Media Sebagai Bagian Dari Dakwah untuk menyampaikan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Minggu, 21 Juni 2015

DOA MENYAMBUT RAMADHAN

Ini adalah Do ’a Sulthan Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qadir jilani Menyambut Bulan Ramadhan  



    ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍْﻻِﻳْﻤَﺎﻥِ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺃَﻥِ 
ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍْﻻَﻧْﻮَﺍﺭِ 
ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟْﻤَﻐْﻔِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟْﻐُﻔْﺮَﺍﻥِ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺠَﺎﺕِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪَّﺭَﻛَﺎﺕِ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟﺘَّﺎﺋِﺒِﻴْﻦَ ﺍﻟْﻌَﺎﺑِﺪِﻳْﻦَ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼََﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟْﻌَﺎﺭِﻓِﻴْﻦَ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪِﻳْﻦَ 
 ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻳَﺎ ﺷَﻬْﺮَ ﺍْﻷَﻣَﺎﻥِ . ﻛُﻨْﺖِ ﻟِﻠْﻌَﺎﺻِﻴْﻦَ ﺣَﺒْﺴًﺎ  ﻭَﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴْﻦَ ﺍُﻧْﺴًﺎ 
ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻟﻘَﻨَﺎﺩِﻳْﻞِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺼَﺎﺑِﻴْﺢِ ﺍﻟﺰَّﺍﻫِﺮَﺓِ . ﻭَﺍﻟْﻌُﻴُﻮْﻥِ ﺍﻟﺴَّﺎﻫِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻣُﻮْﻉِ ﺍﻟْﻬَﺎﻃِﻠَﺔ 
ﻭَﺍﻟْﻤَﺤَﺎﺭِﻳْﺐِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻌَﻄِّﺮَﺓِ . ﻭَﺍْﻟﻌَﺒَﺮَﺍﺕِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺴَﻜِﺒَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻔَﻄِّﺮَﺓِ 
 ﻭَﺍْﻻَﻧْﻔَﺎﺱِ ﺍﻟﺼَّﺎﻋِﺪَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏِ ﺍﻟْﻤُﺤْﺘَﻘِﺮَﺓِ 
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻤَّﻦْ ﻗَﺒِﻠْﺖَ ﺻِﻴَﺎﻣَﻬُﻢْ ﻭَﺻَﻼَﺗَﻬُﻢْ ﻭَﺑَﺪَّﻟْﺖَ ﺳَﻴِّﺌﺎَﺗِﻪِ ﺑِﺤَﺴَﻨَﺎﺗِﻪِ 
. ﻭَﺍَﺩْﺧَﻠْﺘَﻪُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻓِﻰ ﺟَﻨَّﺎﺗِﻚَ . ﻭَﺭَﻓَﻌْﺖَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺗِﻪِ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺃَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮﺍَّﺣِﻤِﻴْﻦَ 



Salam bagimu wahai bulan ramadhan
Salam bagimu wahai bulan qiyam
Salam bagimu wahai bulan iman.
Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan AlQuran.
Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya .
Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan.
Salam bagimu wahai bulan ( untuk menaikkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah.
Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah . 
Salam bagimu wahai bulan milik orang -orang yang ma'rifat. 
Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh- sungguh. 
Salam bagimu wahai bulan yang aman. Engkau adalah penjara bagi orang orang yang melakukan maksiat & kesenangan bagi orang- orang yang bertakwa.
Salam bagi pelita yang bersinar, mata - mata yang terjaga ,airmata yang terus menetes , mihrab-mihrab yang semerbak mewangi, airmata yang tumpah, dan nafas- nafas yang naik dari hati yang hina .

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan shalatnya, yang Engkau ganti kejelekannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga -Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu , wahai Dzat Yang Maha Kasih. ”


Dinukil dari Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthon Al Aulia ’ Sayyidina Syaikh ‘ Abdul Qodir jilani.
Share:

RIDHA MANUSIA


RIDHA MANUSIA TIDAK MUNGKIN DICAPAI 



Sayyidina al-Imam al-Syafi'i radhiyallahu ' anhu berkata :

ﺭﺿﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻏﺎﻳﺔ ﻻ ﺗﺪﺭﻙ ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻣﻦ ﺃﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺳﺒﻴﻞ ﻓﻌﻠﻴﻚ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ ﻓﺎﻟﺰﻣﻪ

Ridha semua manusia adalah puncak yang tidak
.dapat kamu capai
Tidak ada jalan bagimu untuk selamat dari tikaman lidah-lidah manusia. Karena itu kerjakan apa yang bermanfaat bagimu, lalu berpeganglah dengannya
Share:

DOA SEBELUM MASUK RAMADHAN

هذا دعاء يقال قبل دخول رمضان بيوم :

اللهم اهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام والمسارعة إلى ماتحب وترضى والعافية المجللة والرزق الواسع ودفع الاسقام

اللهم ارزقني صيامه وقيامه وتلاوة القرآن فيه

اللهم سلمه لنا وتسلمه منا وسلمنا فيه وقد عفوت عنا وغفرت لنا ورحمتنا

اللهم اجعل صيامي فيه صيام الصائمين وقيامي فيه قيام القائمين ونبهني فيه على نومة الغافلين وهب لي فيه اليسر والعافية
إنك على كل شي قدير وقربني فيه إلى مرضاتك وجنبني فيه من سخطك ونقماتك ووفقني فيه لقراءة آياتك برحمتك ياارحم الراحمين‬‎.

امين يارب العالمين..

Share:

KIAT SEMANGAT DALAM RAMADHAN


1. BERDOA MEMINTA KEKUATAN BERIBADAH KEPADA     ALLAH


Rasulullah SAW mengajarkan kepada Sayyidina Mu'adz bin Jabal untuk mendawamkan membaca doa berikut setiap selesai sholat:

"Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik"

(Ya Allah Tolonglah aku agar senantiasa mengingatMu dan bersyukur kepadaMU serta mempersembahkan ibadah terbaik untukMu).

Hal ini dikarenakan bahwa kekuatan beribadah merupakan anugerah dari Allah dan kita tak dapat merasakan nikmatnya ibadah tanpa taufiq dari Allah.

Adalah Rasulullah SAW jika menghadapi Ramadhan berdoa:

"Allahumma Sallimna lirramadhan wa sallim Ramadhan Minna wa tasallimhu minna mutaqabbalan" 

(Ya Allah selamatkan aku sehingga mampu beribadah pada Bulan Ramadhan, selamatkan pula Ramdahan dari keburukan-keburukanku dan Jadikan amalku di dalamnya sebagai ibadah yang Engkau terima)



2. MENJAGA PENGLIHATAN, PENDENGARAN DAN                 UCAPAN DARI HAL-HAL YANG DIHARAMKAN

Hal tersebut karena ketiganya merupakan pintu masuk kebaikan dan keburukan dalam hati kita, jika kita bisa menjaganya maka semakin teranglah cahaya yang ada di dalam hati kita dan hal tersebut menjadi sebab semangatnya jiwa dan badan kita untuk terus beribadah kepada Allah.


3. MENGHADIRKAN ALLAH DI SETIAP IBADAH KITA

Hal yang sewajarnya bagi kita jika meningkatkan kuantitas ibadah kita di bulan Ramadhan, namun yang juga harus kita perhatikan adalah dengan kuantitas yang meningkat tersebut kita juga harus mampu menghadirkan Allah di setiap ibadah kita. 
Kita harus bisa menikmati bacaan quran kita dan memahaminya, tidak sekedar target satu hari satu juz atau lebih. Begitu juga dengan ibadah tarawih kita, jangan sekedar 20 rakaat tapi tak mendapat kenikmatan dalam sholat tersebut.

Selain itu, kita seharusnya mendisiplinkan ibadah kita di Bulan Ramadhan, jika perhari kita menargetkan 1 Juz maka dawamkanlah hal tersebut sesibuk apapun kita dan jika terlewat maka tunaikanlah itu di hari esoknya dengan tetap engkau lakukan targetmu pada hari tersebut (sebagaimana kita mengqodha' ibadah wajib kita yang terlewat).
Terkait sholawat tarawih, ikutilah pendapat jumhur empat madzhab dengan 20 raka'at dengan tanpa engkau menguranginya di setiap malam.
Demikian semoga Allah memberikan kita taufiq untuk beribadah sebaik mungkin di Bulan Ramadhan Mubarak ini.
Wallahu waliyuttaufiq.


(DISAMPAIKAN OLEH AL-HABIB ALI AL JUFRI
Share:

TADARRUS

Ajarkan Anak AlQuran
Tadarrus al Qur’an di bulan Ramadhan sangat dianjurkan agama . Jangan salah mengartikan tadarrus ini , karena makna tadarrus itu adalah :
“ Jika anda membacakan al Qur’an di hadapan orang lain dan dia menyimaknya , atau dia yang membaca alqur’an sementara anda menyimaknya .

Sehingga bukan sekedar anda membaca al Qur’an sendiri , karena membaca al qur’an sendiri ini sudah sangat di anjurkan pada setiap harinya tak perduli apakah Ramadhan ataukah tidak .

Kesunnahan membaca al Qur’an dengan sendiri atau membaca dengan tadarrus , tujuannya tidak lain adalah sama , yaitu memperbanyak membaca ayat – ayat suci alqur’an .

Namun secara khusus Tadarrus sangat di sunnahkan di praktekkan selama bulan puasa karena tersebut didalam shahih Bukhari – Muslim di riwayatkan bahwa : “ Setiap malam di bulan Ramadlan , Malaikat Jibril datang menemui Nabi SAW dan bertadarrus al Qur’an bersamanya.
Dengan cara apapun , yang paling besar pahalanya adalah setiap bacaan al Qur’an yang mampu menghadirkan hati ( khudhur ) , menumbuhkan hikmah serta cahaya didalamnya .

Allah Ta’ala berfirman : 
“ Sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu , yang diberkahi agar kamu bertadabbur atas ayat-ayatnya".
Firman Allah yang lain : “ Affala yatadabbaruunal Qur’an …
Apakah kalian tidak menghayati alqur’an ?

Para shahabat Nabi dan orang-orang shalih yang telah sampai kepada kemuliyaan derajat dan kebeningan hati yang tingggi , setiap kali mereka mendengarkan ayat-ayat alqur’an dibaca mereka langsung menangkap arti dan hikmah – hikmah di dalamnya , membuat maka hati mereka terguncang hebat , sampai sering kali mereka menangis sejadi – jadinya dan jatuh pinsan karenanya .

Karena itu Sayyidina Umar ra diriwayatkan tidak mampu untuk menghatamkan ( menghafalkan ) seluruh alqur’an selama hidupnya karena setiap kalii satu ayat dibacakan dihadapannnya , beliau seringkali tidak dapat menguasai diri dan jatuh pinsan sedemikian lama sehinggga orang –orangg di sekitarnya menyangka Sayyidina Umar telahh jatuh mati .
Bacaan al Qur’an yang seperti itulah yang membawa pahala yang tak terhingga . Bukan sekedar bacaan di ujung lidah dan bibir yang tidak memberikan pengaruh apapun kedalam hati pembaca atau pendengarnya .
Pada awal – awal perjalanan ruhaniyahnya , Sayyidinal Imam Abdullah al Haddad setiap kali membaca surah Yasin , maka beliau tidak dapat menguasai diri , menangis dan pinsan sedemikian rupa . Orang – orang pada susah membangunkannya dari pinsan itu dan akhirnya tubuh beliau digeletakkan begitu saja di dekat makam Sayyidinal Faqih Muqaddam .

Orang – orang kebanyakan seperti saya ( dan mungkin juga anda ) belum dapat merasakan al Qur’an sebagaimana yang mereka rasakan . Meskipun demikian , anjuran membaca al Qur’an tetap berlaku , karena setidaknya sudah mendapatkan pahala karena telah membaca atau mendengarkan ayat-ayat Firaman Allah Ta’ala.
Sudah cukup bagi orang – orang awam adalah niat itttiba                 ( mengikuti ) perintah agama . Ittiba’ membacanya dengan tartil , ini ada pahalanya sendiri .
Ittiba’ membacanya dengan menghadap kiblat , ini ada pahalanya juga .Ittiba’ membacanya dengan suara yang indah , ini juga ada .

Rasulullah SAW bersabda : “ Hiasilah alqur’an dengan merdunya suara kalian … Zayyinul Qur’a_na bias wa_tikum . “

“ Barang siapa yang tiada melagu dengan alQur’an maka bukanlah dia tergolong bagihan terbaik dari kita … Man lam yataghonna bil ur’ani falaysa minna .”

Asalkan bacaan – bacaan serta tadarrus tersebut tidak menghawatirkan munculnya Riya’ atau pamer . Maka sangat penting mengingatkan esensi ini kepada kebiasaan kaum muslimin negeri ini yang selama bulan Ramadlan seperti berlomba-lomba bertadarrus dengan pengeras suara di masjid dan mushalla – mushalla mereka .
Jangan sampai semangat menghidupkan bulan suci ini di ikuti dari belakang dorongan – dorongan rendah nafsu dengan tasannu’ dan berbuat Riya’
Kebanyakan para Habaib ( bahkan setiap bakda maghrib setiap harinya ) melakukan tadarrus di masjid atau mushalla mereka tanpa memakai pengeras suara berlebihan , karena hal itu lebih mendekatkan kepada ketulusan amal serta keikhlasannya.



  

Share:

Jumat, 19 Desember 2014

ABUYA PROFESOR MUHIBBUDIN WALY

Abuya Muhibbudin Waly tokoh mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Nangroe Aceh Darussalam.
ABUYA PROFESOR  MUHIBBUDIN WALY
Namanya Teungku     Dr. Muhibbudin Waly, putra dari Syaikh Muhammad Waly, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah Waliyah di tanah Rencong yang berasal dari nagari Minangkabau. Dari garis ayahandanya, yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Syaikh Muda Waly, mengalir darah ulama besar di Minang. Paman Syaikh Muda Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang wali Allah yang sangat termasyhur di tanah Minangkabau. Sebagaimana kedudukan pamannya, Syaikh Muda Waly juga mewarisi kharisma dan karomahnya. Konon beliau pernah memindahkan anaknya dari Minangkabau ke Aceh dalam sekejap mata. Syaikh Muda Waly, ayah Buya Muhibbudin adalah sahabat Syaikh Yasin al-Fadany Mekkah saat masih sama-sama berguru pada Sayyid Ali Al-Maliky, kakek dari Sayyid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky al-Maliky al-Hasany. Karena hubungan itu pula, ulama besar tersebut pernah mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Buya beberapa tahun lalu. Pertemuan berikutnya dengan Syaikh Yasin al-Fadani juga tidak berbeda. Sambil terus memegang tangannya, Syaikh Yasin kemudian memberikan ijazah atas semua hadits Rasulullah yang dikuasainya. Teungku Muhibbudin Waly belajar tarekat pertama kali dari ayahnya, yang membimbingnya meniti tarekat Naqsyabandiyah. Namun karena takzim, setelah dianggap cukup, Syaikh Muda Wali menyerahkan pengangkatan anaknya menjadi mursyid kepada gurunya, Syaikh Abdul Ghoni al-Kampary. Ahli Ushul Fiqh Saat itu di pesisir timur utara pulau Sumatera, ada dua orang guru mursyid besar yang tinggal di daerah Riau. Keduanya termasyhur min jumlatil aulia, termasuk golongan wali-wali Allah, yaitu Syaikh Abdul Ghoni Kampar yang murid-muridnya kebanyakan adalah para ulama dan Syaikh Abdul Wahhab Rokan yang murid-muridnya adalah orang-orang awam. Belakangan Buya Muhibbudin Waly juga mendapat ijazah irsyad, menjadi guru mursyid, Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dari ulama kharismatik KH. Shohibul Wafa` Tajul `Arifin (Abah Anom) pengasuh pesantren Suryalaya dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari guru besarnya Syaikh Muhammad Nadzim Al-Haqqany. Silaturahmi dan selalu belajar kepada para alim ulama memang sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging, bahkan hingga kini. Buya menceritakan nasihat ayahandanya, “Jika kau bertemu dengan orang alim, jangan pernah berdebat. Cukup dengarkan nasihatnya, bertanya seperlunya, minta doa dan ijazahnya lalu cium tangannya.” Syaikh Muhibbudin Waly mengambil gelar doktornya di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo dengan disertasi tentang Pengantar Hukum Islam. Waktu kuliahnya terbilang singkat yang diselesaikannya tahun 1971. Kini, setelah kesibukannya sebagai anggota DPR RI berakhir tahun 2004 lalu, Buya Muhibbudin Waly lebih banyak mengisi waktunya dengan mengajar tarekat, dan menulis. Saat ini ada beberapa buku tentang Tasawuf dan pengantar hukum Islam yang sedang ditulisnya, sambil menyempurnakan buku ensiklopedi Tarekat yang diberi judul Kapita Selecta Tarekat Shufiyyah. Waktu senggangnya juga dimanfaatkan untuk “meramu” tiga buah kitab yang diharapkan akan jadi pegangan para murid dan umat Islam pada umumnya. 
Tiga kitab tersebut adalah Tafsir Waly (Tafsir al-Quran), Fathul Waly (Syarah dari kitab Jauharatut Tauhid) dan Nahjatuh an-Nadiyah ila Martabat as-Shufiyyah (Sebuah kitab di bidang ilmu Tasawuf). Sebagai pewaris darah pujangga-pujangga Minangkabau, kemahirannya dalam menulis syair pun tak perlu diragukan lagi. Belum lama ini beliau mengijazahkan syair tawasul tarekat, yang digubahnya sendiri dalam dua bahasa Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan tentang proses perjalanan suluknya, yang diselingi dengan doa tawasul kepada para pendiri tarekat-tarekat besar dan guru-guru yang dimuliakannya. Kini, di usianya yang terbilang senja, Buya mengaku tidak lagi sekuat dulu dalam berkhidmah pada agama, nusa dan bangsa. Namun demikian beliau tetap berusaha melayani umat. Karena itu ia membagi jadwal kegiatan bulannannya menjadi tiga. Bulan pertama Buya tinggal di Jakarta, bulan kedua ia habiskan di Aceh dan bulan ketiga Tengku Muhibbudin melayani undangan ke daerah-daerah lain.

Allahummaghfirlahu warhamhu .
Share:

Kategori Artikel