Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Rabu, 13 Desember 2017

Ilmu Dan Amal

Alangkah bnyak org yg berilmu...
tp tdk beramal..
Bnyk yg tahu suatu perbuatan maksiat..ttpi blm meninggalkannya...
Sufyan al-Tsauri ditanya, "Mencari ilmu lebih engkau sukai wahai Abu Abdillah, atau justru mengamalkannya?" Beliau menjawab: "Ilmu itu dicari untuk diamalkan. Janganlah engkau tinggalkan mencari ilmu karena alasan mengamalkannya. Jangan pula engkau tinggalkan pengamalan ilmu karena alasan mencari ilmu."

Somoga kita termasuk dlm org yg berilmu wal amal....

(Al-Hafizh Abu Nu'aim, Hilyah al- Auliya', juz 7 hlm 12).
Share:

Kasyaf (Penglihatan Ghaib) Imam Syafi'i


Menjelang kewafatan Imam Syafi'i, datanglah empat murid beliau yang paling menonjol. Mereka adalah Imam Buwaithi, Imam Muzani, Ibnu Abul Hakam dan Imam Robi. Saat itu Imam Syafi'i memandang mereka dalam-dalam dan berkata, "Engkau wahai Abu Ya'qub (kunyah Imam Buwaithi), dirimu akan meninggal dalam belenggu besi. Adapun engkau wahai Muzani, dirimu akan mengalami sebuah peristiwa besar di Mesir dimana engkau akan menjadi orang yang terpandai di zaman itu.

Lalu engkau wahai Muhammad (nama asli Ibnu Abul Hakam), dirimu akan kembali ke madzhab ayahmu. Sedangkan engkau wahai Robi, dirimu akan menjadi muridku yang paling bermanfaat bagiku dalam menyebarkan kitab." Imam Syafi'i juga mewasiatkan bahwa sepeninggalnya, yang menjadi khalifah beliau adalah Imam Buwaithi.

Di masa kekhalifahan Wastiqbillah dari Abbasyiah yang berfaham Mu'tazilah, Imam Buwaithi dipanggil penguasa dan dipaksa mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk, namun dengan tegas beliau menolak. Beliau akhirnya dipenjara hingga menemui ajalnya disana, persis seperti yang diramalkan Imam Syafi'i.

Setelah Imam Buwaithi wafat, majulah Imam Muzani sebagai khalifah Imam Syafi'i. Di bawah kepemimpinan beliau, Madzhab Syafi'i berkembang pesat (ini yang dimaksud Imam Syafi'i sebagai peristiwa besar). Beliau lalu diangkat sebagai pimpinan para ulama di Mesir, seperti yang diisyaratkan Imam Syafi'i bahwa beliau akan menjadi orang terpandai di Mesir.

Adapun Ibnu Abul Hakam, pada awalnya beliau bermadzhab Maliki sebagaimana ayahnya, namun pindah ke Syafi'i setelah Imam Syafi'i datang ke Mesir, dan setelah wafat Imam Syafi'i, beliau kembali lagi ke madzhab Maliki sebab terlibat perseteruan dengan murid-murid Imam Syafi'i yang lain, dimana beliau ingin menjadi khalifah Imam Syafi'i padahal Imam Syafi'i telah menunjuk Imam Buwaithi. Peristiwa ini sebagaimana juga ramalan Imam Syafi'i.

Terakhir Imam Ar-Robi bin Sulaiman Al-Murodi, beliaulah yang menyalin sekaligus menyebarkan kitab induk Al-Umm milik Imam Syafi'i hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia sampai hari ini, sebagaimana yang diisyaratkan Imam Syafi'i. Dalam satu waktu, di halaman rumah beliau pernah terparkir 700 kendaraan untuk mengangkut orang-orang yang sedang belajar kitab Imam Syafi'i.

Referensi :
- Kitab Manaqib Asy-Syafi'i karya Imam Baihaqi 
- Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i karya KH. Sirajuddin Abbas
Share:

Rabu, 08 November 2017

Ikhtiyarat Imam Nawawi



Imam Nawawi adalah salah seorang ulama besar dalam Madzhab Syafi'i. Kehebatan beliau dalam meneliti Madzhab Syafi'i diakui oleh para ulama, sehingga beliau dijuluki sebagai Muhaqqiq (pemegang otoritas) Madzhab. Artinya, apa yang beliau sahkan sebagai Madzhab, maka itulah Madzhab yang sebenarnya.

Namun demikian, beliau memiliki beberapa pendapat pribadi yang berseberangan dengan Madzhab. Pendapat-pendapat pribadi tersebut dikenal dengan istilah "ikhtiyarot" yang artinya pilihan.

Berikut ini beberapa ikhtiyarot beliau:

1. Wajib berwudhu karena mengkonsumsi daging unta. Pendapat ini juga selaras dengan madzhab Imam Ahmad.

2. Tidak makruh bersiwak di siang hari bulan Ramadhan secara mutlak. Pendapat ini selaras dengan pendapat Al Muzani (murid Imam Syafi'i) dan juga pendapat mayoritas ulama.

3. Perhitungan masa mengusap Khuf dimulai sejak mengusap pertama kali setelah batal wudhunya. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Daud Az Zhohiri.

4. Orang yang melepas Khufnya atau masa aktif mengusap Khufnya berakhir, padahal wudhunya masih belum batal, maka tidak ada kewajiban membasuh apapun, baik kedua kakinya maupun selain itu. Artinya, wudhunya masih sah dan dia boleh shalat dengannya selama belum batal. Jadi, statusnya sama dengan ketika dia belum melepas Khufnya. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Sulaiman bin Harb dan dipilih oleh Ibnul Mundzir.

5. Boleh menjamak shalat karena sakit.

6. Haram berjimak dengan istri yang sedang haid, tapi tidak apa-apa bersenang-senang dengan bagian tubuh istri antara pusar sampai lutut.

7. Boleh memanjangkan iktidal dengan membaca dzikir selain rukun.

8. Haram melihat bocah kecil yang tampan.

Masih banyak lagi pendapat-pendapat pilihan beliau yang berseberangan dengan Madzhab. Meskipun demikian, bukan berarti beliau telah keluar dari komunitas Madzhab Syafi'i dengan pilihan pribadi tersebut. Beliau tetap menjadi anggota "Very Important Person" (VIP) dalam Madzhab Syafi'i. Karena jumlah pendapat-pendapat pribadi yang beliau pilih itu masih sangat sedikit dibandingkan dengan pendapat-pendapat beliau yang sesuai dengan Madzhab. Beliau juga bukan satu-satunya ulama Madzhab Syafi'i yang memiliki "ikhtiyarot" semacam itu. Selain beliau ada juga ulama lain yang memiliki ikhtiyarot pribadi misalnya Al Qaffal Asy Syasyi, Al Qodhi Al Husain, Al Baghowi, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain. Mereka semua tetap menjadi anggota VIP juga sebagaimana An Nawawi.

Adapun alasan beliau memilih pendapat-pendapat tersebut adalah karena kekuatan dalil yang menurut beliau mengharuskan meninggalkan Madzhab dan mengikuti dalil. Atau karena pilihan tersebut demi kemudahan umat dan orang-orang awam, khususnya ketika Madzhab menetapkan pendapat yang berat dan menyulitkan padahal dalilnya tidak shahih.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish showab.

Rujukan: "Al Madkhol Ila Madzhabil Imam Asy Syafi'i", Fahd Abdullah Al Hubaisyi, 47-48.
Share:

Mengaku Mujtahid

Akhir zaman ini banyak Orang-orang yang belum Mumpuni ilmu Agama Islam sudah berani Menghukumi suatu masalah berdasarkan pemikiran mereka sendiri yang mereka dapatkan dari terjemahan satu-dua Hadits Nabi tanpa memandang Kaidah-kaidah yang telah ditetapkan Oleh para Ulama terdahulu. 



Padahal keilmuan Orang-orang pada Zaman Akhir(kurun setelah Imam Empat Madzhab) sangat jauh dibanding para ulama terdahulu, orang-orang sekarang banyak yang tidak fair dalam menggunakan hadits, semangat dalam berfatwa hanya dengan beberapa hadits tapi mengabaikan Hadits-hadits lain yang jauh lebih harus dipertimbangkan, Hafal satu dua Hadits saja sudah Berikrar Menjadi Ustadz dan berani meng bid’ah-bid’ahkan suatu golongan Mayoritas, padahal Kalau kita lihat sejarah Para Ulama Salaf, mereka Hafal ratusan ribu Hadits akan tetapi mereka tetap bermadzhab dan menhukumi masalah berdasarkan ijtihad Imam Madzhab.

Jauh-jauh Hari para Ulama sudah memperingatkan kepada Umat untuk Berhati-hati dalam menyampaikan agama Islam, salah satunya yang disampaikan dalam Kitab Bughyatul Musytarsyidin Berikut Ini:

ـ (مسألة: ك): شخص طلب العلم، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه، وكان ذا فهم وذكاء، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم، ولم يلتزم مذهباً، بل عدل إلى الاجتهاد، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة، وكيف أخذ هو ما يخالفها؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي: الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين: أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي: مستقل، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد ـ اهـ بغية المسترشدين ص ٦ المرجع الأكبر




‘’Ada orang orang yang pandai dan cerdas, banyak mempelajari kitab kitab karangan ulama salaf, baik itu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqih, kemudian menghukumi suatu masalah dengan pendapatnya sendiri, maka orang yang seperti ini adalah orang yang sesat dan menyesatkan yang justru menjauhkan dari pokok agama yang benar dan jalan Pemimpin para Rasul yaitu Nabi Muhammad Saw.

Mereka menolak kitab kitab ulama salaf yang yang notabene adalah ahli ilmu, mereka menyuarakan tentang tidak wajibnya bermadzhab dan mengarahkan kepada pemahaman agama dari hasil ijtihadnya sendiri, mereka mengaku beristinbath(menggali Hukum) langsung kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman sendiri, sedang mereka tidak memenuhi kriteria syarat syarat berijtihad yang sudah masyhur bagi ahli ilmu, mereka mewajibkan masyarakat untuk mengikuti hasil ijtihad mereka 
Maka untuk orang orang yang seperti diatas (yang mengaku ngaku berijtihad langsung / menggali hukum langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah) wajib atas mereka bertaubat dan kembali kepada jalan kebenaran (sesuai pemahaman mayoritas ulama salaf) dan masyarakat wajb menolak ajakan mereka yang bathil.

Apabila kitab-kitab karangan para ulama salaf dikesampingkan (tidak dipakai), maka dengan apa seseorang memahami agama ini yang selanjutnya dipakai untuk pedoman hidup ?
Padahal dia tidak bertemu langsung dengan Nabiyyuna Muhaamad  SAW, juga tidak bertemu dengan para Sahabat Nabi ,
Bila kebetulan dia mempunyai sesuatu kitab karangan ulama salaf lalu dia mempelajarinya sendiri, lalu dalam proses memahami kitab tersebut dia salah pemahaman , maka kepada siapa dia akan minta petunjuk untuk membenarkan pemahamannya ? Silakan jelaskan kepada kami !

Sesungguhnya kitab kitab karya para Imam Agung empat Madzhab dan para ulama yang taqlid (mengikuti) kepada mereka, Sumbernya adalah Al-Qur'an dan Sunnah,
Bagaimana proses ijtihadnya sehingga menyelisihi pendapat pendapat mereka ?
Kenapa mereka mereka yang saat ini mengaku berijtihad langsung dan kembali kepada Al-Qur'an da Sunnah menghasilkan pendapat dan pemikiran yang sangat jauh dari para Imam Madzhab  yang empat diatas ?

Berkata Al-Imam Asy-Syaikhoni dan pendahulu mereka Al-Imam Al-Fakhrur Rozi : Orang-orang  zaman sekarang ini ibarat perkumpulan banyak orang hanya saja tidak ada mujtahid di dalamnya.

Syaikh Ibnu Hajar menuqil fatwa dari sebagian para Ahli Ushuluddin: Sesungguhnya setelah kurun masa Imam Syafi'i tidak ditemukan lagi seorangpun yang mencapai derajat mujtahid mustaqil (Mujtahid yang menggali langsung Al-Qur'an da Sunnah).

Contoh terdekat , Imam As-Suyuthi yang dikenal luas ilmunya dan mengusai berbagai fan ilmu, beliau berijtihad dengan nisbi (mengikuti pendapat dari Imam Syafi'i), bukan seorang mujtahid mustaqil, kenapa beliau tidak berani ? padahal kitab kitab karangan beliau sangat banyak , tidak kurang dari 500 (lima ratus) kitab .

Sesunguhnya orang orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya seorang mujtahid mustaqil dan menganggap hasil ijtihad mereka benar , hal itu tidak diperbolehkan, walaupun mereka memastikan bahwa mereka adalah seorang mujtahid mustaqil, seperti layaknya mujtahid zaman dahulu’’.


Share:

Selasa, 07 November 2017

Antara Habib dan Orang Alim



بين الحبيب والعالم

ANTARA HABIB dan ORANG ALIM

يَا مَـنْ تَكَلَّمَ فِي الْحَبِيْبِ وَعَــالِمِ
وَرَأَى الْـحَبِيْبَ بِـــأَنَّهُ لَمْ يُــــكْرَمِ

Wahai orang yang berbicara tentang habib dan orang alim (kyai)
Menganggap bahwa habib tidak perlu di muliakan

اِسْـــمَعْ إِذَا مَــــا كُنْتَ ذَا عِـــلْمٍ وَذَا
أَدَبٍ وَلَسْتُ أَخَافُ خَـصْمَةَ خَـاصِمِ

Dengarkanlah, jika kamu punya ilmu dan adab
Aku tidak takut bantahan orang yang membantah

قَالُوا الْحَبِيْبُ بَنُو الْحُسَيْنِ كَذَا الْحَسَنْ
إِنِّي أُحِـــبُّـــــــهُمَا وَلَا تَــــــكُ لَائِـــــمِي

Ulama menerangkan: habib adalah keturunan Husain dan Hasan
Aku mencintai keduanya ( habib dan kyai ), jangan kau mencaciku

فَــلِعَـالِمٍ شَرَفُ الْعُــلُوْمِ إِذَا عَــمِلْ
لـِحَبِــيْبِنَا شَــرَفٌ وَإِنْ لَمْ يَـــعْــلَمِ

Orang alim punya kemuliaan ilmu, jika mengamalkan ilmunya 
Seorang habib juga punya kemuliaan meski dia tidak alim

شَــرَفُ انْـتِسَابٍ لِلرَّسُـــوْلِ الْأَكْبَرِ
فَــاقْرَأْ فَــتَاوَى لِلْإِمَــامِ الْهَــيْتَمِي

Yaitu kemuliaan bernasab sambung kepada Sang Rasul.

Bacalah kitab Fatawa Ibnu Hajar al-Haitami

وَجَــرَى خِـلَافٌ بَيْنَهُمْ مَنْ أَفْــضَلُ؟
فَاسْـمَعْ أَخِي إِنْ كُنْتَ تَـعْقِلُ أَوْ نَــمِ

Ada perbedaan antara ulama, siapa yang lebih utama ( habib atau orang alim ) ?
Dengarkanlah wahai saudaraku, 
إِنَّ الْحَـبِيْبَ وَإِنْ يُـــجَــنُّ حَــبِيْبُ
وَالْعَــالِمُ الْمَــجْنُوْنُ لَيْسَ بِـــعَــالِمِ

Sesungguhnya habib tetap habib meski dia gila Tapi seorang alim jika gila, tak lagi di sebut alim (karena ilmunya hilang)

هَــذَا قَــلِيْلٌ وَالْقَــلِيْلُ لِعَـــاقِــلٍ
يَــكْفِي وَلَا يَكْفِي الْكَثِــيْرُ لِهَـائِمِ

مَــوْلَايَ صَـــلِّ عَـــلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
وَالْآلِ وَالصَّــحْبِ الْكِــرَامِ وَسَــــلِّمِ

Ya Tuhan, bersholawat dan salamlah kepada Nabi Muhammad
Keluarga, dan sahabatnya yang mulia.

Ketika Zaid bin tsabit menaik kendaraaannya, seketika Ibnu Abbas memegang tali kekang dan menuntun nya, kata Zaid bin tsabit jangan begini lalu
Ibnu Abbas Menjawab : 
“Demikianlah kami diajarkan untuk memuliakan ulama kami”, setelah itu Zaid Bin Tsabit (seorang Faqih di zaman nya) mengambil tangan ibnu Abbas dan menciumnya, sambil berkata :
“Demikianlah kami diajarkan untuk memuliakan keluarga Nabi kami saw.

*اللّهُمّ صَلّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمّد وَ عَلَى آل سَيّدِنَا مُحَمّد*
Allahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad.
Share:

CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A



‎و كان رضي الله عنه ينهى من رآه مفرقا بين كفيه عند رفعهما للدعاء و يأمر بجمعهما و إلصاق كل منهما بالآخر كأنه يتناول شيئا يخاف عليه أن يسقط من بين كفيه و ينزل العطاء الإلهي المعنوي.
‎(مجموع الكلام للحبيب عيدروس بن عمر الحبشي ص ٤٣٧)

Al-Habib Al-Imam Idrus bin Umar Al-Habsyi melarang seseorang yang dilihat beliau saat berdoa dia memisahkan kedua telapak tangannya saat diangkat untuk berdo'a dan beliau memerintahkan untuk mendempetkan kedua telapak tangan dan menempelkannya satu sama lain sehingga seakan-akan dia menadah sesuatu dan takut sesuatu tersebut jatuh dari kedua telapak tangan, dan jatuh pula demikian pemberian Allah yang maknawi.

Dari kitab : Majmu' kalam Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi Hal. 437.

‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh...

Aamiiiiiin
Share:

Kategori Artikel