Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Rabu, 06 April 2016

Manaqib Imam Ja'far Shadiq

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq

[Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq – Muhammad Al-Baqir – Ali Zainal Abidin – Husain – Fatimah Az-Zahro – Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Ash-Shodiq (orang yang jujur). Beliau biasa dipanggil dengan panggilan Abu Abdullah dan juga dengan panggilan Abu Ismail. Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) pernah berkata, “Abubakar (Ash-Shiddiq) telah melahirkanku dua kali.”

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan di kota Madinah pada hari Senin, malam ke 13 dari Rabi’ul Awal, tahun 80 H (ada yang menyebutkan tahun 83 H). Banyak para imam besar (semoga Allah meridhoi mereka) yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraid, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Su’bah dan Ayyub. Banyak ilmu dan pengetahuan yang diturunkan dari beliau, sehingga nama beliau tersohor luas seantero negeri. Umar bin Miqdam berkata, “Jika aku melihat kepada Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah keturunan nabi.”

Sebagian dari mutiara kalam beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) adalah :

“Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.”

“Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri.”

“Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”

“Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah.”

“Allah telah memerintahkan kepada dunia, ‘Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu.’ ”

“Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.”

“Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, ‘Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.’ ”

“Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya.”

“Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak berarti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya.”

Dari sebagian wasiat-wasiat beliau kepada putranya, Musa :

“Wahai putraku, barangsiapa yang menerima dengan ikhlas apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka ia akan merasa berkecukupan. Barangsiapa yang membentangkan matanya untuk melihat apa-apa yang ada di tangannya selainnya, maka ia akan mati miskin. Barangsiapa yang tidak rela dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka berarti ia telah menuduh Allah di dalam qadha’-Nya.”

“Barangsiapa yang memandang rendah kesalahannya sendiri, maka ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Barangsiapa yang memandang kecil kesalahan orang lain, maka ia akan memandang besar kesalahannya sendiri.”

“Wahai anakku, barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.”

“Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.”

“Wahai putraku, janganlah engkau masuk di dalam sesuatu yang tidak membawa manfaat apa-apa kepadamu, supaya engkau tidak menjadi hina.”

“Wahai putraku, katakanlah yang benar, walaupun berdampak baik kepadamu ataupun berdampak buruk.”

“Wahai putraku, jadikan dirimu memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, menyambung tali silaturrahmi kepada seorang yang memutuskan hubungan denganmu, menyapa kepada seorang yang bersikap diam kepadamu, dan memberi kepada seorang yang meminta darimu. Jauhilah daripada perbuatan mengadu domba, karena hal itu akan menanamkan kedengkian di hati manusia. Jauhilah daripada perbuatan membuka aib-aib manusia.”

“Wahai putraku, jika engkau berkunjung, maka kunjungilah orang-orang yang baik, dan janganlah mengunjungi orang-orang pendusta.”

Beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) meninggal di kota Madinah pada malam Senin, pertengahan bulan Rajab, tahun 148 H dan disemayamkan di pekuburan Baqi’ di dalam qubah Al-Abbas, dekat dengan makam ayahnya, kakeknya dan paman kakeknya Hasan bin Ali. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali Al-‘Uraidhi (kakek daripada keluarga Ba’alawy).

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy]

Share:

Kisah Nyata: Keindahan Akhlak Sang Putri Kecil Habib Umar bin Hafidz

Kisah Nyata: Keindahan Akhlak Sang Putri Kecil Habib Umar bin Hafidz

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang. Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. 

Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku. Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

Wallohu ‘Alam.

(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya‎).

Share:

Selasa, 05 April 2016

HAUL

ZIARAH TAHUNAN ATAU BIASA DISEBUT HAUL

Haul adalah ritual ziarah tahunan yang di kemas sebagai metode dakwah yang di himpun dari As-Sunnah.

Di dalam acara ziarah tahunan atau Haul, kita di ajak untuk menziarahi ulama/wali/syuhada yang telah meninggal, agar kita bisa mencontoh dan meneladani perjuangan dakwah mereka serta mendoakan mereka.

Ritual ziarah tahunan seperti ini pernah di lakukan oleh Rasullullah ﷺ dan diikuti oleh para sahabat beliau seperti dalam hadits yang di abadikan oleh Al-hafidz Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau sewaktu menafsirkan surat Ar-Ra'd: 24 beliau berkata :

وقد جاء في الحديث : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يزور قبور الشهداء في رأس كل حول ، فيقول لهم : ( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار ) وكذا أبو بكر ، وعمر وعثمان .

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menziarahi kuburan para syuhada setiap Haul (tahunnya) dan mengucapkan ayat berikut kepada mereka: Salam (keselamatan) untuk kalian berkat kesabaran kalian dan sebaik baiknya nikmat/balasan adalah balasan akhirat (Qs. Ar-Ra'd: 24 ).
Begitupun Abu bakar, Umar dan Ustman melakukan hal yang sama.

Dan disebutkan juga di dalam Tarikh Madinah oleh Ibnu Syabbah

قال أبو غسان : حدثني عبد العزيز بن عمران ، عن موسى بن يعقوب الزمعي ، عن عباد بن أبي صالح ، " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يأتي قبور الشهداء بأحد على رأس كل حول ، فيقول : سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار (سورة الرعد آية 24) ، قال : وجاءها أبو بكر ، ثم عمر ، ثم عثمان رضي الله عنهم ...

Telah berkata Abu Ghassan : telah berkata kepadaku Abdul Aziz bin Imran daripada Musa bin Yaqub Alzam'i daripada Abbad bin Abi Shaleh, bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi makam para Syuhada yang berada di Uhud setiap Haul (tahunya), kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat : Salam (keselamatan) untuk kalian berkat kesabaran kalian dan sebaik baiknya nikmat/balasan adalah nikmat/balasan akhirat (Qs. Ar-Ra'd: 24 ).

Perawi (Abbad bin Abi Shaleh) berkata: begitupun Abubakar melakukan hal yang sama (yaitu mendatangi kuburan para syuhada),dan Umar, dan juga Ustman رضي الله عنهم .

Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitab Dalaailu An-nubuwah, juga meriwayatkan dengan lafadz yang semisal.

والله أعلم....
✒_____
Di tulis oleh: Abu Muhammad Al-Maduri حفظه الله 

Share:

Shalawat Ibn Mas'ud

SHALAWAT GUBAHAN SAHABAT ABDULLAH BIN MAS'UD رضي الله عنه

ﻭَﻋَﻦِ ﺃَﺑِﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺭَﺿِِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗﺎَﻝَ : ﺍِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻴْﺘُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺎَﺣْﺴِﻨُﻮْﺍ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﺎِﻧَّﻜُﻢْ ﻻَﺗَﺪْﺭُﻭْﻥَ ﻟَﻌَﻞَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻳُﻌْﺮَﺽُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻓَﻌَﻠِّﻤْﻨَﺎ , ﻗَﺎﻝَ : ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﺻَﻠَﻮَﺍﺗِﻚَ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺘَﻚَ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠِﻴْﻦَ ﻭَﺍِﻣَﺎﻡِ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴْﻦَ ﻭَﺧَﺎﺗَﻢِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴِّﻴْﻦَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻚَ ﺍِﻣَﺎﻡِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻗَﺎﺋِﺪِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ , ﺍﻟَّﻬُﻢَّ ﺍﺑْﻌَﺜْﻪُ ﻣَﻘَﺎﻣًﺎ ﻣَﺤْﻤُﻮْﺩًﺍ ﻳَﻐْﺒِﻄُﻪُ ﺑِﻪِ ﺍْﻻَﻭَّﻟُﻮْﻥَ ﻭَﺍْﻻَﺧِﺮُﻭْﻥَ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ

“Abdullah bin Mas’ud berkata: “Apabila kalian bershalawat kepada Rasulullah ﷺ , maka perbaguslah redaksi shalawat yang baik kepada beliau, barangkali shalawat kalian itu diberitahukan kepada beliau.” Mereka bertanya: “Ajari kami cara shalawat yang bagus kepada beliau.” Beliau menjawab: “Katakan, ya Allah jadikanlah segala shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, penghulu para nabi, yaitu Muhammad hamba dan rasul-Mu, pemimpin dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau kedudukan yang terpuji yang menjadi harapan orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian.” Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibn Majah (906), Abdurrazzaq (3109), Abu Ya’la (5267), al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (9/115) dan Ismail al-Qadhi dalam Fadhl al-Shalat (hal. 59). Hadits ini juga disebutkan oleh Ibn al-Qayyim dalam kitabnya Jala’ al-Afham (hal. 36 dan hal 72).

والله أعلم....

Share:

HATI YANG BERJAUHAN

KENAPA MANUSIA MENJERIT-JERIT MASA MARAH?

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya. Mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : "Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?".

Salah seorang murid menjawab : "Karena kehilangan sabar sebab itulah mereka  berteriak."

"Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang berada di sebelahnya?
Bukankah pesan yang ia sampaikan boleh diucapkan dengan perlahan saja?" Tanya Syeikh menguji murid2nya.

Muridnya pun saling memberikan jawapan, namun tidak satupun jawapan yang mereka sepakati.

Akhirnya Syeikh  berkata : "Bila dua orang sedang marah, ketahuilah hati mereka saling berjauhan. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka mesti berteriak agar perkataannya dapat didengar. Semakin marah, maka akan semakin kuat teriakannya.  Karena jarak kedua hati semakin jauh". 

"Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta?" Tanya Syeikh.

"Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat."

"Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi?", Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya , mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi."

Syeikh memandang muridnya dan mengingatkan dengan lembut : "Jika terjadi pertengkaran di antara kalian, jangan biarkan hati kalian berjauhan. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, satu hari jaraknya tidak akan lagi boleh ditempuh"!!!

Share:

Senin, 04 April 2016

Beda Syiah dan Aswaja

PENYIMPANGAN AJARAN SYI'AH DARI AJARAN AHLUSSUNNAH

No. 1 PERIHAL Rukun Islam

SUNNI
1. Syahadatain
2. Shalat
3. Puasa
4. Zakat
5. Haji

SYI'AH
1. Shalat
2. Shaum
3. Zakat
4. Haji
5. Wilayah

No. 2 PERIHAL Rukun Iman

SUNNI
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malaikat Nya
3. Iman kepada Kitab-kitab Nya
4. Iman kepada Rasul Nya
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada Qadla' - Qadar

SYI'AH
1. Tauhid
2. Nubuwwah
3. Imamah
4. Al-'Adl
5. Al-Ma'ad

No. 3 PERIHAL Syahadat

SUNNI
Dua Kalimat Syahadat

SYI'AH
Tiga Kalimat Syahadat (ditambah Menyebut 12 Imam)

No. 4 PERIHAL Imam

SUNNI
Percaya kepada imam-imam bukan rukun iman (imam tidak terbatas)

SYI'AH
Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman

5. PERIHAL Khalifah

SUNNI
Khulafa' Rasyidin adalah Khulafa' yang Sah

SYI'AH
Khulafa' Rasyidin selain Sayyidina Ali tidak Sah

No. 6 PERIHAL Ma'shum

SUNNI
Khalifah (imam) tidak ma'shum

SYI'AH
Para Imam adalah ma'shum

No. 7 PERIHAL Sahabat

SUNNI
Dilarang mencaci setiap sahabat

SYI'AH
Mencaci para sahabat dan menganggap para sahabat banyak yang murtad

No. 8 PERIHAL Istri Rasul

SUNNI
1. Sayyidah 'Aisyah sangat dihormati
2. Para Istri Rasul termasuk Ahlul Bait

SYI'AH
1. Sayyidah 'Aisyah dicaci-maki
3. Para Istri Rasul bukan Ahlul Bait

No. 9 PERIHAL Al-Qur'an

SUNNI
Tetap Orisinil

SYI'AH
Sudah diubah oleh para sahabat

No. 10 PERIHAL Hadits

SUNNI
1. Shahih Al-Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abi Daud
4. Sunan At-Turmudzi
5. Sunan Ibnu Majah
6. Sunan An-Nasa'i

SYI'AH
1. Al-Kaafi
2. Al-Istibshor
3. Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih
4. At-Tahdzib

No. 11 PERIHAL Surga dan Neraka

SUNNI
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

SYI'AH
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali.

No. 12 PERIHAL Raja'ah

SUNNI
Tidak ada Aqidah Raja'ah

SYI'AH
Meyakini Aqidah Raja'ah

No. 13 PERIHAL Imam Mahdi

SUNNI
Imam Mahdi adalah sosok yang akan membawa keadilan dan kedamaian

SYI'AH
Imam Mahdi kelak akan membangunkan Rasulullah  Imam Ali, Siti Fatimah, serta Ahlul Bait yang lain.
Selanjutnya membangunkan Abu Bakr, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa.

No. 14 PERIHAL Mut'ah

SUNNI
Haram

SYI'AH
Halal dan dianjurkan

No. 15 Khamr

SUNNI
Tidak Suci/Najis

SYI'AH
Suci

No. 16 PERIHAL Air

SUNNI
Air yang telah dipakai istinja' (cebok) najis

SYI'AH
Air yang telah dipakai istinja' (cebok) Suci

No. 17 PERIHAL Shalat

SUNNI
1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri hukumnya Sunnah
2. Membaca Amin Sunnah
3. Shalat Dhuha Sunnah

SYI'AH
1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri hukumnya membatalkan shalat
2. Membaca Amin membatalkan shalat
3. Shalat Dhuha tidak dibenarkan

Sumber: Buku Mungkinkah Sunnah-Syi'ah dalam Ukhuwah? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syi'ah Bergandengan Tangan Mungkinkah?), diterbitkan oleh Pustaka Sidogiri, Pasuruan, cet. 3, tahun 2012.

✒ Tim Penulis MUI (Mejelis Ulama Indonesia) Pusat
📚 Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan SYI'AH di Indonesia

Download di sini:
https://abangdani.wordpress.com/2013/11/12/download-ebook-mengenal-dan-mewaspadai-penyimpangan-syiah-di-indonesia/#more-10625

Aplikasi Android:
https://play.google.com/store/apps/details?id=buku.panduan.mui.KESESATANSYIAH

Share:

Kategori Artikel