في زمن الصبا
وا ذكر ذنوبك و ابكها يا مذنب
Tinggalkan apa yg terlewatkan pd masa mudamu, dan ingat serta tangisi dosa"mu hai pendosa! 

و اخش مناقشة الحساب فإنه
لا بد يحصى ما جنيت و يكتب
Takutlah akan persidangan hisab kelak ,karna apa yg kw perbuat akan dihitung dan ditulis

و غرور دنياك التي تسعى لها
دار حقيقتها متاع يذهب
Dunia sang penipu yg kau cari adalah rumah yg hakekatnya hanya barang yg akan hilang

و جميع ما حصلته و جمعته
حقا يقينا بعد موتك ينهب
Dan seluruh yg kw dapat dan kw kumpulkan sudah pasti setelah matimu akan dirampas darimu

والروح فيك وديعة أودعتها
ستردها بالرغم منك و تسلب
Nyawa yg ada padamu hanya sebuah titipan, mau tak mau engkau akan mengembalikannya atau akan diambil paksa

والليل فاعلم و النهار كلاهما
أنفاسنا فيها تعد و تحسب
Ketahuilah nafas nafas kita pd malam dan siang dihitung dan akan dipertanyakan

تبا لدار لا يدوم نعيمها
و مشيدها عما قليل يخرب
Celaka bagi rumah yg tak kekal kenikmatannya, dan bangunan didalamnya sebentar lagi akan hancur

لا تحرصن فالحرص ليس بزائد
في الرزق بل يشقى الحريص و يتعب
Jangan kau serakah karna serakah tak menambah rizki, bahkan orang serakah akan lelah dan celaka

و اختر قرينك و اصطفيه تفاخرا
إن القرين إلى المقارن ينسب
Selektiflah dalam memilih teman dan Pilihlah teman yg baik, sebab seseorang identik dgn kawannya

واحرص على حفظ القلوب من الأذى
فرجوعها بعد التنافر يصعب
Berjuanglah menjaga hati orang jangan kau sakiti, sebab jika hati sudah membenci susah tuk kembali

إن القلوب إذا تنافر ودها
شبه الزجاجة كسرها لا يشعب
Sungguh hati orang" jika sudah tercerai berai, mirip kaca pecahannya tak bisa menyatu

وأحفظ لسانك و احترس من لفظه
فالمرء يسلم باللسان و يعطب
Pelihara lisanmu awasi ucapannya, sebab seseorang bisa selamat karna lidah bisa juga binasa

و كذاك سر المرء إن لم يطوه
نشرته ألسنة تزيد وتكذب
Bgitu jg rahasia seseorang jika dia tak melipat lidahnya, maka lidah" lainnya akan menyebarkan menambah dan berdusta

واجه عدوك بالتحية لا تكن
منه زمانك خائفا تترقب
Hadapi musuhmu dengan salam jangan kau takut kepadanya merasa diintai sepanjang tahun

واحذر من المظلوم سهما صائبا
و اعلم بأن دعاءه لايحجب
Hindari anak panah yg jitu milik orang yang terdholimi, ketahuilah bahwa doanya tak terbendung

و إذا أصابك في زمانك شدة
و أصابك الخطب الكريه الأصعب
Jika dimasamu engkau tertimpa bencana dan bahaya yg teramat susah

فالجأ لربك إنه أدنى لمن
يدعوه من حبل الوريد وأقرب
Maka Berlindunglah kepada Tuhanmu karna ia dengan orang yg memohon padanya lebih dekat dr pd urat lehernya

فلقد نصحتك إن قبلت نصيحتي
فالنصح أغلى ما يباع ويوهب
Aku Sudah menasehatimu jika engkau menerima nasehatku, ketahuilah bahwa nasehat adalah sesuatu yg paling mahal dijual dan dihadiahkan.
Share:

Manfaat Mentimun Buat Wanita



عَنْ عَائِشَةَ - رضي الله عنها- قَالَتْ : أَرَادَتْ أُمِّي أَنْ تُسَمِّنَنِي لِدُخُولِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقْبَلْ عَلَيْهَا بِشَيْءٍ مِمَّا تُرِيدُ حَتَّى أَطْعَمَتْنِي الْقِثَّاءَ بِالرُّطَبِ فَسَمِنْتُ عَلَيْهِ كَأَحْسَنِ السَّمْنِ

Dari 'Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, ”Ibuku ingin membuatku gemuk karena saya akan jadi pengantin Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-, akan tetapi saya sama sekali tidak menerima apa yang diinginkan ibunda saya sampai dia memberi saya makan mentimun dan ruthab (kurma yang basah dan belum terlalu matang), kemudian akupun jadi gemuk dengan gemuk yang ideal”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Selain itu, mengkonsumsi kurma dan mentimun bisa memperbesar ukuran payudara bagi kaum wanita.

Dalam ilmu pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar. Allah menyebut sayuran ini dalam surat al-Baqarah [2]: 61.

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَ

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. (QS. Al-Baqarah : 61)

Hasil penelitian modern menyebutkan bahwa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1% lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain, seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.

Beberapa khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa Hadist Nabi maupun dalam al-Qur`an yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesehatan, kebugaran, dan kecantikan. Mau cantik makanlah mentimun. Wallahu a'lam


Share:

DOA-DOA KETIKA MENUNTUT ILMU



*Do'a Penerang Hati*

اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ ﭐلأَرْضِ بِنُوْرِ شَمْسِكَ أَبَدًا بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“ Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya petunjuk-Mu sebagaimana Engkau bumi dengan matahari-Mu selama-lamanya, Ya Allah Yang Maha Mengasihani. ”

*Do'a Pembuka Hati*

اَللَّهُمَّ اَلْهِمْنِيْ رَشْدِيْ وَقِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ

“ Ya Allah, berikan aku petunjuk dan peliharalah aku dari kejahatan sendiri.”

*Do'a Sebelum Belajar *

اَللَّهُمَّ ﭐفْتَحْ عَلَيْنَا حِكْمَتَكَ وَﭐنْشُرْ عَلَيْنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“ Ya Allah, bukakanlah ke atas kami hikmat-Mu dan limpahkanlah ke atas kami khazanah-Mu, Wahai Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. ”

*Do'a Mengkaji Ulang Pelajaran*

اَللَّهُمَّ أَخْرِجْنِيْ مِنْ ظُلُمَاتِ ﭐلوَهْمِ وَأَكْرِمْنِيْ بِنُوْرِ ﭐلفَهْمِ وَﭐفْتَحْ عَلَيَّ بِمَعْرِفَتِكَ وَسَهَّلْ لِيْ أَبْوَابَ فَضْلِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

“ Ya Allah, jauhilah aku dari kebingungan, muliakanlah aku dengan cahaya ilmu dan pengertian, bukakanlah kepadaku makrifat-Mu, dan mudahkanlah bagiku pintu-pintu kurnia-Mu, wahai Yang Paling Pengasih di antara yang pengasih.”

*Do'a Sedang Belajar*

اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا فُتُوْحَ ﭐلعَارِفِيْنَ وَارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّـيْنَ وَإِلْهَامَ ﭐلمَلاَئِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحمِيِْنَ

“ Ya Allah, bukakanlah pintu hati kami sebagaimana orang-orang yang arif , Kurniakanlah kepada kami kefahaman Nabi-Nabi dan ilham para Malaikat yang hampir dengan-Mu, dengan Rahmat-Mu Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. ”

*Do'a Ketika Menghadapi Pemeriksaan*

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ 

“ Ya Allah, Lapangkanlah dada(jiwaku) dan permudahkanlah urusanku.”

*Do'a Mohon Diberi Kecerdasan Berfikir*

اَللَّهُمَّ اَلْهِمْنِيْ رَشْدِيْ وَأَعِذْنِى مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ

“ Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku kecerdasan dan lindungilah dari kejahatan nafsuku.” 

*Do'a Selepas Belajar*

اَللَّهُمَّ إِنِِِّيْ أَسْتَوْدِعُكَ مَا عَلِمْتَنِـيْهِ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ وَلاَ تَنْسَنِيـْهِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

*Do'a Dimudahkan Faham dan Hafal Pelajaran* ( Surah Al-Anbiya’: ayat 79) 

فَفَهَمْنَاهاَ سُلَيْمَانَ وَكُلاَّ اَٰتَيْناَ حِكْماً وَعِلْمً وَسَخََّرْناَ مَعَ دَاوُدَالجِْبَالَ يُسَّبِحْنَ وَالطَّيْرِ وُكناَّ فَاعِلِيْنَ , وَ ياَ حَيُّ يَا قَيُّومُ ياَ رَبَّ مُوسَىٰٰ وَهَارُوْنَ وَرَبَّ إِبْرَاهِيْمَ وَياَ رَبَّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ (صلى الله عليه وسلم) عَلَيْهِمْ أَجمْـَعِيْنَ , اَللَّّهُمَّ ارْزُقْنِيَ الفَهْمَ وَالعِلْمَ وَالحِكْمَةً وَالعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ

“ Kami fahamkan Sulaiman akan dia, dan masing-masing kami berikan hukum dan ilmu, kami tundukkan gunung-ganang dan burung kepada Daud, dan semuanya itu Kamilah yang membuatnya. Ya Allah, Tuhan Musa dan Tuhan Harun, Tuhan Ibrahim dan Tuhan sekalian makhluk, berilah aku rezeki, faham ilmu dan hikmah, dan fikiran dengan-Mu, Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih

*Do'a Atabatul Ghulam :* Merangsang Kecerdasan Akal

إِلَـٰهِيْ إِنْ كُنْتَ قَبِلْتَ تَوْبَتِيْ وَغَفَرْتَ حَوْبَتِيْ فَأَكْرِمْنِيْ بِالْفَهْمِ وَالحِفْظِ حَتَّىٰ أَحْفَظَ كُلَّ مَا سَمِعْتُ مِنَ العِلْمِ وَالقُرْءَانِ ۰إِلَـٰهِيْ أَكْرِمْنِيْ بِحُسْنِ الصَّوْتِ وَالنَّغْمَةِ حَتَّى أَنَّهُ مَنْ سَمِعَ قِرَاءََتِيْ يَزْدَادُرِقَّةً فِيْ قَلْبِهِ إِنْ كَانَ قَاسِيَ القَلْبِ ۰إِلَـٰهِيْ أَكْرِمْنِيْ بِالرِّزْقِ الحَلاَلِ وَارْزُقْنِيْ مِنْ حَيْثُ لاَ أَحْتَسِبُ ۰

“ Ya Allah, bila Engkau terima taubatku dan Engkau ampuni dosaku maka berilah aku kemuliaan dengan mudah faham dan mudah hafal, sehingga aku dapat menghafal semua yang aku dengar dari ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an. Ya Allah, berilah aku kemuliaan dengan bagus suara dan baik langgam suara, hingga sesiapa yang mendengar bacaanku hatinya merasa kasih sayang dan lemah lembut meskipun ada seseorang yang keras hati. Ya Allah, berilah kemurahan dengan rezeki yang tidak terkira.”

*Do'a Menerangkan Hati Supaya Dapat Memiliki Ilmu yang Luas dengan cepat* ( Surah Al-Kahfi : Ayat 107-110)

إِنَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّـٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً ﴿۱۰۷﴾ خَـٰلِدِيْنَ فِيْهاَ لاَ يَبْغُوْنَ عَنْهَا حِوَلاً ﴿۱۰۸﴾ قُل لَّوْكَانَ ﭐلْبَحْرُ مِدَادًالِّكَلِمَاتِ رَبِّى لَنَفِدَ ﭐلبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنَفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بَمِثْلِهِ مَدَادًا ﴿۱۰۹﴾ قُلْ إِنَّمَآ أَنَاْ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَىٰۤ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَـٰلِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ ۤ أَحَدَا۰

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, bagi mereka adalah syurga Firdaus menjadi tempat tinggal.(107). Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.(108). Katakanlah : “ Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ( ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”(109). Katakanlah : “ Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : “ Bahawa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(110)

*Do'a Pengunci Hafalan* ( Surah Al-A’raaf : Ayat 171) 

* Dibaca setelah selesai belajar untuk mengunci perkara-perkara yang telah dipelajari di dalam sistem ingatan. Boleh juga ditulis pada halaman pertama buku atau nota pelajaran.

وَإِذْ نَتَقْنَا الجِبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوۤۤاْ أَنَّهُ وَاقِعُ بِهِمْ خُذُواْ مَآءَاتَيْنَـٰكُم بِقُوَّةٍ وَﭐذْكُرُواْ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ﴿۱۷۱

“ Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahawa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka) : “Peganglah denagn teguh dengan apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa.”

سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ , وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَﭐللهُ أَكْبَرْ , وَلاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ , عَدَدَ كُلِّ حَرْفٍ كُتِبَ أَوْ يُكْتَبُ أَبَدَ الأَبِدِيْنَ وَدَهْرَ الدَّاهِرِيْنَ يَا رَبَّ العالَمِيْنَ 

“ Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah Tiada Tuhan melainkan Allah Maha Besar. Tiadalah daya dan kekuatan melainkan daya dan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Sebanyak setiap huruf yang telah ditulis (oleh manusia) atau yang akan ditulis. Terus menerus selama berkekalan kurun dan berterusan masa.
Share:

SEMANGAT ABUYA MUDA WALY

Abuya Prof. Dr. Muhibbuddin Waly berkata:
Mengenai ayahku dalam arti beliau mengamalkan ilmunya dengan mengajar adalah luar biasa. Aku katakan luar biasa, adalah melihat waktu waktu beliau yang penuh terisi selain waktu waktu ibadah. Pagi hari jam 6.00 beliau mengajar semua santri, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Lahiriahnya adalah untuk sekedar mengambil berkat ilmu pengetahuan pada beliau selaku guru besar, tetapi pada hakikatnya beliau menganjurkan pada semua kita supaya pada malam harinya harus membaca banyak, memahami dan mendalami apa yang akan dibaca esok paginya. Semuanya itu, terbuka pintu bagi para santri yang menanyakan segala sesuatu kepada kepada beliau pada matan atau lafaz yang beliau baca. Umpamanya kalau beliau membaca Al Fiah satu bait, tetapi kita harus membaca semua syarah Al Fiah dan kitab kitab nahu pada malamnya untuk mendebat beliau pada apa yang beliau baca. Ini adalah suatu cara ayahku membuka otak para santri untuk tidak hanya mengikut saja apa yang telah disampaikan oleh guru, tetapi tidak boleh terlepas dari ilmiahnya ilmu pengetahuan. Jam 9.00 pagi setelah beliau dhuha dan sarapan pagi beliau mengajar lagi sampai zuhur. Pada jam 2.00 siangnya setelah zuhur dan makan siang beliau mengajar lagi pada tingkat tinggi, dimana mahasiswa terdiri daripada seluruh guru dan kitab yang dibaca seperti Tuhfah dan Jam'ul Jawami' hingga sampai asar. Sesudah asar sementara menunggu magrib ayahku juga menyediakan waktu bagi siapa yang berminat menimba pengetahuan dari beliau. Barulah pada malam hari selain Selasa Malam, beliau habiskan waktunya sampai jam 11.00 malam bahkan lebih dengan ibadah ibadah pribadi beliau kepada Allah SWT.

Ada satu kejadian yang tidak dapat aku melupakannya. Pada waktu beliau sudah mulai sakit sakit, beliau memerintahkan bahwa pengajian untuk dras dari beliau tidak boleh berhenti, meskipun beliau sakit. Memang sakit benar, karena itu maka aku sampaikan kepada teman teman supaya kami hanya mendengar saja kuliah beliau, tidak boleh bertanya dan mendebat beliau karena beliau sakit. Rupanya karena kita semuanya diam, maka beliau marah, kenapa kita tidak bertanya kepada beliau dan kenapa kita mendebat beliau. Rupanya pertanyaan dan debat dari mahasiswa senior kepada beliau adalah obat paling penting bagi beliau. Sehat beliau pada waktu mengajar tetapi beberapa saat setelah selesai mengajar, beliau jatuh sakit lagi.

Apabila kepada kami ini selaku murid murid beliau senantiasa larang untuk mengikut saja atau taqlid saja kepada apa yang ditulis oleh para alim ulama atau yang telah disampaikan mereka. Apalagi bagi diri beliau sendiri terhadap para ulama yang kitabnya beliau baca. Apabila beliau mengajarkan kitab Tuhfatul Muhtaj, karangan Ibnu Hajar al-Haitami, maka beliau tidak sependapat dengan ulama yang menghasyiahkannya, diantaranya Abu Qasim al-'Ubbadi dan Syarwani. Pendapat ayahku itu sering ditulis pada pinggir pinggir kitab itu. Itulah sebabnya pada waktu aku, sebelum ke Cairo melanjutkan ilmu pengetahuanku di Universiti al-Azhar, beliau berwasiat: apabila kau bertemu dengan ulama yang tawadhu', yang salih dan tidak banyak macam-macam, jangan debat dia tetapi ciumlah tangannya dan mintalah doanya. Tetapi apabila kau bertemu dengan ulama yang gagah disebabkan ilmunya apalagi kalau dia merasa bangga dengan banyak ilmunya, maka debatlah dia sampai tuntas sehingga kau dapat bertambah ilmu dengan menimba daripadanya.

Inilah yang aku praktekkan, karena itu sebelum ke Cairo tangan Habib Ali Kwitang aku cium dan aku minta doanya, karena aku melihat Habib Ali Kwitang seorang hamba Allah yang salih, yang apabila beliau ingat kepada Rasulullah SAW beliau menangis dan terharu karena mahabbah kepada Nabi. Tetapi setelah aku berada di Cairo, yaitu pada akhirnya sebelum aku mengambil Doktor di Universitas Al Azhar, aku berbeda pendapat dengan Prof. Syeikh Muhammad Abu Zahrah. Hampir saja aku tidak lulus di al Azhar, karena aku menolak pendapatnya. Tetapi akhirnya oleh Fakultas Syariah dan Hukum Al Azhar mengambil jalan tengah  yaitu Syeikh Muhammad Abu Zahrah yang sedianya sebagai salah seorang panel penguji diganti dengan seorang ulama besar lainnya yang pernah menjadi kandidat Syeikh Al Azhar yaitu Prof. Muhammad Ali Saais. Demikianlah jasa jasa dari pada pengembangan ilmu pengetahuan agama yang dikembangkan ayahku melalui pesantren Darussalam yang beliau pimpin, sehingga membawa pembaharuan ilmu pengetahuan pada pesantren pesantren di seluruh Aceh (AYAH KAMI, MAULANA SYEIKH HAJI MUHAMMAD WALY AL- KHALIDY, hlm. 108-110).

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya untuk para ulama dan memudahkan kita semua untuk mengikuti jalan jalan hidup mereka. Amiin...
Share:

Kategori Artikel