Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Rabu, 27 Juli 2016

Syair Imam Syafi'i tentang belajar



Syair Imâm asy-Syâfi’i: “Selamat Tinggal Rasa Malas”


Imâm asy-Syâfi’i rahimahullâh berkata dalam syairnya:

تَصَبَّرْ عَلَى مُرِّ الجَفَا مِنْ مُعَلِّمٍ ** فَإِنَّ رُسُوْبَ الْعِلْمِ فِيْ نَفَرَاتِهِ

“Bersabarlah atas pahit getirnya jauh dan asing dari Sang Guru ** Karena bersemayamnya ilmu (di dalam hati-pent), diraih dari talqîn dan penjelasan Sang Guru (maka janganlah berpaling darinya-pent).”

فَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَعَلُّمِ سَاعَةً ** تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُوْلَ حَياتِهِ

“Barangsiapa belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat ** Ia kan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”

وَمَن فاتَهُ التَعليمُ وَقْتَ شَبابِهِ ** فَكَبِّر عَلَيْهِ أَربَعاً لِوَفاتِهِ

“Barangsiapa menyia-nyiakan waktu menuntut ilmu di masa mudanya ** Maka bertakbirlah empat kali  atas kematiannya (maksudnya: shalati jenazah orang tersebut, karena pada hakikatnya orang yang menyia-nyiakan masa mudanya, adalah orang yang telah lama mati sekalipun ia masih berjalan di muka bumi-pent).”

Penyair lain berkata…[1]

اُطْلُبِ الْعِلمَ وَلَا تَكْسَلْ فَمَا ** أَبْعَدَ الْخَيْرَ عَلَى أَهْلِ الْكَسَلْ

“Tuntutlah ilmu, dan jangan malas. ** Betapa jauhnya kebaikan dari seorang pemalas.”

وَاحْتَفِلْ لِلْفِقْهِ فِي الدِّيْنِ وَلَا ** تَشْتَغِلْ عَنْهُ بِمَالٍ أَوْ خَوَلْ

“Timbunlah kafaqihan dalam agama ** Dan jangan engkau disibukkan darinya dengan harta dan hamba sahaya—wanita—).”

وَاهْجُرِ النَّوْمَ وَحَصِّلْهُ فَمَنْ ** يَعْرِفِ الْمَطْلُوْبَ يَحْقِرْ مَا بَذَلْ

“Jauhkan diri dari tidur (berleha-leha), dan panenlah ilmu ** Barangsiapa mengenal nilai sebuah tujuan yang mulia (yaitu: ilmu), maka ia akan meremehkan segenap pengorbanan—untuk meraihnya—.”

لَا تَقُلْ قَدْ ذَهبَتْ أَرْبَابُهُ ** كُلُّ مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلْ

“Jangan pernah berkata: ‘Sudah berlalu masa para alim ulama (kita tidak mungkin menyamai tingginya pencapaian mereka-pent).’ ** Karena siapa saja yang menempuh suatu jalan, dia pasti akan sampai pada tujuan (sekalipun tujuan tersebut amatlah jauh dan tinggi-pent).”

[1] Konon ini diucapkan oleh Ibnul Wardi (Abu Hafsh Zainuddin ibn al-Wardi) wafat: 749-H. Seorang pakar sejarah dan sastrawan yang terkenal.
Share:

Doa dan Adab Bersetubuh

Doa Doa Ketika Besenggama - Terjemah Fathul Izar

Doa Doa Ketika Bersetubuh/Jima' 
بيان أدعية الحرث
قال تعالى وقدموا لأنفسكم الآية اي قدموا ما يدخر لكم من الثواب كالتسمية عند الجماع وطلب الولد، روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قال بسم الله عند الجماع فأتاه ولد فله حسنات بعدد انفاس ذلك الولد وعدد عقبه الىيوم القيامة، وقال صلى الله عليه وسلم خياركم خياركم لنسائهم الحديث
DO’A KETIKA BERSENGGAMA
Allah SWT. Berfirman :
وَقَدِّمُوْالأَِنْفُسِكُمْ الأية
Artinya : “Dan kerjakanlah kebaikan untuk dirimu.” (QS. Al-Baqarah :223)

Tafsir dari ayat ini adalah : Carilah pahala sdh tersedia untuk kamu semua seperti membaca basmalah dan berniat mendapatkan anak ketika melakukan senggama. Telah diriwayatkan Sesungguhnya Rasulullah bersabda :
مَنْ قَالَ بِسْمِ اللهِ عِنْدَ الْجِمَاعِ فَأَتَاهُ وَلَدٌ فَلَهُ حَسَنَاتٌ بِعَدَدِأَنْفَاسِ ذَلِكَ الْوَلَدِ وَعَدَدِ عَقِبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya : “Barangsiapa yang membaca basmalah ketika melakukan Jima' kemudian dari hasil persetubuhan itu dia dikaruniai seorang anak maka ia memperoleh pahala sebanyak nafas anak tersebut dan keturunannya hingga hari kiamat.

Dan Nabi bersabda :
:خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
Artinya : “Manusia yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya.”
 او كما قال،ولبعضهم فيها ترتيب عجيب وهو أن الرجل اذا اراد ان يجامع زوجته ينبغي ان يقول اولاالسلام عليكم يا باب الرحمن فتقول زوجته مجيبة له وعليكم السلام يا سيد الأمينفيأخذ يديها  ويقول رضيت بالله ربا ثم يغمز ثدييها ويقول اللهم صل علىسيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد ثم يقبل ناصيتها قائلا يا لطيف الله نور على نورشهد النور على من يشاء ثم بعد ذلك يميل رأسها  الى الجانب الأيسر ويقولفي سمعك الله سميع مقبلا ونافخا أذنها اليمنى نفخا يسيرا ثم يميل رأسها إمالةلطيفة الى الأيمن ويقول ما ذكر في أذنها اليسرى كذلك ثم يقبل عينيها اليمنىفاليسرى قائلا اللهم انا فتحنا لك فتحا مبينا ثم يقبل خديها اليمنى فاليسرى يقوليا كريم يا رحمن يا رحيم يا الله ثم يقبل أنفها قائلا عند ذلك فروح وريحان وجنةنعيم ثم يقبل كتفها ويقول يا رحمن الدنيا يا رحيم الآخرة ثم يقبل رقبتها ويقولالله نور السموات والأرض ثم يقبل ذقنها ويقول نور حبيب الإيمان من عبادك الصالحينثم يقبل راحتيها اليمنى فاليسرى قائلا عند ذلك ما كذب الفؤاد ما رأى ثم يقبل مابين ثدييها ويقول وألقيت عليك محبة مني ثم يقبل صدرها اليسرى بحذاء قلبها ويقول ياحي يا قيوم ثم يجامع
Ulama”memiliki urut-urutan doa dan etika yang menakjubkan, yaitu ketika suami akan menjima'nya patut baginya mengucapkan  Salam :

Ucapan Salam Kepada Istri
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا بَابَ الرَّحْمنِ
Dan Isteri menjawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ يَا سَيِّدَ اْلأَمِيْنِ
Artinya : “Keselamatan atas kamu pula, hai tuan yang dipercaya.”

Doa Memegang Tangan Istri
Selanjutnya suami memegang kedua tangan isteri, seraya berdoa :
رَضِيْتُبِا للهِ رَبَّا
Artinya : “Aku telah ridho Allah sebagai Tuhanku.”

Doa Meremas Payudara Istri
Kemudian ia meremas kedua payudara isterinya sambil membaca Sholawat kepada nabi :
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Doa Mencium Kening Istri
Kemudian mengecup kening isteri sambil mengucap Dzikir :
يَالَطِيْفُ اَلله نُوْرُ عَلَى نُوْرٍ شَهِدَ النُّوْرَ عَلَى مَنْ يَشَاءُ
Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Halus, Cahaya Allah Di atas segala cahaya.Cahaya itu telah menerangi siapa saja yang dikehendakinya.”

Doa Meniup Kuping Istri
Selanjutnya suami memiringkan kepala isteri ke sebelah kiri sambil mencium dan meniup telinga sebelah kanan, dilanjutkan kepala isteri ke sebelah kanan sambil mencium dan meniup telinga kiri. dengan membaca :
فىسمعكِ الله ُسَمِيْعٌ
Artinya : “Allah mendengarkanmu, Allah Maha Mendengar.”

Doa Memcium Pipi Istri
Kemudian suami mencium kedua pipi isteri, dimulai pipi sebelah kanan dilanjutkan pipi sebelah kiri sambil membaca Asma Allah :
يَاكَرِيْمُ يَا رَحْمنُ يَا رَحِيْمُ يَا اَللهُ
Artinya : ”Wahai Dzat Yang Maha Mulia,Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, Wahai DzatYang Maha Penyayang. Ya Allah.”

Doa Mencium Hidung Istri
Selanjutnya mencium hidung-nya sambil berdzikir Ayat :
فَرَوْحٌوَرَيْحَانٌ وَّجَنَّةُ نَعِيْمٍ
Artinya : ”Maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan.”(QS. Al-Waqi’ah : 89 )

Doa Mencium Pundak Istri
Selanjutnya, mencium pundaknya sambil membaca :
يَارَحْمنَ الدُّنْيَا يَا رَحِيْمَ اْلأَخِرَةِ
Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di dunia, Wahai Dzat Yang MahaPenyayang di akhirat.”

Doa Mecium Leher Istri
Kemudian mencium lehernya beserta membaca :
اَللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ
Artinya : “Allah itu cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur : 35)

Doa Mencium Dagu Istri
Selanjutnya mencium dagunya dengan penuh rasa cinta dan berdo’a:
نُوْرُحَبِيْبِ الإِيْمَانِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
Artinya : “Cahaya kekasih seiman di antara hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Doa Mencium Kedua Telapak Tangan Istri
Kemudian mencium kedua telapak tanganya, dimulai sebelah kanan dan dilanjutkan sebelah kiri sambil membaca :
مَاكَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى
Artinya : “Hatinya tiada berdusta terhadap apa yang dilihatnya.” (QS. Anajm :11)

Doa Mencium Payudara Istri
Selanjutnya mencium diantara kedua payudara dan membaca Dzikir Ayat:
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّيْ
Artinya : “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datangdaripada-Ku.”(QS. Thoha : 39)

Doa Mencium Dada Istri
Dan kemudian mencium dada bagian hatinya dan mengucap Dzikir :
يَاحَيُّ يَا قَيُّوْمُ
Artinya : “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang berdiri sendiri.

Share:

Selasa, 26 Juli 2016

Profil Habib Segaf Baharun Dalwa

Habib Segaf bin Hasan bin Ahmad Baharun, S.HI, M.HI adalah putra kedua dari Habib Hasan Baharun, pendiri pondok pesantren Darullughah Wadda’wah, Raci Pasuruan. Ia lahir pada 7 juni 1974. Mengawali pendidikan agama di Darullughah Wadda’wah, Bangil Pasuruan yang diasuh oleh sang ayah, Habib Hasan bin Ahmad Baharun dari tahun 1981-1994. Ia juga mengikuti pendidikan umum dari Sekolah Dasar sampai PerguruanTinggi. Sempat ia membantu pendidikan di pondok selama dua tahun.Baru kemudian melanjutkan pendidikan ke Ribath Madinah yang diasuh oleh Habib Zein bin Smith dari tahun 1994-1998. Sebenarnya ia yang akan diberangkatkan ke tempat Habib Umar Al-Hafidz (Darul Mustofa), tapi yang dipilih adalah kakaknya yakni Habib Shodiq.
Selama di Madinah, ia merasakan kesan yang mendalam. Apalagi di tempat Rasulullah SAW pernah hidup dan dimakamkan. Ayahandanya pernah berpesan sebelum berangkat ke Madinah, “”Kamu lakukan dua hal, pertama berbaktilah dengan guru kamu. Dalam bakti pada ulama selama satu jam itu lebih baik dari belajar selama satu tahun. Yang kedua, kamu bersihkan hati. Karena hati yang sudah bersih hatinya, maka orang itu sudah siap menerima ilmu pelajaran,” kata Habib Hasan bin Ahmad Baharun.
“Itu luarbiasa dan terkesan betul. Kita bisa mengamalkan sunnah di tempat sumbernya sunnah. Kita merasa benar-benar teristimewakan dengan ada di tempat itu. Ada suasana ruhani yang berbeda, dengan di tempat lain, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW, ’Keberkahan kota Madinah itu lebih bila dibandingkan dengan kota Mekkah dan kota-kota yang lainnya’,” katanya.
Kalau di Madinah, ia memperdalam ilmu fiqh (ibadah, syariah dan muamalat), ilmu alat (nahwu, shorof, balaghah) dan tasawuf. Ia berguru dengan Habib Zein bin Smith dan habaib lainnya seperti Habib Salim Asy-Syatiri, Habib Muhammad Al-Hamid, Habib Abdullah Ba’bud, Habib Abdullah Al-Masyhur, Syeikh Muhammad Fal As-Sinkiti dan lain-lain

Mengenai sosok Habib Zein bin Smith, ia sangat terkesan. ”Kita belajar di Ribath tak pernah keluar. Beliau adalah seorang alim yang sejati. Orang yang mengamalkan dengan ilmunya. Habib Zein, semua waktunya dipenuhi dengan amal ibadah. Kalau tidak mengajar, beliau berdzikir. Saya lihat, kalau di mobil beliau berdzikir, sambil menunggu orang, sambil berjalan, waktu luangnya banyak diisi dengan banyak berdzikir.”
Habib Zein seorang pendidik yang dzahir dan bathin. Dan muthalaah ilmu dari kitab justru banyak diperoleh lewat mimpi. “Kadang beliau menyuruh untuk membaca kitab-kitab tertentu dalam mimpi.”
Yang mengesankan dari Habib Zein adalah beliau tidak mau tunduk dengan orang-orang kaya dan pejabat. Ilmu adalah di atas segalanya. “Sekarang kita lihat ulama, dikejar-kejar oleh dunia, tapi dia tidak mau, maka makin dikejar-kejar oleh dunia. tapi mereka-mereka yang berangkat dari pagi kerja sampai malam tapi belum selesai. Tapi berkat agama Allah, kalau kalian bantu agama ini, pasti Allah akan bantu kalian. Di sini kita mulya, apalagi di akhirat nanti.”

Ada satu kenangan yang tak terlupakan, karena putra–putra dari Habib Hasan Baharun telah dianggap anak oleh Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani. Jadi kalau dirinya ke Mekkah ia menginap di kediaman Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani dan sekaligus bertabarukan. “Kadang bisa sebulan. Kalau Abuya datang ke Madinah, ia dipanggil disuruh hadir di majelisnya bahkan sampai kebutuhan kita pun diperhatikan.”
Sepulangnya dari Madinah, ia banyak mengurusi pondok putri dan membatu pondok putra. Di pondok putra ia mengajar masalah fiqh, faraid, fikrunnisa, dan lain-lain. “Kita ini ulama yang mengurusi banyak umat, banyak kita saksikan yang masuk partai. Kasihan umat,“katanya dengan nada penuh prihatin.
Habib Zein juga pernah berpesan kepadanya ketika akan pulang ke Indonesia, “Ya Segaf, jangan pernah engkau berhenti belajar. Belajarlah dengan tetap dengan guru-guru kamu dahulu. Kamu belajar lagi kepada mereka.”
Akhirnya beliau sepulangnya dari Madinah, selain mengajar ia juga masih belajar lagi dengan guru-guru Beliau seperti Ustadz Qaimudin Abdullah, KH Asrori, Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad Assegaf dan lain-lain. Dalam menuntut ilmu ia merasa kurang dan terus ingin menuntut ilmu. Ia teringat pesan sabda Rasulullah Saw dimana beliau berdoa dengan sangat terkenal, ”Robbi zidni ‘ilma, warzuqni fahmah (Ya Allah tambahkanlah ilmu dan rizki hamba)
Share:

Senin, 25 Juli 2016

HABIB SEGAF BAHARUN Dahsyatnya Teknologi ALLAH

Share:

Makna Lambang Darkah Ya Ahli Madinah Wa Tarim

SEJARAH & ARTI LOGO ح 
DARKAH YA AHLAL MADINAH YA TARIM

Darokah Yaa Ahlal Madinah, Yaa Tarim Wa Ahlaha 

Pernah melihat logo ism seperti diatas ? Logo ism yang sering dijumpai di berbagai majelis-majelis ta’lim/maulid.  Ada yang menggunakan logo ini di spanduk, umbul-umbul, bendera, jaket, dll. atau dalam bentuk stiker.

logo apa itu…? Huruf ‘ح’ ditengah dengan ukuran yang cukup besar, kemudian di atasnya bertuliskan “Darakah Ya Ahlal Madinah”, di bawahnya bertuliskan “Ya Tarim Wa Ahlaha”, di samping kanannya bertuliskan lafzhul jalalah yang berbunyi  يا فتاح”Ya Fattah” dan di samping kirinya  يا رزاق “Ya Rozzaaq”. Di atas huruf ‘ha’ bertuliskan angka 1030 dan di tengah huruf ‘ha’ bertuliskan angka 110.

Mengenai ism seperti itu dan yang semacamnya maka hal itu merupakan tabarruk dan tawassul kepada hal yang mulia.
Sedangkan ism di atas sendiri adalah tabarruk dan tawassul kepada al Imam al Habib Abdullah bin al Haddad, seorang wali yang sangat masyhur, cucu Rasulullah SAW dari Sayyidina Husain bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali bin Abu Thalib, suami Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Beliau adalah penyusun Ratib al Haddad, Wirdullatif yang banyak diamalkan oleh muslimin di berbagai penjuru dunia, juga Kitab Risalatul Muawanah, Nashoihud Diniyah, dll.

Dijelaskan oleh Habib Munzir al Musawa:  

“Darkah ya ahlal madinah” maksudnya adalah bertawassul pada shohibul Madinah yaitu Rasul saw. “Yaa Tarim wa ahlaha” adalah tawassul kepada para shalihin dan lebih dari 10 ribu wali yang dimakamkan di pemakaman Zanbal, Fureidh, dan Bakdar, yang pada pekuburan zanbal itu juga terdapat Ashabul Badr utusan Sayyidina Abubakar Asshiddiq r.a.yang wafat di sana. “110” melambangkan marga Ibn Syeikh Abubakar bin salim (dzuriyyah Rasulullah saw). “1030” melambangkan marga Al Habsyi (dzuriyyah Rasulullah saw).

Sesuai faham ahlussunnah wal jam’ah, azimat (Ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah SWT.

Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada Kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata-mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat-ayat Alqur’an dan kalimat-kalimat mulia lainnya.

Namun tentunya manfaat dan kemuliaannya bukan pada tulisan dan stiker itu, tapi tergantung pada penggunannya, dan bila anda ingin menggunakannya maka boleh ditempel di pintu atau lainnya sebagai tabarruk dengan nama Imam Al Haddad rahimahullah.

Mengenai tawassul, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt.

Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh-puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).


SEJARAH TULISAN DARKAH

wawancara bersama  Habib Abubakar bin Abdurrahman Alhaddad – Tanjung Gang 2 Kota Malang Jawa Timur.

Siapa sangka jika penyusun dari Lambang Darkah ini berasal dari kota Malang , beliau adalah Al Habib Abu Bakar bin Abdurrahman AlHaddad, Lambang Huruf ‘ha’ di tengah dengan ukuran yang cukup besar, kemudian di atasnya bertuliskan “Darakaah Yaa AhlalMadiinah”, di bawahnya bertuliskan “Yaa Tariim Wa Ahlahaa”, di samping kanannya bertuliskan lafdzul jalalah yang berbunyi “Yaa Fattaah” dan di samping kirinya “Yaa Rozzaaq”, sedangkan di atas huruf ‘ha’ bertuliskan angka 1030 dan di tengah huruf ‘ha’ bertuliskan angka 110 seperti keterangan gambar, merupakan hasil karya beliau yang terinspirasi dari beberapa kisah sohibul maulid simtutdhurrar. Beliau yang lulusan dari Pondok Pesantren Darut Tauhid  ini berinisiatif membuat lambang Darkah berawal dari kisah Habib Ali Al Habsyi (Sohibul Maulud, pengarang Simtud Dhurar) pada awalnya beliau membuat tanda untuk setiap kiriman dengan memakai angka 110, disebabkan karena saat itu beliau, hb. Ali alhabsyi, sering kali mendapatkan kiriman-kiriman dari luar negri, dan kiriman tersebut seringkali tidak sampai kepada beliau, kemudian Petugas pengirim Surat (Pak Pos) nya diminta untuk membuat tanda, agar setiap ada kiriman barang/surat tidak hilang kirimannya, kemudian beliau membuat Kha’ disertai dengan huruf 110, 110 itu sendiri merupakan jumlah bobot nilai huruf hijaiyyah yang merangkai kata ‘ALI’ dalam kitab Aqidatul Awwam pada halaman terakhir ada rumusannya , sedangkan  gabungan 110 dan kha’ itu ada sekitar tahun 1980 an , atas inisiatif dari Hb. Ali bin Muhammad Alhaddad dan Hb. Segaf bin Muhammad Ba’ Agil.

Adapun penulisan kalimat darkah yaa ahlal madinahadalah inisiatif dari Hb. Abu bakar sendiri, yg diambil dari Qosidah Hb. Muhammad bin Idrus, yang banyak berisi tentang tawasul-tawasul dengan Ahlul Madinah (Rosulullah SAW beserta keluarganya, sahabatnya), termasuk juga  kalimat Yaa  Tarim Wa Ahlaha, yang merupakan  tawassul kepada para shalihin dan lebih dari 10 ribu wali yang dimakamkan di pemakaman Zanbal, Fureidh, dan Akdar, yang pada pekuburan Zanbal itu juga terdapat Ashhabul Badr utusan Sayyidina Abubakar ash-Shiddiq Ra.yang wafat di sana.kemudian penerapan Lambang Darkah ini pada awalnya dulu bukan berbentuk bulat dan bertuliskan kalimat tawasul tadi, melainkan hanya berupa lambang Kha’ dan huruf 110 dan 1030 saja, kemudian berkat saran dari paman beliau yang bernama hb. Abdul Qodir bin Husin Al Haddad, maka lambing tersembut ditambah lah dengan wiridannya dari abahnya hb.husen, yaitu yaa Fattah yaa rozak, dengan niatan supaya dapat fadlilah wiridannya Hb. Husen bin Muhammad Alhaddad. Siapa sangka bahwa Logo yang sudah dikenal di seluruh dunia di kalangan habaib maupun muhibbin ini sudah mencapai Negara Malaysia, Singapore, Abu Dabi, Kuwait.

Setelah berjalan lama Lambang  ini, sempat nyaris hilang, kemudian Lambang / ism yang sering dijumpai di berbagai majelis-majelis ta’lim/maulid. Ada yang menggunakan logo ini di spanduk, umbul-umbul, bendera, jaket, dll. atau dalam bentuk stiker, sampai mobil-mobil di kaca belakangnya ditempel stiker lambang ini.

Lambang yang sebenarnya adalah suatu Ajimat (Ruqyat)  bukan Logo suatu organisasi tertentu ini, kalau di kaji di kitab-kitab , maka lambang ini tidak akan diketemukan dikitab manapun, karena lambang ini ada karena habib Abu bakar bin Abdurrahman alhaddad menyusunya digunakan untuk tafa’ul –an(mengharap berkah). Adapun hitungan 1030 itu berasal dari hitungan kalimat amanatullah wa rosuluh wal Abdullah alhaddad, yang ditujukan kepada kepada al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwiy al-Haddad, dimana hitungan ism terssebut merupakan inisiatif dari para ulama’ kota Tarim Yaman.

Sesuai faham Ahlussunnah wal Jama’ah, ‘azimat (Ruqyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada Kitab Faidhul Qadir Juz 3 halaman 192, dan Tafsir Imam Qurthubi Juz 10 halaman 316-317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata-mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat-ayat al-Qur’an dan kalimat-kalimat mulia lainnya.

(Tulisan ini telah di muat di Majalah Riyadlul Jannah dan dimuat juga di Tabloid Media ummat)
Share:

Minggu, 24 Juli 2016

Kategori Artikel