Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Senin, 19 September 2016

Ceramah Habib Ali Al Jufri = Kelompok Yang Memusuhi Nabi

Habib Ali Al Jufri : 


Melalui mimbar dan media, mereka menyebarkan propaganda atas nama agama dan syariah, dengan menyebarkan issue semacam : apakah orang tua nabi akan masuk surga atau neraka? Seolah mereka sedang duduk nyaman di dalam surga dan berhak menentukan siapa penghuninya. Tujuan dari hal ini tidak lain adalah untuk memisahkan ummat Islam dari (kecintaan terhadap) Nabi mereka!

Jika issue ini hanya menyangkut orang tua Nabi, kita mungkin masih bisa pura-pura mengabaikannya ...

Bagaimanapun juga pada saat yang sama, orang-orang ini menggunakan segala cara, sekalipun banyak kedhaliman di dunia ini, terdapat bukti bahwa cara-cara kotor ini bertujuan untuk menghapuskan semua kebaikan dari ummat (Islam)

Ayah nabi di neraka, Ibu Nabi di neraka ... baiklah, adakah yang lain? 

Kota Madinah menurut mereka tidak boleh disebut sebagai "Munawarah", melainkan hanya "Nabawiyyah".

Lalu bagaimanakah dengan keluarga nabi (Ahlul-Bayt)? (menurut orang-orang ini) mereka hanyalah "manusia biasa"! Mereka berpendapat bahwa (Ahlul-Bayt) sama seperti orang-orang yang lain, mengapa kalian (Ummat Islam) menyebut mereka istimewa? 

Kita tidak memiliki ajaran pengkultusan seperti ini dalam Islam!
Mereka juga berpendapat Al-Husayn (as) hanya seperti orang-orang lain, jadilah orang baik dan kalian akan seperti Al-Husayn. Sungguh aneh! apakah mereka sudah puas dengan semua tuduhan ini? belum ...

Lalu bagaimana dengan sahabat nabi? Ya mereka berbuat dosa dan kesalahan ...

Ibnu Umar mencari berkah dari makam (tawasul), tidak! mereka katakan bahwa Ibnu Umar salah!
Mereka sudah menyerang Ayah Nabi, Keluarga Nabi, Kota Nabi Keluarga Nabi dan sahabat Nabi ...

Apakah mereka sudah puas? Bagaimana dengan makam Nabi? kata mereka : "Mari kita hancurkan juga makam Nabi" Menurut mereka : "Tidak diperbolehkan untuk mencari berkah dari makam Nabi! Syirk, Syirk, Syirk!" Hal ini menurut mereka adalah perbuatan menduakan Allah (Syirik)!

Abdullah bin Umar dalam Shahih Bukhari mencari berkah dari podium Nabi mereka katakan itu salah!

Bagaimana dengan bersholawat pada Nabi? Tidak, tidak ... jangan keraskan suara kalian ketika bersholawat!

Mengeraskan suara ketika bersholawat pada Nabi adalah perbuatan bid'ah (menambahkan sesuatu dalam ajaran agama)!

Mengapa harus bersholawat pada nabi? Kalian (Ummat Islam) memperlakukan Nabi seperti umat Kristiani memperlakukan Isa putra Maryam!

Pasti ada sesuatu yang salah di sini, jika hanya tentang orang tua Nabi, keluarga Nabi maupun sahabat nabi kita mungkin masih bisa menganggap ini semua sebagai kesalahpahaman.

tapi bagaimana jika hal ini sudah menyangkut segala sesuatu tentang Nabi? Mereka katakan : "Beliau (Nabi) sudah mati! Tidak bisa memberikan manfaat apapun! Sudah selesai, Beliau (Nabi) sudah mati!"

Wahai kalian, kami akan berhaji. kami sudah bekerja seumur hidup untuk membeli tiket untuk mengunjungi kota Makkah dan sang Nabi.

Lalu mereka katakan : "Bukan merupakan suatu kewajiban dalam berhaji untuk mengunjungi (makam) Nabi!"

Lalu siapa yang mengatakan pada mereka bahwa hal ini merupakan suatu kewajiban dalam berhaji? Ini merupakan suatu kewajiban atas dasar kecintaan! Sesuatu yang tidak kalian mengerti!

Ada sesuatu yang mencurigakan di belakang semua ini! Masalahnya bukan hanya ada pada kesalahpaham!
Ada sesuatu (niat jahat) yang sedang terjadi di antara orang-orang ini dengan Nabi kita, Sayyidina Muhammad!

Mereka katakan mereka mencintai Nabi, jika mereka mencintai Nabi, akankah mereka menyerang beliau sedemikian rupa? Ayah dan Ibu Nabi di neraka?

Apa tujuan kalian menyebarkan issue-issue ini di kalangan Umat Islam? Sebagaimana telah saya tegaskan, dibalik semua issue ini adalah upaya untuk melenyapkan kecintaan di hati umat islam terhadap Nabi-nya!

Kita punya makam Sayyidah Zaynab di Mesir, lalu apa kata mereka? Alhamdulillah kami tidak pernah mengunjunginya!

Betapa bangganya kalian, apakah kalian bahagia? Beliau (Sayyidah Zaynab) tidak menginginkan kalian!
Karena jika beliau (Sayyidah Zaynab) menginginkannya, Allah pasti sudah memberikan kesempatan pada kalian untuk mengunjungi beliau!

Jika ada yang melakukan kesalahan di makam (berbuat syirik) dan melakukan hal yang sama di ka'bah, apakah kalian akan menghancurkan ka'bah sebagaimana kalian menghancurkan makam?

Ada segerombolan berandalan yang mencopet di lingkungan ka'bah, apakah kita kemudian harus meninggalkan ka'bah?
Ada yg melakukan kesalahan dalam sholat, apakah kita harus meninggalkan sholat? ada yg melakukan dosa dengan ayat Al-Quran, haruskah kita meninggalkan Al-Qur'an?

Sebarkanlah hal ini sehingga kita bisa mendengar dan belajar!

Ada (gerombolan) yang sedang memanipulasi sunnah, mereka menulis hadist-hadist palsu yang menyebarkan kebohongan (dan fitnah) tentang Nabi!

mereka katakan : Jika ada yg melakukan kesalahan tentang sunnah, mari kita tinggalkan sunnah ..

Mereka menginginkan kita tinggalkan Sunnah, Qur'an, ka'bah, Ahlul Bayt dan akhirnya meninggalkan Agama Allah! inilah tujuan akhir dari semua ini!

Ketika para musuh gagal menghancurkan agama Allah secara terang-terangan, mereka tanamkan di kalangan kita mereka yang seolah berbicara atas nama Islam tapi justru ingin mencabut Islam dari kita (umat Islam)!

Lalu kegelapan akan muncul di antara kita, mereka tidur sebagai Muslim dan bangun sebagai orang kafir!

Mengapa? karena menurut Rasulullah SAWW mereka telah menjual agama ALLAH dengan harga yang tidak pantas! 

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim
Share:

Apa kesalahan si Amr sampai si Zaid memukulnya

Salah satu kata yang sering keliru dalam penerjemahannya adalah kata عمرو yang diterjemahkan dengan Umar. Padalah kata Umar (عمر) berbeda dengan عمرو yang memakai huruf waw pada akhirnya. Terjemahan yang tepat dari kata عمرو adalah Amrseperti nama sahabat yang masyhur Amr bin al-‘Ash.
Yang menarik adalah kenapa ada huruf waw ?
Para ulama bahasa Arab menyebutkan bahwa alasan penambahan huruf waw adalah untuk membedakannya dengan kata Umar tadi (عمر). Yang menarik lagi adalah sebenarnya huruf waw tersebut tidak memberi pengaruh sama sekali dalam kaedah gramatikal bahasa Arab, baik itu dari sisi ilmu nahwu ataupun sharf. Murni dengan tujuan membedakannya dengan Umar, yaitu ketika kata tersebut dalam posisi rafa’ atau khafad/jarr. Sedangkan ketika nashab, huruf waw tersebut tidak ada. Kenapa ? karena Umar adalah isim yang tidak bertanwin (karena termasuk ‘alam ma’dul). Dalam posisi nashab, Umar tetap ditulis عمر tanpa alif rasm nashab, sedangkan Amr ditulis عمرا.
Amr yang Terzalimi
Kata Amr (عمرو) adalah salah satu kata yang sering dijadikan contoh dalam kitab ilmu nahwu dan sharf. Kemunculan kata Amr hampir sebanyak kata Zaid (زيد). Menurut para guru kita, penggunaan kata Zaid dalam contoh ilmu nahwu dan sharf memiliki filosofi tersendiri. Kata Zaid merupakan salah satu derivasi dari bentuk زاد – يزيد – زيدا yang secara bahasa berarti bertambah. Menurut guru kita, hal ini menyiratkan adanya doa untuk para pelajar agar ilmunya senantiasa bertambah, selalu bertambah sebagaimana seringnya kata Zaid ditemukan.
Lalu apa filosofi dari kata Amr (عمرو)?
Ada sebuah kisah tentang hal ini. Kisah ini -terlepas benar atau tidaknya- menyebutkan alasan tersebut. Kisah ini menurut sebagian orang terjadi pada zaman khilafah Bani Abbas ketika kekuasaan Khalifah Harun al-Rasyid, dan sebagian lagi mengatakan terjadi pada zaman khilafah Utsmaniyah (Ottoman).
Dikisahkan salah seorang Menteri Kerajaan bernama Daud ingin mempelajari kaedah bahasa Arab. Lalu dia menghadirkan salah seorang ulama di negerinya. Ia pun memulai mempelajari kaedah nahwu dan sharf sebagaimana biasa dipelajari.
Suatu hari dia bertanya kepada gurunya,
“Apa kesalahan si Amr sampai si Zaid memukulnya tiap hari (ضرب زيد عمرا)?”
“Apakah derjat Amar lebih rendah dari Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan Amr tidak bisa membela dirinya?”
Sang Menteri menanyakan hal ini sembari menghentakkan kakinya ke tanah sambil marah.
Gurunya menjawab, “tidak ada yang dipukul ,tidak ada yang memukul wahai Menteri. Ini cuma permisalan saja yang dibuat ulama nahwu supaya memudahkan dalam mempelajari ilmu bahasa itu.”
Jawaban ini ternyata tidak memuaskan sang Menteri. Dia marah lalu memenjarakan gurunya tersebut.
Sang Menteri kemudian menyuruh bawahannya untuk mencari ulama nahwu yang lain. Dia lalu memberikan pertanyaan yang sama kepada mereka, dan jawaban mereka pun ternyata tidak jauh beda dari jawaban ulama yg pertama tadi. Satu persatu ulama pun dipenjara akibat jawaban yang mereka berikan tidak bisa memuaskan sang Menteri. Madrasah-madrasah pun mulai sunyi akibat para ulamanya terpenjara. Hal ini kemudian jadi bahasan dimana-mana. Setiap ulama berusaha untuk mencari jalan keluarnya.
Pada akhirnya seorang ulama datang kepada sang Menteri untuk mencoba memberikan jawaban. Daud sang Menteri pun bertanya kepadanya, “Apa kesalahan Amr sehingga ia dipukul oleh Zaid dalam contoh-contoh ilmu nahwu dan sharf ?
Ulama tersebut pun berkata, “kesalahan Amr adalah karena ia telah mencuri huruf waw yg seharusnya itu milik Anda wahai Menteri”.
“Maksudnya?” tanya sang Menteri sambil keheranan.
Ulama tersebut menjawab, “ Amr (عمرو) telah mengambil huruf waw yang seharusnya milik Daud ( داود ). Kata Daud mestinya ada huruf waw untuk menguatkan harkatdlammah pada waw (maksudnya, semestinya ditulis داوود ). Harkat dlammah yang terdapat pada huruf wawnama Anda (Daud) mestinya diiringi setelahnya denganwaw, karena ia membutuhkannya. Tapi Amr telah mencuri huruf waw tersebut walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya (maksudnya, sebenarnya pada kata عمرو tidak perlu ada waw karena memang sama sekali tidak berpengaruh) “.
Oleh karena itulah ulama bahasa Arab memberi kuasa kepada Zaid untuk memukul Amr (maksudnya pada contoh yang masyhur  ضرب زيد عمرا ) sebagai hukuman karena ia telah mencuri huruf waw.
Sang Menteri pun merasa puas dengan jawaban tersebut dan memuji sang Ulama. Ia lalu menawarkan hadiah kepada sang ulama. “Silahkan kamu minta hadiah apa saja !”.
Sang Ulama berkata, “Saya cuma minta agar para ulama yang anda penjarakan dibebaskan semuanya”.
Maka Menteri itu pun mengabulkan permintaan sang Ulama. Akhirnya semua ulama yang dipenjara dibebaskan serta diantarkan kembali ke madrasah-madrasah mereka dengan hadiah.
Bakr dan Ali
Selain Zaid dan Amr, nama lain yang sering dijadikan contoh dalam ilmu nahwu adalah Bakr (بكر) dan Ali (علي). Bakr secara bahasa berarti berpagi-pagi atau bersegera. Makna filosofisnya adalah agar para murid menjadi orang yang semangat dalam menuntut ilmu, bersegera, tepat waktu, serta tidak menunda-nunda dalam menuntut ilmu. Sedangkan Ali yang secara bahasa berarti tinggi, maknanya adalah doa agar para murid ditinggikan derjatnya oleh Allah karena ilmu yang ia pelajari.[]
*Dari beberapa sumber, di antaranya yang masyhur adalah kitab al-Nazharat karya Syeikh Musthafa Luthfi al-Manfaluthi.
Share:

Ajarkan Anak Aqidah Yang Benar


Ajarkan kepada anak-anak kita, saudara-saudara kita aqidah golongan yang selamat  (al-firqah an-najiyah) di akhirat kelak; aqidah para malaikat, aqidah para nabi dan rasul, aqidah penduduk surga, bahwa : 

✅ Allah ada (الله موجود)

✅ ada-Nya tanpa permulaan; tidak didahului dengan ketiadaan.

✅ ada-Nya tidak berakhir, tidak berlaku bagi-Nya kesudahan.

✅ Allah adalah Pencipta semua makhluk (semua benda dan sifat-sifat benda)

✅ Allah tidak membutuhkan ciptaan-Nya, 

✅ Allah tidak berada di langit 

✅ Allah tidak duduk di 'Arsy,

✅ Allah tidak bersemayam; tidak berada di atas  'Arsy; Allah tidak bertempat di atas 'Arsy,

✅ Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah dan Dia tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk-Nya sama sekali [Allaah-u Mawjuud-un Bilaa Kayf-in wa Laa Makaan : الله موجود بلا كيف ولا مكان].

✅ Apapun yang terlintas atau tergambar dalam pikiranmu (tentang Allah), maka Allah tidak menyerupai semua lintasan itu [mahmaa tashawwarta bibaalik-a, fallaahu bikhilaafi dzaalik-a : مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك].
Share:

Habib Abu Bakar bin Muhammad

Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf adalah seorang imam di lembah Al-Ahqof. Garis keturunannya yang suci ini terus bersambung kepada ulama dari sesamanya hingga bermuara kepada pemuka orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang, seorang kekasih nan mulia Nabi Muhammad S.A.W .

Silsilah beliau adalah : Habib Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam Wadi Al-Ahqaf Umar bin Segaf bin Muhammad bin Umar bin Toha bin Umar Ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawiliyah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al- Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad An- Naqib bin Ali-‘Uraidhi bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az- Zahra binti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.

Habib Abu Bakar terlahir di kampung Besuki (salah satu wilayah di kawasan Jawa Timur) tahun 1285 H. Ayahnya wafat di kota Gresik, sementara ia masih berumur kanak-kanak. Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena power (kekuatan) dan kejernihan rohaninya, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya.

Tahun 1293 H., atas permintaan neneknya yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayahnya), ia merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya, Jawa. Di kala Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf akan sampai di kota Sewun, ia di sambut di perbatasan kota oleh paman sekaligus gurunya yakni Habib Abdullah bin Umar berikut para kerabat.

Dan yang pertama kali dilantunkan oleh sang paman bait qosidah Habib al-Arifbillah Syeh bin Umar bin Segaf seorang yang paling alim di kala itu dan menjadi kebanggaan pada jamannya. Dan ketika telah sampai ia dicium dan dipeluk oleh pamannya. Tak elak menahan kegembiraan atas kedatangan sang keponakan dan melihat raut wajahnya yang memancarkan cahaya kewalian dan kebaikan berderailah air mata kebahagiaan sang paman membasahi pipinya.

Hati para kaum arifin memiliki ketajaman pandang. Mampu melihat apa yang tak kuasa dilihat oleh pemandang. Perhatian dan didikan sang paman telah membuahkan hasil yang baik pada diri sang keponakan. Ia belajar kepada sang paman Habib Abdullah bin Umar ilmu fiqh dan tasawuf, sang paman pun suka membangunkannya pada akhir malam ketika masih berusia kanak-kanak guna menunaikan shalat tahajjud bersama-sama, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mempunyai hubungan yang sangat kuat dalam menimba ilmu dari para ulama dan pemuka kota Hadramaut. Mereka (para ulama) telah mencurahkan perhatiannya pada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf.

Maka Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf banyak menerima dan memperoleh ijazah dari mereka. Diantara para ulama terkemuka Hadramaut yang mencurahkan perhatian kepadanya, adalah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, (seorang guru yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf).

Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi telah menaruh perhatian kepada Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf semenjak masih berdomisili di Jawa sebelum meninggalkannya menuju Hadramaut.

Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang murid seniornya, “Perhatikanlah! Mereka bertiga adalah para wali, nama, haliyah, dan maqom (kedudukan) mereka sama. Yang pertama adalah penuntunku nanti di alam barzakh, ia adalah Quthbul Mala Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aidrus, yang kedua, aku melihatnya ketika engkau masih kecil ia adalah Habib Al-Ghoust Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan yang ketiga engkau akan melihat sendiri nanti di akhir dari umurmu.”

Tatkala memasuki tahun terakhir dari umurnya, ia bermimpi melihat Rosulullah S.A.W. sebanyak lima kali berturut-turut selama lima malam, sementara setiap kali dalam mimpinya Rasulullah S.A.W. mengatakan kepadanya (orang yang bermimpi) : “ Lihatlah di sampingmu, ada cucuku yang sholeh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ” ! Sebelumnya orang yang bermimpi tersebut tidak mengenal Habib Abu Bakar Assegaf kecuali setelah dikenalkan oleh Baginda Rasul Al-Musthofa S.A.W. didalam mimpinya. Lantas ia teringat akan ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dimana beliau pernah berkata “Mereka bertiga adalah para wali, nama dan kedudukan mereka sama “. Setelah itu ia (orang yang bermimpi) menceritakan mimpinya kepada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia.

Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan dan sekaligus menikahkannya. Selanjutnya (diantara para masyayikhnya) adalah Habib Abdullah bin Umar Assegaf sebagai syaikhuttarbiyah, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi sebagai syaikhut taslik, juga Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban sebagai syaikhul fath. Guru yang terakhir ini sering memberi berita gembira kepadanya, ”Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu Habib Umar bin Segaf.”

Sekian banyak para ulama para wali dan para kaum sholihin Hadramaut baik itu yang berasal dari Sewun, Tarim dan lain-lain yang menjadi guru Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seperti Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, Habib Abdurrahman Al-Masyhur, juga puteranya Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur, dan juga Habib Syekh bin Idrus Al-Idrus dan masih banyak lagi guru-guru yang lainnya.

Pada tahun 1302 H, ditemani oleh Habib Alwi bin Segaf Assegaf , Habib Abu Bakar Assegaf pulang ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki. Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik sambil terus menimba ilmu dan meminta ijazah dari para ulama yang menjadi sinar penerang negeri pertiwi Indonesia, sebut saja Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas, Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad, Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdlar, dan lain sebagainya.

Kemudian pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari jum’at ketika sang khatib berdiri diatas mimbar beliau mendapat ilham dari Allah S.W.T. bergeming dalam hatinya untuk mengasingkan diri dari manusia semuanya. Terbukalah hatinya untuk melakukannya, seketika setelah bergeming ia keluar dari masjid jami’ menuju rumah kediamannya. Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ber-uzlah atau khalwat (mengasingkan diri) dari manusia selama lima belas tahun bersimpuh dihadapan Ilahi Rabbi. Dan tatkala tiba saat Allah mengizinkan ia untuk keluar dari khalwatnya, gurunya Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepadanya untuk mengakhiri masa khalwatnya, Habib Muhammad Al-Habsyi berkata : “Selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya”, lantas ia menggandeng Habib Abu Bakar Assegaf dan mengeluarkannya dari khalwatnya. Kemudian masih ditemani Habib Muhammad Al-Habsyi menziarahi Habib Alawi bin Muhammad Hasyim, setelah itu meluncur ke kota Surabaya menuju ke kediaman Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Sambil menunjuk kepada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin “ Ini Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk mutiara berharga dari simpanan keluarga Ba’Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia”.

Setelah itu ia membuka majlis ta’lim dirumahnya, ia menjadi pengayom bagi mereka yang berziarah juga sebagai sentral (tempat rujukan) bagi semua golongan diseluruh penjuru, siapa pun yang mempunyai maksud kepadanya dengan dasar husnudz dzan niscaya ia akan meraih keinginannya dalam waktu yang relatif singkat. Di rumahnya sendiri, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin lebih dari 40 kali.
Pada setiap kali hatam ia selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya), terbukti dengan dibacanya dalam majlisnya sejarah dan kitab-kitab buah karya para aslafnya.

Adapun maqom (kedudukan) Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengannya. Berikut ini beberapa komentar dari mereka.
Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar berkata : ”Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya.”
Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad berkata :”Sesungguhnya Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb al Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT.”
Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi pernah berkata di rumah Habib Abu Bakar Assegaf dikala ia membubuhkan tali ukhuwah antaranya dengan Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi berkata kepada para hadirin ketika itu : “Lihatlah kepada saudaraku fillah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Lihatlah ia..! Maka melihat kepadanya termasuk ibadah.”

Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad berkata :”Sesungguhnya Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Ia adalah penguasa saat ini, ia telah berada pada Maqom As Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu. Ia berhak untuk dikatakan “Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat).”

Kalam salaf Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf diantaranya…. “Keberkahan majlis bisa diharapkan bila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majlis itu pada intinya adalah adab, sedangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, aku anjurkan kepada kalian, hadirilah majlis-majlis kebaikan. Ajaklah anak-anak kalian ke sana dan biasakan mereka untuk mendatanginya agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majlis-majlis yang baik pula.

Sekarang ini aku jarang melihat para pelajar yang menghargai ilmu. Banyak ku lihat mereka membawa mushhaf atau kitab-kitab ilmu lainnya dengan cara tidak menghormatinya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat-tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu, tapi mencintai nilai semata-mata …… Aku pun teringat pada nasihat Habib Ahmad bin Hasan al-‘Aththas: “Ilmu adalah alat. Meskipun ilmu itu baik, ia hanya alat, bukan tujuan. Oleh kerananya, ilmu harus diiringi adab,akhlak dan niat-niat yang shalih. Ilmu demikianlah yang dapat mengantarkan seseorang kepada ketinggian maqam ruhaniah.”

Para auliya’ bersepakat, bahwa Maqam Ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqam yang lain. Hal ini tidak lain adalah buah dari Ittiba’ (keteladanan) beliau yang tinggi terhadap Nabinya SAW. Adapun kesempurnaan Istiqamah merupakan puncak segala karamah. Seorang yang dekat dengan beliau berujar bahwa aku sering kali mendengar beliau mengatakan:
“Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku, maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah”.

Pada saat menjelang ajalnya, seringkali beliau berkata “Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah” maka sebelum kemangkatannya ke rahmat Allah, beliau mencegah diri dari makan dan minum selama lima belas hari, namun hal itu tak mengurangi sedikitpun semangat ibadahnya kepada Allah SWT. Setelah ajal kian dekat menghampirinya, diiringi kerinduan berjumpa dengan khaliqnya, Allah pun rindu bertemu dengannya, maka beliau pasrahkan ruhnya yang suci kepada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi. 

Di saat terakhir hayatnya Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf melakukan puasa selama 15 hari. Beliau wafat pada hari Ahad malam Senin, hari ke tujuh belas di bulan Dzulhijjah 1376 H, dalam usia 91 tahun, dimakamkan di pemakaman Masjid Jami’ Alun-Alun, Gresik, Jawa Timur.
Share:

HUMOR ULAMA = Sulitnya Membujuk Sang Guru

Imam adz-Dzahabi rahimahullåhu pernah menyebutkan di dalam Siyar A'lâmin Nubalâ'_ (IX/567) sebuah kisah yang menarik namun lucu. Beliau rahimahullåhu berkata :

Dikisahkan bahwa murid-murid Imam *'Abdurrazzåq ash-Shon'ânî* rahimahullåhu_ pernah mengetuk rumah beliau dengan kencang. Sontak, Imam ash-Shon'ânî pun keluar menemui mereka dalam keadaan marah, lantas mengatakan :
 والله لا أحدثكم شهراً 

```Demi Allåh, saya tidak akan berbicara (mengajar/menyampaikan hadits) kepada kalian selama sebulan.```

(Hal ini menyebabkan murid-murid beliau merasa bersalah). Lantas mereka pun menghubungi (baca : melobby) tetangga beliau (agar bisa membujuk Syaikh), namun ditolak. 

Lalu mereka mendatangi sahabat-sahabat Syaikh (untuk membujuk), namun juga ditolak (Syaikh tidak mau menemui mereka). 

Akhirnya, mereka memutuskan untuk menemui isteri beliau, dan memberi hadiah kepadanya agar isteri beliau bisa menjadi mediator (syafa'at). 

Pada hari berikutnya, Syaikh mengundang mereka untuk belajar hadits. Hal ini menyebabkan mereka keheranan atas sikap Syaikh yang mau menerima mereka dan beliau telah berlapang dada! 

Syaikh pun memandang mereka dengan tersenyum, lalu mengatakan :

ليس الشفيعُ الذي يأتيك مؤتزراً
مثلُ الشفيع الذي يأتيك عُريانا ... 

Mediator (syafi') yang mendatangimu dengan berpakaian, tentunya berbeda dengan mediator yang mendatangimu dengan tidak berpakaian (telanjang)

*FAIDAH*
➖ Kewajiban untuk menghormati ulama dan tidak melakukan perbuatan yang dapat mengganggu mereka, seperti mengetuk pintu rumah dengan keras, menyapa dengan berteriak kencang di jalan, dll. 

➖ Bolehnya ulama marah terhadap murid karena perbuatan jelek mereka dalam rangka untuk menegur dan mendidik mereka. 

➖Bolehnya guru menghukum murid dengan cara tidak mengajar mereka selama beberapa waktu. 

➖Perlunya murid berusaha untuk meminta maaf kepada guru jika telah melakukan kesalahan, dan pantang menyerah untuk terus berusaha meminta maaf. 

➖Bolehnya menjadikan orang-orang dekat sang guru sebagai mediator (syafi') untuk membujuk sang guru. Termasuk minta tolong kepada isteri beliau.
Share:

Minggu, 18 September 2016

Bahaya Gila Popularitas




Bisyr bin Harits berkata:

Orang yang gila popularitas tidak akan merasakan manisnya akhirat. 

لا يجد حلاوةَ الآخرة رجلٌ يحِبّ أن يعرفه الناسَ

(Kitab at-Tawadhu wal Khumul karya Ibnu Abi Dunya)

Jabir ar-Rahbi rahimahullah ta'ala berkata:

لا تحب ان تعرف ولا تحب ان يعرف انك ممن لا يحب ان لا يعرف


"Janganlah kalian suka untuk dikenal (populer) dan janganlah kalian senang dikenal sebagai orang yang tidak suka dikenal".
Share:

Kategori Artikel