Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Minggu, 21 Juni 2015

KIAT SEMANGAT DALAM RAMADHAN


1. BERDOA MEMINTA KEKUATAN BERIBADAH KEPADA     ALLAH


Rasulullah SAW mengajarkan kepada Sayyidina Mu'adz bin Jabal untuk mendawamkan membaca doa berikut setiap selesai sholat:

"Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik"

(Ya Allah Tolonglah aku agar senantiasa mengingatMu dan bersyukur kepadaMU serta mempersembahkan ibadah terbaik untukMu).

Hal ini dikarenakan bahwa kekuatan beribadah merupakan anugerah dari Allah dan kita tak dapat merasakan nikmatnya ibadah tanpa taufiq dari Allah.

Adalah Rasulullah SAW jika menghadapi Ramadhan berdoa:

"Allahumma Sallimna lirramadhan wa sallim Ramadhan Minna wa tasallimhu minna mutaqabbalan" 

(Ya Allah selamatkan aku sehingga mampu beribadah pada Bulan Ramadhan, selamatkan pula Ramdahan dari keburukan-keburukanku dan Jadikan amalku di dalamnya sebagai ibadah yang Engkau terima)



2. MENJAGA PENGLIHATAN, PENDENGARAN DAN                 UCAPAN DARI HAL-HAL YANG DIHARAMKAN

Hal tersebut karena ketiganya merupakan pintu masuk kebaikan dan keburukan dalam hati kita, jika kita bisa menjaganya maka semakin teranglah cahaya yang ada di dalam hati kita dan hal tersebut menjadi sebab semangatnya jiwa dan badan kita untuk terus beribadah kepada Allah.


3. MENGHADIRKAN ALLAH DI SETIAP IBADAH KITA

Hal yang sewajarnya bagi kita jika meningkatkan kuantitas ibadah kita di bulan Ramadhan, namun yang juga harus kita perhatikan adalah dengan kuantitas yang meningkat tersebut kita juga harus mampu menghadirkan Allah di setiap ibadah kita. 
Kita harus bisa menikmati bacaan quran kita dan memahaminya, tidak sekedar target satu hari satu juz atau lebih. Begitu juga dengan ibadah tarawih kita, jangan sekedar 20 rakaat tapi tak mendapat kenikmatan dalam sholat tersebut.

Selain itu, kita seharusnya mendisiplinkan ibadah kita di Bulan Ramadhan, jika perhari kita menargetkan 1 Juz maka dawamkanlah hal tersebut sesibuk apapun kita dan jika terlewat maka tunaikanlah itu di hari esoknya dengan tetap engkau lakukan targetmu pada hari tersebut (sebagaimana kita mengqodha' ibadah wajib kita yang terlewat).
Terkait sholawat tarawih, ikutilah pendapat jumhur empat madzhab dengan 20 raka'at dengan tanpa engkau menguranginya di setiap malam.
Demikian semoga Allah memberikan kita taufiq untuk beribadah sebaik mungkin di Bulan Ramadhan Mubarak ini.
Wallahu waliyuttaufiq.


(DISAMPAIKAN OLEH AL-HABIB ALI AL JUFRI) 
Share:

TADARRUS

Ajarkan Anak AlQuran
Tadarrus al Qur’an di bulan Ramadhan sangat dianjurkan agama . Jangan salah mengartikan tadarrus ini , karena makna tadarrus itu adalah :
“ Jika anda membacakan al Qur’an di hadapan orang lain dan dia menyimaknya , atau dia yang membaca alqur’an sementara anda menyimaknya .

Sehingga bukan sekedar anda membaca al Qur’an sendiri , karena membaca al qur’an sendiri ini sudah sangat di anjurkan pada setiap harinya tak perduli apakah Ramadhan ataukah tidak .

Kesunnahan membaca al Qur’an dengan sendiri atau membaca dengan tadarrus , tujuannya tidak lain adalah sama , yaitu memperbanyak membaca ayat – ayat suci alqur’an .

Namun secara khusus Tadarrus sangat di sunnahkan di praktekkan selama bulan puasa karena tersebut didalam shahih Bukhari – Muslim di riwayatkan bahwa : “ Setiap malam di bulan Ramadlan , Malaikat Jibril datang menemui Nabi SAW dan bertadarrus al Qur’an bersamanya.
Dengan cara apapun , yang paling besar pahalanya adalah setiap bacaan al Qur’an yang mampu menghadirkan hati ( khudhur ) , menumbuhkan hikmah serta cahaya didalamnya .

Allah Ta’ala berfirman : 
“ Sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu , yang diberkahi agar kamu bertadabbur atas ayat-ayatnya".
Firman Allah yang lain : “ Affala yatadabbaruunal Qur’an …
Apakah kalian tidak menghayati alqur’an ?

Para shahabat Nabi dan orang-orang shalih yang telah sampai kepada kemuliyaan derajat dan kebeningan hati yang tingggi , setiap kali mereka mendengarkan ayat-ayat alqur’an dibaca mereka langsung menangkap arti dan hikmah – hikmah di dalamnya , membuat maka hati mereka terguncang hebat , sampai sering kali mereka menangis sejadi – jadinya dan jatuh pinsan karenanya .

Karena itu Sayyidina Umar ra diriwayatkan tidak mampu untuk menghatamkan ( menghafalkan ) seluruh alqur’an selama hidupnya karena setiap kalii satu ayat dibacakan dihadapannnya , beliau seringkali tidak dapat menguasai diri dan jatuh pinsan sedemikian lama sehinggga orang –orangg di sekitarnya menyangka Sayyidina Umar telahh jatuh mati .
Bacaan al Qur’an yang seperti itulah yang membawa pahala yang tak terhingga . Bukan sekedar bacaan di ujung lidah dan bibir yang tidak memberikan pengaruh apapun kedalam hati pembaca atau pendengarnya .
Pada awal – awal perjalanan ruhaniyahnya , Sayyidinal Imam Abdullah al Haddad setiap kali membaca surah Yasin , maka beliau tidak dapat menguasai diri , menangis dan pinsan sedemikian rupa . Orang – orang pada susah membangunkannya dari pinsan itu dan akhirnya tubuh beliau digeletakkan begitu saja di dekat makam Sayyidinal Faqih Muqaddam .

Orang – orang kebanyakan seperti saya ( dan mungkin juga anda ) belum dapat merasakan al Qur’an sebagaimana yang mereka rasakan . Meskipun demikian , anjuran membaca al Qur’an tetap berlaku , karena setidaknya sudah mendapatkan pahala karena telah membaca atau mendengarkan ayat-ayat Firaman Allah Ta’ala.
Sudah cukup bagi orang – orang awam adalah niat itttiba                 ( mengikuti ) perintah agama . Ittiba’ membacanya dengan tartil , ini ada pahalanya sendiri .
Ittiba’ membacanya dengan menghadap kiblat , ini ada pahalanya juga .Ittiba’ membacanya dengan suara yang indah , ini juga ada .

Rasulullah SAW bersabda : “ Hiasilah alqur’an dengan merdunya suara kalian … Zayyinul Qur’a_na bias wa_tikum . “

“ Barang siapa yang tiada melagu dengan alQur’an maka bukanlah dia tergolong bagihan terbaik dari kita … Man lam yataghonna bil ur’ani falaysa minna .”

Asalkan bacaan – bacaan serta tadarrus tersebut tidak menghawatirkan munculnya Riya’ atau pamer . Maka sangat penting mengingatkan esensi ini kepada kebiasaan kaum muslimin negeri ini yang selama bulan Ramadlan seperti berlomba-lomba bertadarrus dengan pengeras suara di masjid dan mushalla – mushalla mereka .
Jangan sampai semangat menghidupkan bulan suci ini di ikuti dari belakang dorongan – dorongan rendah nafsu dengan tasannu’ dan berbuat Riya’
Kebanyakan para Habaib ( bahkan setiap bakda maghrib setiap harinya ) melakukan tadarrus di masjid atau mushalla mereka tanpa memakai pengeras suara berlebihan , karena hal itu lebih mendekatkan kepada ketulusan amal serta keikhlasannya.



  

Share:

Jumat, 19 Desember 2014

ABUYA PROFESOR MUHIBBUDIN WALY

Abuya Muhibbudin Waly tokoh mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Nangroe Aceh Darussalam.
ABUYA PROFESOR  MUHIBBUDIN WALY
Namanya Teungku     Dr. Muhibbudin Waly, putra dari Syaikh Muhammad Waly, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah Waliyah di tanah Rencong yang berasal dari nagari Minangkabau. Dari garis ayahandanya, yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Syaikh Muda Waly, mengalir darah ulama besar di Minang. Paman Syaikh Muda Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang wali Allah yang sangat termasyhur di tanah Minangkabau. Sebagaimana kedudukan pamannya, Syaikh Muda Waly juga mewarisi kharisma dan karomahnya. Konon beliau pernah memindahkan anaknya dari Minangkabau ke Aceh dalam sekejap mata. Syaikh Muda Waly, ayah Buya Muhibbudin adalah sahabat Syaikh Yasin al-Fadany Mekkah saat masih sama-sama berguru pada Sayyid Ali Al-Maliky, kakek dari Sayyid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky al-Maliky al-Hasany. Karena hubungan itu pula, ulama besar tersebut pernah mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Buya beberapa tahun lalu. Pertemuan berikutnya dengan Syaikh Yasin al-Fadani juga tidak berbeda. Sambil terus memegang tangannya, Syaikh Yasin kemudian memberikan ijazah atas semua hadits Rasulullah yang dikuasainya. Teungku Muhibbudin Waly belajar tarekat pertama kali dari ayahnya, yang membimbingnya meniti tarekat Naqsyabandiyah. Namun karena takzim, setelah dianggap cukup, Syaikh Muda Wali menyerahkan pengangkatan anaknya menjadi mursyid kepada gurunya, Syaikh Abdul Ghoni al-Kampary. Ahli Ushul Fiqh Saat itu di pesisir timur utara pulau Sumatera, ada dua orang guru mursyid besar yang tinggal di daerah Riau. Keduanya termasyhur min jumlatil aulia, termasuk golongan wali-wali Allah, yaitu Syaikh Abdul Ghoni Kampar yang murid-muridnya kebanyakan adalah para ulama dan Syaikh Abdul Wahhab Rokan yang murid-muridnya adalah orang-orang awam. Belakangan Buya Muhibbudin Waly juga mendapat ijazah irsyad, menjadi guru mursyid, Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dari ulama kharismatik KH. Shohibul Wafa` Tajul `Arifin (Abah Anom) pengasuh pesantren Suryalaya dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari guru besarnya Syaikh Muhammad Nadzim Al-Haqqany. Silaturahmi dan selalu belajar kepada para alim ulama memang sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging, bahkan hingga kini. Buya menceritakan nasihat ayahandanya, “Jika kau bertemu dengan orang alim, jangan pernah berdebat. Cukup dengarkan nasihatnya, bertanya seperlunya, minta doa dan ijazahnya lalu cium tangannya.” Syaikh Muhibbudin Waly mengambil gelar doktornya di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo dengan disertasi tentang Pengantar Hukum Islam. Waktu kuliahnya terbilang singkat yang diselesaikannya tahun 1971. Kini, setelah kesibukannya sebagai anggota DPR RI berakhir tahun 2004 lalu, Buya Muhibbudin Waly lebih banyak mengisi waktunya dengan mengajar tarekat, dan menulis. Saat ini ada beberapa buku tentang Tasawuf dan pengantar hukum Islam yang sedang ditulisnya, sambil menyempurnakan buku ensiklopedi Tarekat yang diberi judul Kapita Selecta Tarekat Shufiyyah. Waktu senggangnya juga dimanfaatkan untuk “meramu” tiga buah kitab yang diharapkan akan jadi pegangan para murid dan umat Islam pada umumnya. 
Tiga kitab tersebut adalah Tafsir Waly (Tafsir al-Quran), Fathul Waly (Syarah dari kitab Jauharatut Tauhid) dan Nahjatuh an-Nadiyah ila Martabat as-Shufiyyah (Sebuah kitab di bidang ilmu Tasawuf). Sebagai pewaris darah pujangga-pujangga Minangkabau, kemahirannya dalam menulis syair pun tak perlu diragukan lagi. Belum lama ini beliau mengijazahkan syair tawasul tarekat, yang digubahnya sendiri dalam dua bahasa Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan tentang proses perjalanan suluknya, yang diselingi dengan doa tawasul kepada para pendiri tarekat-tarekat besar dan guru-guru yang dimuliakannya. Kini, di usianya yang terbilang senja, Buya mengaku tidak lagi sekuat dulu dalam berkhidmah pada agama, nusa dan bangsa. Namun demikian beliau tetap berusaha melayani umat. Karena itu ia membagi jadwal kegiatan bulannannya menjadi tiga. Bulan pertama Buya tinggal di Jakarta, bulan kedua ia habiskan di Aceh dan bulan ketiga Tengku Muhibbudin melayani undangan ke daerah-daerah lain.

Allahummaghfirlahu warhamhu .
Share:

Rabu, 17 September 2014

BIOGRAFI SYECH IBNU 'ATHAILLAH ASSAKANDARY

Kelahiran dan keluarganya


Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al- Karim bin Athoillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Yastrib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aribah.
Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H. Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili - pendiri Thariqah al-Syadziliyyah sebagaimana diceritakan Ibnu Athoillah dalam kitabnya Lathoiful Minan Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan:
“Demi Allah, kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding. Keluarga Ibnu Athoillah adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang Ulama fiqih pada masanya.
Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al- Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Athoillah memang salah satu kota
ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’Sholihin.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Athoillah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang- terangan tidak menyukainya. 
Ibnu Athoillah menceritakan dalam kitabnya Lathoiful minan Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Athoillah yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Athoillah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan:
“Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi.Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ”Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. 
Dengan bijakNabi mengatakan : ” Tidak,, aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”.
Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Athoillah) demi orang yang alim fiqih ini.
Pada akhirnya Ibn Atho’illah memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf.

Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup
Athoillah menjadi tiga masa :


Masa pertama


Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih,usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh

pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Athoillah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya.


Masa kedua


Masa ini merupakan masa paling

penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf.
Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya :
“apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk
mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban,keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”. 
Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan
aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi. Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan    “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata :
“Tuanku, apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini
dan berkhidmat saja pada tuan?”.
Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan
sampai padamu juga”. Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.


Masa ketiga


Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Athaillah dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Allah pada tahun 709 H.


Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan IbnuAthoillah
dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.

Menurut Ibnu Athoillah, ruanganyang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi  orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Athoillah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping
tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. 
Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Athoillah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat- riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel
dan beliau menjadi simbol kebaikan”.
Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Athoillah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan
perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al- Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Tobaqoh al-syafiiyyah al- Kubro. Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn
Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Beliaulah yg ahirnya mampu menyadarkan seorang yg di klaim sebagai Imam para kaum puritan wahabi/salafi yg dulunya sangat menentang sebagian Kaum Shufi yaitu Imam Ibnu Taymiyyah, dari aqidah tajsim menjadi kembali ke aqidah asy’ariyyah dan tidak lagi membenci kaum shufi.

Karomah Ibn Athoillah

Al-Munawi dalam kitabnya Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: SyaikhKamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras
 “Wahai Kamal tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Athoillah ketika meninggal kelak. 
Di antara karomah pengarang kitabal-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Masa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya :
“Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya.


Ibn Atho’illah wafat

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.
Share:

Senin, 01 September 2014

SYAIR KEHIDUPAN

(Sungguh aneh) jika jiwa menangis karena perkara dunia (yang terluput)  padahal jiwa tersebut mengetahui bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkan dunia.
Tidak ada rumah bagi seseorang untuk ditempati setelah  kematian, kecuali rumah yang ia bangun sebelum matinya.
Jika ia membangun rumahnya (tatkala masih hidup) dengan amalan kebaikan maka rumah yang akan ditempatinya setelah matipun akan baik pula. 
Harta kita yang kita kumpulkan adalah milik ahli waris kita, dan rumah-rumah (batu) yang kita bangun akan rusak dimakan waktu.
Betapa banyak kota (megah) dipenjuru duniat telah dibangun, namun akhirnya rusak dan runtuh, dan kematian telah menyirnakan para penghuninya.
Dimanakah para raja dan pimpinan yang dahulu berkuasa? Agar mereka bisa meneguk cangkirkematian.
Janganlah engkau  condong kepada dunia, karena tidak diragukan lagi bahwa kematian pasti akan membuat dunia sirna dan membuat kita pun fana.
Hendaknya engkau beramal untuk rumah masa depan yang isinya adalah keridhaan Allah, dan tetanggamu adalah Nabi Muhammad serta yang membangunnya adalah Ar-Rahman (Allah yang maha penyayang) Bangunannya terbuat dari emas, dan tanahnya menghembuskan harumnya misik serta za’faran adalah rerumputan yang tumbuh di tanah tersebut, Sungai-sungainya adalah air susu yang murni jernih, madu dan khamar, yang mengalir dengan bau yang semerbak,Burung-burung berkicau di atas ranting dan dahan di atas pohon- pohon yang ada di surga.Mereka bertasbih memuji Allah dalam kicauan mereka.
Siapa yang hendak membangun surga firdaus maka hendaknya ia memenuhinya dengan shalat di dalam kegelapan malam.
Share:

ORANG YANG BANGKRUT

 Haramnya Berbuat Zhalim



Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada sahabatnya,apakah kalian tau siapa orang yang bangkrut?

Dijawab oleh para  sahabat Nabi : Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak punya uang, tidak punya harta, apabila berdagang ia rugi, dan lainnya.

Rasulullah Saw berkata : Bukan itu, orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yg datang di hari kiamat nanti dengan shalatnya, puasanya, dan zakatnya tapi karena lidahnya pernah memaki , menuduh zina , suka megambil harta orang, menyebabkan pertumpahan darah, dan memukul orang .Maka kemudian orang yang dicaci mengambil pahala yang mencacinya ,orang yang dizhalimi mengambil pahala dari orang yang mendzaliminya, orang yang dituduh zina mengambil pahala orang yang  menuduhnya dan seterusnya ,seperti itu berulang-ulang diambilkan satu persatu. Kalau sudah habis pahalanya, lalu belum beres urusannya. Maka kemudian diambilkan dosa-dosa orang yang didzalimi lalu diberikan bagi yg mendzalimi, dan dilemparkan mereka ke neraka .Na'uzubillah min zalik..

(HR. Imam Muslim)

Hikmahnya :
* Jangan lihat orang lain dalam memahami hadist ini, lihat diri ANDA?! * Koreksi diri anda berapa kali engkau menyakiti orang?
* Dzalimkah kita kepada sesama? Semoga Allah selalu melindungi segara langkah kita, dan semoga kita di jauhkan dari segala perbuatan yang membuat kita menjadi bangkrut di akhirat kelak..

Wallahu a'lam bissawab

Share:

Kategori Artikel