Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Jumat, 01 Maret 2024

Tidak Tahu Bagian dari Ilmu

Pentingnya ucapan saya tidak tahu (لا أدري)


Nasihat Imam Malik Rahimahulloh: "Semestinya bagi seorang alim mewariskan kepada jemaahnya ucapan saya tidak tahu (لا أدري).

Berikut beberapa panutan yang pernah mengamalkan لا أدري :


1. Rasulullah Saw ketika ditanya tempat apa yang paling afdhol beliau menjawab saya tahu saya tanyakan dulu malaikat Jibril


2. Malaikat Jibril ketika ditanya Rasulullah tempat apa paling afdhol maka Jibril menjawab saya tidak tahu saya tanya dulu Robbku, Allah SWT.


3. Imam abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi) menjawab dalam delapan masalah dengan saya tidak tahu


4. Imam Malik (pendiri Mazhab Maliki) ditanya 48 pertanyaan, Imam Malik hanya menjawab 16 pertanyaan saja, sisanya 32 pertanyaan lagi Imam Malik hanya menjawab saya tidak tahu


5. Imam Syafi'i ketika ditanya tentang masalah mut'ah saya tidak tahu 


6. Imam Ahmad bin Hambal (pendiri Mazhab Hambali) sangat banyak sekali beliau mengeluarkan jawaban saya tidak tahu.  Al-Allamah al-Muhaddist Hasan al-Masysath, Rof'ul Astar 165.

Share:

Selasa, 27 Februari 2024

​(Jangan sembarangan) mengikuti kata hatimu


"Bertanyalah kepada hati nuranimu. Perbuatan baik adalah apa saja yang terasa tentram dalam hati. Sedangkan dosa adalah perbuatan yang menggelisahkan hatimu dan kamu tidak suka perbuatan itu dilihat orang lain" (HR Ahmad)


"استفت قلبك"


Rasulullah ﷺ tidak bermaksud bahwa setiap orang boleh mengikuti arahan hatinya. Beliau ﷺ menyampaikan nasehat itu hanya kepada sahabat bernama Wabishah ra., sebab Allah telah memberikan nur dalam hatinya yang mampu memisahkan antara baik dan buruk.


Nasehat ini hanya berlaku untuk orang mukmin yang hatinya bersih, tidak banyak dosa, yang firasatnya kuat, seperti kata Nabi ﷺ:


"Takutlah kalian pada firasat orang mukmin. Sungguh dia melihat dengan cahaya Allah"  (HR Tirmizi)


Jika semua orang menggunakan dalil istafti qalbak, maka hasilnya adalah keruwetan saat ini. Tiga orang bertengkar di TV saling tunjuk dada sambil mengatakan "coba tanyakan pada hati nuranimu". Masing masing merasa sedang membela kebenaran yang diwangsitkan. Padahal dalam hati setiap manusia selain ada warid ilham dari Allah, ada juga bisikan waswas dari setan.


- Al Jawahir Al Luluiyah, hal. 260.

- Ihya ulumiddin, vol. 2, hal. 117.

Share:

Sujud Nabi Adam

Antara sujud malaikat kepada Nabi Adam dan keunggulan Rasulullah ﷺ

Dalam perspektif al-Imam Fakhruddin al-Razi


 أن كون آدم مسجودا للملائكة لا يوجب أن يكون أفضل من محمد، بدليل قوله ﷺ: «آدم ومن دونه تحت لوائي يوم القيامة»

وقال: «كنت نبيا وآدم بين الماء والطين»


Nabi Adam disujudi malaikat itu tidak mengharuskan Nabi Adam lebih unggul dari Nabi Muhammad. Hal ini atas dasar sabda Nabi ﷺ:

Adam dan Nabi-nabi yang lain akan berada di bawah benderaku kelak di hari kiamat.


Dan beliau bersabda: Aku telah menjadi Nabi ketika Adam diantara air dan tanah liat. 


ونقل أن جبريل أخذ بركاب محمد ﷺ ليلة المعراج، وهذا أعظم من السجود، وأيضا أنه تعالى صلى بنفسه على محمد، وأمر الملائكة والمؤمنين بالصلاة عليه، وذلك أفضل من سجود الملائكة، 


Dan diriwayatkan pula bahwa Jibril membersamai Nabi Muhammad ﷺ di malam mi'raj. Hal ini tentu lebih agung dari sujud. Dan juga Allah Ta'ala bershalawat sendiri pada Nabi Muhammad, dan Dia memerintahkan para malaikat dan kaum mu'minin untuk bershalawat kepadanya. Hal ini tentu lebih unggul dari sujudnya malaikat.


ويدل عليه وجوه الأول: أنه تعالى أمر الملائكة بسجود آدم تأديبا، وأمرهم بالصلاة على محمد ﷺ تقريبا


Ada beberapa faktor yang menunjukkan keunggulan itu:

(1) Bahwasanya Allah Ta'ala memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam dalam rangka ta'dib (mengajarkan adab), sedangkan Allah memerintahkan mereka untuk bershalawat pada Nabi Muhammad ﷺ dalam rangka taqrîb (mendekatkan diri pada Allah).


والثاني: أن الصلاة على محمد  دائمة إلى يوم القيامة، وأما سجود الملائكة لآدم ما كان إلا مرة واحدة 


(2) Bahwasanya bershalawat pada Nabi Muhammad ﷺ itu akan terus berlangsung hingga hari kiamat, sedangkan sujud malaikat kepada Nabi Adam hanya terjadi sekali.


الثالث:

أن السجود لآدم إنما تولاه الملائكة، وأما الصلاة على محمد ﷺ فإنما تولاها رب العالمين ثم أمر بها الملائكة والمؤمنين


(3) Bahwasanya sujud kepada Adam hanya dilakukan oleh para malaikat, sedangkan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ dilakukan (dan diawali) oleh Allah Rabbul 'Alamin, kemudian Allah perintahkan kepada malaikat dan kaum mu'minin.


والرابع: أن الملائكة أمروا بالسجود/ لآدم لأجل أن نور محمد في جبهة آدم.


(4) Bahwasanya malaikat diperintahkan sujud kepada Nabi Adam karena ada Nur Muhammad pada dahi Nabi Adam.


اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه

Share:

Kisah Orang Alim dan Orang Awam

Kata Imam As Suyuthi ; Orang alim dalam pandangan orang AWAM adalah orang yang naik mimbar.


Kisah Juha:

Suatu hari Juha naik mimbar, lalu ia bertanya: Ayyuhan Nâs! Apakah kalian tahu apa yang saya sampaikan padamu?


Jamaah menjawab: Tidak tahu.


Juha menjawab: Selagi kalian gak tahu yang saya sampaikan, gak ada gunanya memberi pelajaran pada orang-orang bodoh. 

Ia pun turun dari mimbar.


Di lain hari, Ia naik mimbar lagi, seraya bertanya: Ayyuhan Nâs! Apakah kalian tahu apa yang saya sampaikan padamu?


Jamaah menjawab: Ya tahu.


Ia pun berkata: Selagi kalian dah tahu, gak ada gunanya lagi mengulanginya.


Ia pun turun dari mimbar.


Jamaah pun bersepakat ada yang menjawab iya, ada yang menjawab tidak?


Di lain hari, Juha naik mimbar kembali.


Ia bertanya: Ayyuhan Nâs! Apakah kalian tahu apa yang saya sampaikan padamu?


Ada jamaah yang menjawab: Iya, dan ada pula yang menjawab: tidak.


Juha pun berkata: (Kalau gitu) Yang sudah ngerti kasih tahulah mereka-mereka yang gak ngerti ini.

Share:

Rabu, 17 Mei 2023

Syarat Taqlid Mazhab


وقد ذكر العلامة ابن حجر ـ رحمه الله ـ في التحفة أنه يجوز تقليد كل من الأئمة الأربعة وغيرهم ممن حفظ مذهبه في تلك المسألة ودون حتى عرفت شروطه وسائر معتبراته بشروط :  


1 ـ أن لا يكون مما ينقض فيه قضاء القاضي . 


2 ـ أن يكون خاصا بعمل النفس دون القضاء والإفتاء .


أما القضاء والإفتاء فيمتنع تقليد غير الأربعة فيه إجماعا .


3 ـ أن يعتقد أرجحية قول من قلده أو مساواته لغيره .


ذكر هذا الشرط ثم رده بقوله : لكن المشهور الذي رجحاه ـ أي : الشيخان ـ جواز تقليد المفضول مع وجود الفاضل ، ولا ينافي ذلك كونه عاميا جاهلا بالأدلة ؛ لأن الاعتقاد لا يتوقف على الدليل لحصوله بالتسامح ونحوه .أ.هـ


4 ـ أن لا يتتبع الرخص , بأن يأخذ من كل مذهب بالأسهل منه ؛ لانحلال ربقة التكليف من عنقه حينئذ ، ومن ثم كان الأوجه أنه يفسق به .


5 ـ أن لا يلفق بين قولين يتولد منهما حقيقة مركبة لا يقول بها كل منهما .


6 ـ أن لا يعمل بقول في مسألة ، ثم بضده في عينها . والله أعلم


#عبدالله_بن_محمد_بن_حسين

Share:

Minggu, 31 Juli 2022

Fiqh Tahawwulat


Malam ini Habib Abu Bakar al-Adni wafat. Banyak yg tidak tau bila beliau ini "mufakkir, pemikir" karena intelektualnya mengenai peradaban zaman. Terutama dalam hal fiqh tahawwulat.


Habib Ahmad bin Novel bin Jindan (Al-Fachriyyah), tentang salah satu gurunya yang intensif membahas ilmu tentang tanda-tanda kiamat. Sosok itu ialah Habib Abu Bakar 'Adni bin Ali al-Masyhur.


Suatu hari, Habib Abu Bakar membaca kitab hadits di hadapan gurunya, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah, Arab Saudi. Pas hadits yang dibaca adalah tentang nubuat Rasulullah tentang negeri Irak yang dilanda gejolak, sampai-sampai tak ada makanan maupun uang, embargo ekonomi berlaku.


Lalu Habib Abu Bakar bertanya kepada Habib Abdul Qadir, apakah kabar tersebut sudah terjadi, atau belum terjadi, atau sedang terjadi sebab saat itu Irak sedang perang dengan Kuwait. Sang guru menyuruh muridnya itu membaca kitab-kitab syarah hadits tersebut.


Kemudian Habib Abu Bakar menemukan keterangan bahwa ternyata kondisi Irak yang disebutkan dalam hadits itu sudah terjadi berulang kali. Mulai dari sini beliau terilhami untuk menyusun metodologi khusus untuk membaca ayat-ayat maupun hadits-hadits mengenai tanda-tanda akhir zaman, sehingga menjadi satu disiplin ilmu yang utuh.


Maka lahirlah cabang ilmu baru yang beliau sebut dengan Fiqh at-Tahawwulat (fiqh; pemahaman mendalam, tahawwulat; dinamika zaman). Meskipun pada dasarnya hakekat ilmu ini sudah ada sejak zaman Rasulullah, sudah pula dipahami para salaf, namun perumusannya secara metodologis baru muncul saat ini.


Beliau merasa perlu memopulerkan ilmu ini di tengah kondisi global yang ricuh dan tidak stabil. Plus agar umat Islam -khususnya- para dai dan ulamanya tidak keliru membaca realita, tidak terpancing menjadi bahan bakar huru-hara, tidak terpedaya hasutan bala tentara Dajjal untuk saling menghancurkan.


Sampai-sampai beliau menyebut bahwa ilmu ini adalah ilmu yang terabaikan. Padahal posisinya sejajar dengan tiga ilmu lain yang sudah mendarah daging dalam kehidupan umat Islam, yakni akidah, ibadah, dan akhlak.


Bahkan beliau sebut pula bahwa pemahaman dan penyikapan terhadap tanda-tanda kiamat merupakan 'rukun agama keempat' setelah Iman, Islam, dan Ihsan. Sebab keempat-empatnya disebutkan berurutan di dalam Hadits Jibril yang masyhur itu.


Nah, berbeda dengan Syaikh Imran Hosen yang saya sebut di awal, kajian eskatologi Habib Abu Bakar fokus kepada metodologi ilmiah sebagai ilmu yang tanggal dan utuh. Beliau sudah menulis banyak kitab tentang Fiqh Tahawwulat ini, seperti "Al-Usus al-Munthaliqat fi Tahlili wa Tafshili Ghawamidhi Fiqhit Tahawwulat", "At-Talid wat Tharif Syarh Manzhumati Fiqhit Tahawwulat wa Sunnatil Mawaqif", "An-Nubdzatus Shughra li Ma'rifatir Ruknir Rabi' min Arkanid Din wa 'Alamatihis Shughra wal Wustha wal Kubra", dan lain-lain.


Judul terakhir yang saya sebut, Nubdzah Shughra, bisa dikatakan sebagai kitab dasar pengantar bagi ilmu Fiqh Tahawwulat. Pernah di-daurah-kan di Al-Fachriyyah bersama wakil Habib Abu Bakar di Indonesia, Syaikh Samih al-Kuhaili.


Berbeda dengan kajian eskatologis dai-dai lokal yang dipenuhi prediksi, spekulasi, teror konspirasi, bias penafsiran dan segala jenis kesuraman, Habib Abu Bakar menawarkan metodologi yang runtut dan ilmiah dalam membaca hadits-hadits tentang tanda-tanda kiamat. Plus, beliau juga menawarkan solusi praktis nan generik yang bisa dicerna oleh kaum muslimin secara umum.


Di bagian ke-24 kitab Nubdzah Shughra, Habib Abu Bakar menyebutkan bahwa suatu kekeliruan jika mempelajari ilmu tanda kiamat membuat umat jadi panik, pesimis, dan tidak produktif. Sebab nash-nash Al-Quran maupun hadits sebenarnya sudah menawarkan solusinya, jalan selamat, bahkan teknik penjagaannya.


Lalu di bagian akhir kitab, beliau memberikan satu resep generik bagi kaum muslimin yang mengalami masa-masa fitnah saat ini. Yakni; menjaga lisan dari mencela, dan menjaga tangan dari pertumpahan darah.


حفظ اللسان من الذم وحفظ اليد من الدم


Inilah pendirian yang dilazimi para salaf dan leluhur beliau, seperti Imam Hasan bin Ali, Imam Ali al-Uraidhi, dan Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir. Tentu tak pantas bagi saya untuk berpanjang lebar menuliskan tema ini. Kita nantikan saja murid-murid Habib Abu Bakar muncul di medsos sebagai dai Fiqh Tahawwulat, sehingga kita bisa mengambil ijazah dan faedah dari mereka.


Sumber : Fb


(Zia Ul Haq)

Share:

Kategori Artikel