Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Kamis, 11 Maret 2021

Menjawab pertanyaan Dimana Allah




وإذا سأل الطفل: "أين الله؟"

 فيجاب بأن الله أكبر من كل شيء،

 وأنه أعظم من كل مكان، 

وأنه سبحانه لا يحويه شيء، 

بل هو سبحانه وتعالى {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُالشورى/ 11،

 ويجب على الوالدين والمربين والمدرسين أن يغرسوا في قلوب الأبناء أن الله تعالى ليسمشابهاً للمخلوقات،

 منزه عن كل وصف لا يليق به، 

وذلك بالعبارات التي تناسب مستواهم العقليّ والمعرفي.


وأما حكم استعمال عبارة "أين الله"؛ 

فهي في الأصل غير جائزة شرعاً، 

لأنّ المعنى الحقيقي في اللّغة للفظ "أينالسؤال عن المكان، 

والله تعالى لا يجوز عليه الحلول في المكان أصلاً،

 وأمّا إنْ قصد بلفظ "أينالمعنى المجازي وهو السؤال عن المكانة والمنزلة فجائز شرعاً، 

وقد وردهذا المعنى في كلام عثمان رضي الله عنه 

أنه تكلم عنده صعصعة بن صوحان فأكثر، فقال

أيها الناس إن هذا البجباج النفاخ لا يدري ماالله ولا أين الله.، 

معناهأن حاله في وضع لسانه من إكثار الخطل 

وما لا ينبغي أن يقال كلّ موضع 

كحال من لا يدري أن الله سميع لكلكلام،

 عالم بما يجري في كل مكان

[الفائق في غريب الحديث 1/ 78].

وقد وردت عبارة "أين اللهأيضاً في حديث الجارية الذي جاء فيه

"قَالَوَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَيَوْمٍ، فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، 

وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ،

 لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً،

 فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ، 

فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ، قُلْتُيَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا؟

 قَالَ: (ائْتِنِي بِهَا)، فَأَتَيْتُهُ بِهَا، 

فَقَالَ لَهَا: (أَيْنَ اللهُ؟

قَالَتْفِي السَّمَاءِ، قَالَ: (مَنْ أَنَا؟

قَالَتْأَنْتَ رَسُولُ اللهِ، 

قَالَ: (أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌرواه مسلم.

وقال الحافظ ابن فورك في شرح هذا الحديث 

(ص158، بتصرف): ظاهر اللغة يدل أن "أينموضوعة للسؤال عن المكان، 

وهذا هو أصل هذهالكلمة، غير أنهم قد استعملوها عن مكان المسؤول عنه في غير هذا المعنى، 

وذلك أنهم يقولون عند استعلام منزلة المستعلم عند من يستعلمهأين منزلة فلان منك، وأين فلان من الأمير؟

 واستعملوه في استعلام الفرق بين الرتبتين بأن يقولواأين فلان من فلان، 

وليس يريدون المكانوالمحل، بل يريدون الاستفهام عن الرتبة والمنزلة، فإذا كان ذلك مشهوراً في اللغة احتمل أن يقال

إن معنى قوله صلى الله عليه وسلم "أيناللهاستعلام لمنزلته وقدره عند الجارية وفي قلبها، أي هو رفيع الشأن عظيم المقدار."

وجاء في [معالم السنن للخطابي 1/ 222]: "


هذا السؤال عن أمارة الإيمان وسمة أهله، وليس بسؤال عن أصل الإيمان وصفة حقيقته، ولو أنكافراً يريد الانتقال من الكفر إلى دين الإسلام فوصف من الإيمان هذا القدر الذي تكلمت به الجارية لم يصر به مسلماً حتى يشهد أن لا إلهإلاّ الله وأن محمداً رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويتبرى من دينه الذي كان يعتقده".


وقال الإمام النووي في [شرح مسلم 5/ 24]: "

قوله صلى الله عليه وسلمأين الله، قالتفي السماء،

 قالمن أنا؟ قالتأنت رسول الله، قالأعتقها فإنها مؤمنة، هذا الحديث من أحاديث الصفات، وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الإيمان، أحدهماالإيمان به من غيرخوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات، والثانيتأويله بما يليق به، فمن قال بهذا قالكانالمراد امتحانها هل هي موحدة تقرّ بأنّ الخالق المدبر الفعال هو الله وحده، وهو الذي إذا دعاه الداعي استقبل السماء كما إذا صلى المصلياستقبل الكعبة، وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصراً في جهة الكعبة، بل ذلك لأنّ السماء قبلة الداعين، كما أن الكعبةقبلة المصلين، أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم، فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان".


وعليه؛ فإنّ الله تعالى منزّه عن أن يحويه المكان، أو يسأل عنه بأين بمعناها اللغوي الظاهر وهو الاستعلام عن المكان، فإنه خالق المكانوالزمان، ومن الواجب أن نعلم ذلك للأطفال، وأن نجيبهم على أسئلتهم بما يناسب قدراتهم وبما يعرفهم أن الله تعالى منزه عن مشابهةالمخلوقاتوالله تعالى أعلم.


Share:

Keberkahan Bulan Rajab


Suatu hari Rasulullah bersama sahabatnya mendapati situasi krisis air. Hingga waktu shalat Ashar tiba, mereka yang berikhtiar mencarinya di berbagai tempat tidak berhasil memperolehnya. Air yang tersedia hanyalah air sisa yang jumlahnya tak banyak. Dalam situasi tersebut, Nabi melakukan sesuatu yang membuat orang tercengang. Rasulullah memasukkan tangan beliau ke dalam air sisa yang berada dalam sebuah wadah itu dan berseru kepada para sahabatnya, "Ayo mulailah berwudhu. Barakah datang dari Allah." Para sahabat menyaksikan di sela-sela jari Nabi memancar air. Para sahabat tak hanya bisa wudhu dengan sempurna, tapi juga menghilangkan rasa haus karena air juga bisa diminum. Kisah ini bisa kita temukan dalam 'Umdatul Qari' Syarah Shahih Bukhari. 




Yang menarik dari cerita tadi adalah kata-kata Rasulullah tentang "al-barakah mina-Llâh". Kisah tersebut menunjukkan bahwa berkah bersumber dari Allah, bukan manusia, air, pohon, matahari, atau lainnya. Meskipun, objek yang diberkahi itu bisa apa saja, termasuk air dan jemari Nabi. Krisis air bukan halangan bagi para sahabat untuk beribadah, bahkan mereka bisa sekaligus menyaksikan mukjizat Nabi yang tentu kian meningkatkan keteguhan iman mereka.


    Dalam Lisanul Arab, "barakah" dimaknai sebagai an-mâ' waz ziyâdah, tumbuh dan bertambah. Sebagian ulama merinci lagi bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan (ziyâdaatul khair). Kebaikan yang dimaksud tentu bukan kenikmatan duniawi, melainkan tingkat kesadaran kita kepada Allah, taqarrub ilallah. Berkah dengan demikian tidak terkait dengan banyak atau sedikitnya harta benda. Orang yang kaya raya bisa jadi tidak mendapat keberkahan hidup ketika harta bendanya justru membuatnya merasa perlu dihormati, merendahkan orang miskin, berfoya-foya, atau untuk aktivitas maksiat. 

Sebaliknya, kemiskinan bisa mendatangkan berkah saat hal itu melatihnya bersabar, mensyukuri nikmat, atau bersikap baik kepada tetangga. Berkah juga tidak harus berhubungan dengan kesehatan. Sebab, kondisi sakit pun kadang bisa membuat orang instrospeksi diri (muhasabah), tobat, dzikir, dan mengingat-ingat hak-hak orang lain yang mungkin ia langgar. Meskipun, sakit pun juga bisa berbuah malapetaka ketika seseorang justru lebih banyak mengeluh, mencibir karunia Allah, atau melakukan sesuatu yang melampaui batas. Tempat yang berkah tak mesti subur, sejuk, atau yang pemandangannya indah. Buktinya Allah memberi keistimewaan kepada tanah Makkah yang gersang. Begitu pula dengan waktu. Waktu yang berkah belum tentu saat-saat hari raya atau hari berkabung. Tapi keberkahan waktu itu datang manakala segenap peristiwa di dalamnya membuat kita sekain dekat dengan Allah.

      

Terkait dengan berkah atau barokah, Rasulullah memberi  teladan kepada umatnya untuk memanjatkan doa ketika memasuki bulan Rajab:


‎ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ 


“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)


Bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam Islam, terdapat empat  bulan haram di luar Ramadhan, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Saat tiba waktu Rajab, yang Rasulullah minta adalah keberkahan bulan ini, lalu keberkahan bulan Sya’ban, hingga ia dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Saat bulan Rajab tiba, Rasulullah tidak memohon kekayaan, kesehatan, atau kenikmatan duniawi secara khusus. Beliau berdoa agar dilimpahi keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban seiring dengan menyongsong bulan Ramadhan. Secara tidak langsung, doa ini adalah permohonan panjang umur. Tentu saja bukan sekadar usia panjang, tetapi usia yang bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah. 


Inti dari berkah adalah peningkatan taqarrub kita kepada Allah, sehingga kepribadian kita diliputi oleh sifat-sifat yang mencerminkan perintah Allah: jujur, adil, rendah hati, peduli sesama, penyayang, tidak serakah, tidak gemar menggunjing atau menghakimi orang lain, dan lain sebagainya. Kita juga semakin rajin memaknai setiap aktivitas kita atas dasar nilai ibadah. Bekerja untuk menafkahi keluarga karena Allah, ikut kerja bakti tingkat RT karena Allah, bertegur sapa dengan tetangga karena Allah, dan seterusnya. Apakah kita tak boleh berdoa memohon harta atau kesehatan di bulan Rajab ini? Tentu saja boleh. Hanya saja, yang lebih penting dari banyaknya kekayaan dan kesehatan adalah berkah, yakni suatu kondisi yang mampu menambah ketaatan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Diterangkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah sendiri pernah mendoakan sahabatnya, Anas dengan pernyataan: 


اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكَ لَهُ فِيمَا أعْطَيْتَه


Artinya: “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadanya.”


 Kata berkah di sini merupakan kunci dari segenap nikmat lahiriah. Dengan keberkahan seseorang tidak hanya kaya harta tapi juga kaya hati: merasa cukup, bersyukur, dan tidak tamak; tidak hanya mementingkan kuantitas anak, tapi juga kualitasnya yang shalih, cerdas, dan berakhlak. Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Dari uraian ini jelas bahwa bulan Rajab menjadi berkah tatkala ada perkembangan dalam diri kita terkait kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah. Ketika keberkahan itu datang, secara otomatis kualitas kepribadian kita pun meningkat, baik dalam kondisi sulit maupun lapang, sehat maupun sakit, punya banyak utang maupun dilimpahi keuntungan.  Keberkahan di bulan Rajab dan Sya'ban ini penting mengingat kita akan menghadapi bulan Ramadhan, bulan yang jauh lebih mulia dan berlimpah keutamaan. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa diberkahi, senantiasa diberi petunjuk, dan dipanjangkan umurnya hingga bisa menjumpai Ramadhan. Wallahu a'lam.


Nanti malam kita memasuki bulan rajab. Mari kita sambut dengan bahagia semoga kita dilimpahkan keberkahan dibulan rajab.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد ۞الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّقَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

Share:

Amalan Agar Kaya di Jumat terakhir bulan Rajab


Fatwa Habib Salim bin Abdullah as-Syathiri ihwal amalan kaya di Jumat terakhir bulan Rajab.

Amalan Bulan Rajab


(فائدة مهمة

قد جاء فى كنز النجاح والسرور ان من قرأ فى آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر أحمد رسول الله محمد رسول الله خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدرهم من يده تلك السنة

.السؤال كيف يقرأ والخطيب على المنبر وهو فى نفس الوقت مأمور بالانصات 

الجواب أنه ليس من شروط القراءة التلفظ بل استحضارها بالقلب يكفي او يقرأ حال الجلوس على المنبر قبل الخطبة

 او يقرأ حال الدعاء او الترضي من الصحابة لان المراد بالانصات حال الخطبة هو الانصات حال استماع اركان الخطب لاغير.اه‍

والله اعلم بالصواب واليه المرجع والمآب


“Dalam kitab Kanzun Najah Was Surur disebutkan bahwa barangsiapa membaca “Ahmad Rasulullah, Muhammad Rasulullah” sebanyak 35 kali di Jumat terakhir bulan Rajab pada saat khatib di atas mimbar, maka dirham tidak akan terputus di tangannya pada tahun itu.


Bagaimana kita membacanya? Sedangkan khatib di atas mimbar, dan di waktu itu kita diperintahkan untuk diam mendengar khutbah?


Jawab: tidak disyaratkan untuk membacanya dengan mulut akan tetapi di dalam hati saja sudah cukup, atau dibaca ketika khatib duduk di mimbar sebelum khutbah, atau ketika do’a untk para sahabat, karena yang dimaksud untuk diam di dalam khutbah (الإنصات ) adalah diam mendengarkan rukun khutbah, bukan yang lainnya.”


Zikir ini juga disarankan al-Imam Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.


Beliau memberikan ijazah kepada para murid dan pecintanya untuk membaca,


اَحْمَدُ رَسُولُ اللّٰهِ مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللّٰهِ


Artinya, “Ahmad adalah Rasulullah, Muhammad adalah Rasulullah.” Sebanyak 35 kali di hari Jumat terakhir bulan Rajab, ketika khatib sedang berkhutbah.


Beliau berkata, “Barangsiapa membaca kalimat di atas pada Jumat terakhir bulan Rajab, ketika khatib sedang berkhutbah, maka selama setahun tangannya tidak akan pernah kosong dari uang.”


Untuk kaum wanita membacanya di waktu sekiranya khatib sudah naik ke mimbar khutbah Jumat.


Amalan berikutnya dari Mbah Maimun Zubair, yaitu membaca Istighfar 700/70/7 kali sebelum sholat Jum’at. lafalnya berikut :


أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لاَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةً عَبْدِ ظَالِمٍ لاَ يـَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا 

وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung Yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) dan saya taubat pada-Nya dengan taubat seorang hamba yang dzalim yang tak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi kematian, kehidupan, dan kebangkitan”.


Barang siapa yang membacanya 700/70/7 kali sebelum khatib naik mimbar pada Jum’at terakhir bulan Rajab, maka akan dimudahkan rizqinya sepanjang tahun ini.


*(Dari Sayyidil Habib Muhammad bin Husein Anis Al Habsyi Solo)*

Share:

Senin, 10 September 2018

Nasihat Bagi Penuntut Ilmu

Oleh : Habib Jindan bin Novel Jindan


Syeikh (itu) ada yang benar ada juga yang palsu, begitu juga para murid, ada murid yang benar benar murid ada juga murid yang palsu, maka tanyakan kepada diri kita,..benarkah kita seorang Thalabul Ilmi (penuntut ilmu-red),..pantas menyandang sebutan sebagai seorang murid?

Lihat teladan AlHabib Muhammad AlHaddar, beliau guru dari AlHabib Umar bin Hafidh juga guru dari AlHabib Zain bin Sumaith, ketika masih menuntut ilmu di Rubath Tarim ia selalu menghabiskan setiap malamnya bergadang menuntut ilmu, hingga jika kantuk datang maka beliau membasahkan dirinya dengan air hingga hilang kantuknya, bahkan sekali waktu beliau naik ke atap rumahnya untuk menghilangkan kantuknya dan berkata kepada dirinya “Kalau aku jatuh maka aku mati”. Beliau pun tidak mau ada hal yang menganggunya dalam menuntut ilmu, diceritakan jika datang surat dari keluarganya maka beliau tidak membukanya dan disimpan terus seperti itu hingga selesai masa belajar baru dibuka, disitu di surat diterangkan si fulan wafat, si fulan lahir, si fulan menikah dlsbnya, beliau berbuat seperti ini saking takdhimnya dalam menuntut ilmu.

Simak juga bagaimana AlHabib Abdullah bin Abdurrahman bin Syaikh Abubakar bin Salim ketika sampai di Tarim, hari pertama sampai di tempat menuntut ilmu langsung sibuk belajar, zaman dahulu jika seseorang pergi belajar maka membawa kasurnya sendiri, beliau tidak pernah sempat membuka kasurnya, beliau selalu tertidur dalam posisi terduduk lalu bangun subuh dan lanjut lagi esok malamnya dengan keadaan yang sama hal ini pun dilakukan terus menerus hingga 4 tahun, hingga beliau tidak tahu siapa teman di sebelah kamarnya.

AlHabib Abdullah Umar Asy-Syatiri dimana beliau adalah guru dari semua ulama terkenal dizamannya, berkata “Tidak pantas menyebut diri sebagai penuntut ilmu kalau tidak solat tahajud”, bahkan belum bisa dikatakan belajar Fiqih jika belum hafal Zubad dan Nahwu jika belum hafal Alfiah. Perbedaan kita dengan mereka bukan seperti langit dengan bumi, tetapi seperti langit dengan sumur.

Ketahuilah bahwa sebelum seorang menuntut ilmu maka harus di seleksi dulu, jika dilihat oleh guru si murid belum bersih hatinya maka akan dibersihkan dulu hatinya atau pada akhlaknya atau pada kualitas ibadahnya hingga jika sudah bersih dan layak yang akan masuk adalah hanya cahaya ilmu.

Diceritakan datang seorang ke Imam Abdurrahman Al Masyhur ingin menuntut ilmu, sebelum belajar sang Imam menyuruh dulu si calon murid untuk membeli ikan asin basah di pasar, yang disuruh bukan orang sembarangan, seorang anak ulama besar, tidak pernah sekalipun pergi ke pasar, maka si anak tadi meminta wadah untuk dibawa, berkata sang imam masukkan ikan asin tersebut ke lengan bajumu dan bawa kemari…,sampai dipasar ramai orang kedatangan anak seorang ulama besar belanja dipasar, berkata si anak “Saya disuruh guru saya untuk membeli ikan asin basah dan dimasukkan ke lengan baju”, setelah sampai dihadapan sang imam maka berkata “Tadi aku mengujimu karena aku melihat ada kesombongan dalam hatimu dan sekarang kesombongan itu sudah hilang”.

Lihat Sayyidina Abdullah bin Abbas berkata “Saat mencari ilmu agama saya terhinakan orang, susah, capek namun ketika saya sudah di cari orang saya di hormati orang” walaupun tidak bertujuan mencari pujian orang.

Satu saat Sayyidina Zaid bin Tsabit datang ke pemakaman ibunya Sayyidina Abdullah bin Abbas, maka berdiri ia menyambut Zaid bin Tsabit, sahabat Rasulullah yang sedang naik keledai dan menuntunnya, sementara dizaman itu perbuatan seperti ini adalah perbuatan seorang budak, maka berkata Zaid bin Tsabit “Wahai sepupu Nabi lepaskan”, berkata Abdullah bin Abbas “Beginilah kita diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kita”, maka turunlah zaid dari keledainya dan mencium tangan Abdullah bin Abbas sambil berkata “Beginilah kita memperlakukan Ahlulbait Nabi SAW”.

Seseorang kalau gak mau susah gak bakal sampai ke tempat yang tinggi, berkata AlHabib Abubakar Al Adni “Siapa yang takut dengan tantangan tidak akan sampai ke tempat yang tinggi, hakikat yang mahal ada di tempat yang tinggi, buah jika berduri akan menjadi mahal, siapa yang tidak mau menyelam ke dasar lautan tidak akan mendapat mutiara, tidak akan mendapat hadiah anugerah tersebut dan lemah terhadap hal tersebut”

Zaman dulu ada seorang bernama Abdul Jalil, ia bersungguh sungguh mencari syaikh, datang ke satu kampung dan ditunjuki oleh orang orang kampung untuk pergi bertemu seorang syaikh yang sudah terkenal di kampung tersebut, namun tanpa diketahui ternyata syaikh tersebut seorang penipu!…syaikh palsu ini punya teman teman n waktu sendiri untuk mabuk mabukan, maka datang Abdul Jalil mengetuk pintu ditanya “siapa engkau?” “Aku Abdul Jalil” kebetulan si syaikh palsu ini lagi nunggu temen maboknya namanya sama Abdul Jalil juga, maka ketika di buka pintu kaget si syaikh palsu kedoknya terbongkar, Abdul Jalil melihat syaikh palsu sedang mabuk dikelilingi botol botol minuman, melihat itu ia bersungkur sujud “Syaikh tolong bimbing aku ke jalan Allah” ternyata yang datang seorang polos, maka disurulah Abdul Jalil diperbudak menjaga kebun, terus ia bekerja dan beribadah dengan kesungguhan tanpa tahu bahwa sang syaikh adalah syaikh palsu penipu, ketika itu di lain tempat sedang berlangsung pertemuan para wali sedang mencari kandidat, bertanya para wali “Siapa yang akan dijadikan pengganti wali yang wafat?” maka berkata seorang wali “Ada seorang yang pantas tetapi sungguh kasihan karena ia berguru kepada orang yang salah..berguru kepada seorang syaikh palsu”, maka diangkatlah Abdul Jalil berkat kesungguhannya menjadi seorang wali….ia datang dengan kesungguhan maka ada guru lain yang akan peduli, maka hati hatilah jangan tertipu dengan hal semacam ini yang akan membuat iman kita bangkrut!.

Diceritakan seorang datang ke Imam Ahmad bin Hambal ingin menjadi murid mempelajari ilmu Hadist, maka malamnya disiapkan ember oleh Imam barangkali si calon murid ingin shalat tahajjud, esok subuh Imam Ahmad menghampirinya dan mendapatkan calon murid baru bangun sementara air di ember masih penuh, “Kenapa embermu masih penuh? engkau tidak shalat Tahajjud?” calon murid berkata tidak, maka berkata Imam Ahmad “Jika belum tahajjud belum pantes belajar hadist”. Harus diperbaiki dulu mental orang tersebut, tuntut ilmu untuk diamalkan bukan sekadar diriwayatkan.

Jangan dekat dengan orang besar tetapi gak ambil manfaat!.

Satu saat pergi Sayyidina Isa bin Maryam bersama seorang membawa bekal roti gandum yang jumlahnya sesuai dengan lamanya perjalanan, ketika ingin dimakan maka didapati berkurang roti gandum 1 buah.

Sayyidina Isa bertanya siapa yang mengambil roti, orang itu berkata aku tidak tahu. Lanjut perjalanan diajak oleh Sayyidina Isa berjalan menyeberangi air, berjalan di air dan berkata “Ini mukjizat kamu percaya? Iya”, maka ditanya “Siapa yang mengambil roti gandumnya”, orang tersebut bilang “Aku tidak tahu”.

Maka berjalan lagi mereka melintasi kuburan, Sayyidina Isa menghidupkan orang mati dan berkata “Ini mukjizat kamu percaya? Iya”, maka ditanya “Siapa yang mengambil roti gandumnya” orang tersebut bilang “Aku tidak tahu”.

Berjalan lagi hingga menjumpai gundukan tanah, Sayyidina Isa pun merubah tanah tersebut menjadi emas dan berkata “Kita bagi 3 bagian, 1 untukku 1 untukmu dan 1 lagi untuk yang mengambil roti gandum” mendengar itu orang tersebut baru mengaku…maka Sayyidina Isa berkata “Ambil semua termasuk bagian saya, tetapi jangan temani saya lagi” dia rela ketinggalan Sayyidina Isa dan memilih dunia!.

Dia gak mikir bagaimana memindahkan tumpukan emas sedemikian banyak. Lalu datanglah 2 perampok, karena takut maka sepakat untuk membagi emas tersebut dengan maling, lihat keadaan orang yang cinta dunia dan tidak bisa menjaga adab, dalam sesaat Allah rubah barisannya bergabung menjadi bagian dari para penyamun.

Maka pergi salah seorang dari mereka membeli makanan dan mempunyai niat jahat dan keserakahan, maka diracun makanan tadi, sementara 2 orang yang menunggu juga berpikiran sama “Daripada dibagi 3, lebih baik kita bagi berdua, kita bunuh saja!”. Saat kembali dari pasar maka dibunuhlah orang tadi dan sebelum membagi emas mereka makan makanan yang sudah di beri racun..mati semuanya tak tersisa!…beberapa lama lewatlah Sayyidina Isa dengan murid muridnya melihat gundukan emas beserta 3 tiga mayat dan berkata “Itulah dunia akhirnya akan seperti itu!”…itulah yang tidak bisa menjaga adab terhadap guru!.

Diceritakan bahwa Imam Hasan AsSyadzili kedatangan seorang yang ingin belajar ilmu kimia merubah benda menjadi emas, ilmu ini sudah lama punah, Imam mengiyakan dengan syarat setiap batal wudhu harus melakukan shalat sunnah, setahun kemudian ketika sedang menimba air terasa berat dan didapati air tersebut berubah menjadi emas!.Karena sudah istiqomah untuk berwudhu shalat sunnah maka dituang lagi, di tarik lagi…didapati emas lagi…dibuang lagi terus hingga kembali menjadi air “Ini yang saya mau!”.

Murid tadi menemui Imam AsSyadzili meminta dikembalikan seperti semula, maka berkata sang Imam “Cukuplah…dirimu pun sudah mejadi emas hingga hatimu pun menjadi emas!” Berkat keberkahan dekat kepada orang mulia,…bagi murid emas dan tanah adalah sama!

Lihat…Cinta Habib Munzir kepada gurunya yaitu AlHabib Umar bin Hafidh begitu besar hingga kalau di suruh lompat terjun pun beliau akan lompat, bagi Habib Munzir kalau Habib Umar menyuruh melakukan A ya harus A bukan a kecil tapi A besar, saya buka sedikit…,dulu ketika Habib Munzir sering memajang fotonya dan Habib Umar di jalan jalan, Habib Umar berkata kepada saya untuk menyampaikan jika pada kedatangan kita berikutnya jangan tempel foto di jalan umum, sekedar pengumuman tanpa foto, biarkan itu milik para orang politik, berlaku hingga sekarang…..ini penyerahan seratus persen terhadap gurunya, seperti mayat dihadapan gurunya.

Dulu di awal perjalanan dakwah, Habib Munzir sering keluar kota berhari hari hingga banyak problem berupa sakit, tumpukan hutang dll, maka datang surat dari Habib Umar melarang keluar kota dan perintah rinci lainnya tidak boleh begini, harus begini dlsbnya, tdk boleh pinjem sama siapapun banyak perintah berat dengan adanya surat tersebut, saya tahu isi surat tersebut karena bacanya bareng di kamar saya…Habib Munzir syok dengan keadaan tersebut, sampai berkata “Kalau ane tahu hati Habib Umar akan seperti ini, ane gak mau jadi ulama mending jadi tukang sate!”.

Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata “Andaikata aku tidak pernah dilahirkan ke dunia, andaikata ibuku mandul, andaikata aku dilahirkan sebagai seekor kambing maka akan lebih ringan…hanya makan minum gemuk disembelih maka selesai, tidak harus memikul tanggung jawab besar dihadapan Allah.

Saya bilang “Ya munzir…mau bagaimanapun berat dan ringannya, Habib Umar guru kita,…kita gak faham saat ini tetapi ke depan bakal faham”..ternyata betul!…urusan jadi beres, hutang selesai, dakwah hingga jadi seperti sekarang dlsbnya, klo bukan karena surat Habib Umar gak bakal seperti ini dan semua itu pun butuh pengorbanan, mau makan pun susah karena sudah gak boleh pinjam, terkadang ke majelis naik taksi, kadang saya yang jemput, berkat taat dan kepatuhan lambangnya bukan banyaknya massa dlsbnya tetapi dengan ridhonya Habib Umar terhadap beliau simaklah bait bait syairnya, beliau Habib munzir lakukan dengan penuh pengorbanan,..intinya jangan pernah melepaskan diri dari syaikh dalam keadaan apapun.

Belasan tahun lalu, pernah satu saat, Habib Umar bercerita kepada saya ada seorang murid Habib Umar, seorang teman kami berdakwah di Jazirah Arab, sukses memiliki banyak jamaah, selesai majelis ditunggu banyak mobil jamaah yang minta dinaikinya…macam macam fasilitas….tetapi ia lupa dan berkata bahwa semua ini adalah hasil dari jerih payahnya, dari keringatnya, bukan hasil dari gurunya,…menisbatkan kesuksesan kepada dirinya lupa kepada gurunya yaitu Habib Umar, maka ketika ia melepas diri dari Habib Umar maka hilanglah sudah semua hal yang dianggap miliknya..tidak ada lagi macam macam fasilitas yang menunggunya…mobil mobil muridnya hanya berlalu begitu saja tidak memperdulikan hanya sekedar “Oh ada ustad”…maka celaka orang yang dekat dengan syaikh tapi tidak beradab!….semoga kita menjadi murid yang menbanggakan guru dan juga menjadi kebanggaan guru kita…Aamiin.

Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim
Share:

Kategori Artikel